Mengapa Dikatakan Generasi Sandwich

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai mengapa dikatakan generasi sandwich. Kalimat mengenai generasi sandwich sangat menjamur pada abad ini.

Mengapa Dikatakan Generasi Sandwich

Generasi sandwich ialah seseorang yang mempunyai kiprah ganda dalam masalah keuangan, sebab wajib membiayai 3 generasi, yaitu dirinya sendiri, orang tuanya, dan anak-anaknya.

Istilah mengenai generasi sandwich awalnya digunakan untuk merujuk wanita berusia 30–40 tahun yang harus merawat anak-anaknya sekaligus mencukupi kebutuhan orang tuanya, serta orang lain yang berada disekitarnya.

Para perempuan cenderung menyampaikan perhatian yang lebih intensif kepada orang tuanya dibandingkan dengan laki-laki. Mereka hanya memberikan dukungan yang bersifat mudah, contohnya memberikan uang.

Awalnya, generasi sandwich hanya terbatas kepada tanggung jawab finansial terhadap orang tua dan anak kandungnya saja.

Pengertian ini berkembang seiring berjalannya waktu dengan mencakup generasi yang berada diatas dan bawah mereka yang masih termasuk pada keluarga.

Keadaan ini dapat dianalogikan seperti sandwich: sepotong daging yang terhimpit oleh 2 butir roti.

Roti itu diibaratkan dengan orang tua (generasi atas) serta anak-anak (generasi bawah), sedangkan isi pokok dari sandwich berupa daging, saus, dan mayones yang terhimpit oleh roti diibaratkan dirinya sendiri.

Terdapat berbagai faktor diluar kontrol insan yang dapat memengaruhi korelasi dengan keluarga, yaitu temperamen bawaan yang wajib dihadapi dengan cara dipahami serta diarahkan, bukan untuk diubah.

Diberi panduan untuk mengetahui aneka macam komunikasi efektif serta yang tak efektif di dalam keluarga, seperti memerintah anak secara langsung yang ternyata kurang efektif.

Mengapa Dikatakan Generasi Sandwich

Berbagai Penyebab Adanya Generasi Sandwich

Faktor utama yang menyebabkan adanya generasi sandwich adalah minimnya literasi keuangan.

Banyak individu sebagai generasi pertama yang tidak mempersiapkan dana pensiun, sehingga generasi kedua perlu membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Pada waktu yang hampir berbarengan, generasi ke 2 sudah berkeluarga dan mempunyai tanggung jawab terhadap generasi ketiga.

Tingginya beban keuangan yang ditanggung generasi kedua sebagai generasi sandwich berdampak kepada ketidakmerataan distribusi beban finansial di antara 3 generasi.

Generasi pertama dan ketiga cenderung tidak merasakan beban finansial yang sama.

Hal ini yang menyebabkan seorang individu seharusnya mempunyai literasi keuangan untuk membantu dalam mengambil keputusan finansial.

Seperti membayar tagihan dan melakukan investasi sesuai dengan usianya.

Salah satu gambaran mengenai generasi sandwich di Indonesia adalah banyaknya orang yang merasa stres dan tertekan terhadap pengasuhan anak saat orang tuanya (neneknya) selalu ikut campur.

Mereka cenderung bersikap lebih baik menjauhkan pengasuhan anak dari neneknya. Karena untuk menghindari banyaknya pertarungan pengasuhan antara orang tua dengan nenek atau kakeknya.

Banyak famili Indonesia yang malah terjebak dalam generasi sandwich, yaitu famili yang pada dalamnya ada tiga generasi tinggal dalam satu tempat tinggal (ayah-ibu serta anak-anaknya).

Tanggung jawab finansial terhadap tiga generasi ini kenyataannya memang bisa mengakibatkan stres kepada individu menjadi generasi sandwich.

Pada akhirnya juga berdampak negatif pada kebiasaan orang tua serta anak-anaknya.

Terbatasnya pilihan keuangan sebagai generasi sandwich juga tak hanya membuat generasi sandwich baru, namun juga dapat menurunkan kualitas hidup.

Keputusan keuangan yang diambil oleh individu setiap hari memiliki dampak pada kualitas hidup secara holistik.

Hal ini nantinya jua berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya insan (sdm) secara nasional, terutama dalam bidang pendidikan serta kesehatan.