Apa Itu Eco Enzyme

Apa itu Eco Enzyme ?

Apa Itu Eco Enzyme? Kali ini kita akan membahas mengenai Eco Enzyme, karena eco enzyme ini merupakan kegiatan yang sangat baik dalam pengolahan sampah organik (sampah rumahan).

Eco enzyme merupakan cairan yang dihasilkan dari fermentasi sampah organik. Dari proses fermentasi ini, dihasilkan kandungan disinfektan karena kandungan alkohol dan senyawa kimia asam didalamnya.

Apa Itu Eco Enzyme

Bahan dasarnya ialah sampah-sampah organik, seperti kulit buah dan sayuran. Kemudian bahan dasar itu dipadu dengan gula dan air. Setelah itu, selebihnya adalah air yang disarankan ter-timbang secara proporsional. Terkait berapa komposisi yang pas untuk kuantitas sampah-gula-air, sejumlah praktisi memiliki referensi ukuran masing-masing. Diantaranya, ada yang menyarankan formula 3 (sampah rumahan) : 1 (gula) : 10 (air). Jadi, pastikan ter-timbang dengan baik.

Pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand Dr Rosukon Poompanvong menyebut, eco enzyme sebagai setetes air dari surga. Disebut demikian karena memiliki manfaat yang banyak.

Mampu Mengurai Limbah

Berdasarkan hasil penelitian, cairan eco enzyme bisa digunakan untuk menguraikan limbah. Diperkirakan 1 liter cairan eco enzyme dapat mengurai limbah hingga 1000 liter.  Tidak mengherankan jika cairan ini sedang gencar-gencarnya digunakan untuk proses normalisasi sungai. Diharapkan, dengan penggunaan eco enzyme yang ‘dituang’ ke sungai, lama-kelamaan kondisi sungai bisa kembali normal dan ekosistemnya menjadi ‘sehat’ kembali. Bayangkan bila hal serupa juga dilakukan secara serempak dan dalam skala luas. Misalnya, perusahaan besar atau industri rumahan penghasil limbah melakukan hal yang sama, diharapkan kondisi lingkungan akan mampu membaik meski butuh waktu panjang,

Bagaimana cara membuat eco enzyme?

Eco enzyme dibuat dari kulit buah-buahan seperti semangka, jeruk, pepaya, belimbing. Kulit buah-buahan tadi dicampur dengan molase dan air. Perbandingannya satu liter molase, dicampur dengan 3 Kg kulit buah-buahan dan 10 liter air. Molase adalah ampas dari pembuatan gula pasir berbahan dasar tebu, bahan ini bisa didapat di toko-toko pertanian, harganya bervariasi mulai dari Rp20.000 perliter. Molase juga dapat diganti menggunakan gula aren.

Bahan yang telah tercampur, lalu dimasukkan ke dalam wadah tertutup, tapi jangan sampai kedap. Berikan ruang untuk udara masuk di wadah tersebut karena fermentasi menghasilkan gas, sehingga perlu cukup rongga agar gas bisa keluar dari wadah. Proses fermentasi ideal berlangsung selama tiga bulan (90 hari). Karena waktu pemrosesan yang cukup lama, maka pastikan wadah sudah diberi tanda, misalnya tanggal. Sehingga, kita bisa mengetahui kapan persisnya fase awal dan akhir dari proses fermentasi eco enzyme tersebut.

Setelah diendapkan selama tiga bulan, eco enzyme sudah bisa dipanen. Sebelum memanen eco enzyme, persiapkan terlebih dahulu peralatan yang dibutuhkan, seperti corong, jerigen, ember bekas cat, saringan, dan gayung. Air dari eco enzyme diambil dengan cara disaring. Sisa kulit buah-buahannya bisa dipakai pupuk organik sampai pengharum ruangan.

Manfaat Eco Enzyme

Eco enzyme bisa dimanfaatkan sebagai penyanitasi tangan atau hand sanitizer, mengepel lantai atau desinfektan, bisa untuk penetral udara di ruangan memakai diffuser, membersihkan kolam air, kaca, permukaan perabot plastik, mencuci buah dan sayuran, dan masih banyak lagi.

Jadi, ada benarnya jika dikatakan bahwa perbaikan lingkungan dimulai dari hal-hal kecil. Yuk, mulai dari sekarang melakukan gerakan kecil secara mandiri membuat eco enzyme dirumah.

Field Study dan Manfaatnya

Pada kesempatan kali ini admin akan membahas mengenai Field study dan manfaatnya. Kegiatan field study ini banyak dilakukan oleh para siswa mulai dari taman kanak-kanak sampai mahasiwa.

Definisi Field Study

Field Study dan Manfaatnya

Menurut Bevan dan Sharon (2009), field study atau studi lapangan adalah metode pembelajaran melalui pengumpulan data secara langsung dengan pengamatan, wawancara, mencatat, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Field study dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memeriksa permasalahannya di lapangan, mengevaluasi manfaat dari ide-ide yang disajikan dalam kelas, dan untuk mendidik siswa dalam melakukan observasi serta penyelidikan secara natural. Studi lapangan juga menawarkan siswa terkait kesempatan proyek pengumpulan data, teori pengujian, dan intervensi sosial.

Istilah lain dari field study adalah karyawisata (field trip). Menurut Suprijanto (2009), karyawisata biasanya berhubungan dengan kegiatan mengunjungi beberapa tempat menarik serta membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kunjungan lapangan atau field study. Karyawisata adalah proses pembelajaran yang dilakukan dengan mengajak peserta didik keluar kelas untuk dapat menunjukkan hal-hal atau peristiwa yang ada hubungannya dengan materi, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah.

Berdasarkan beberapa pengertian itu, maka dapat disimpulkan bahwa field study atau fieldtrip atau outdoor learning adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu yang telah ditentukan sebelumnya, dengan melakukan pengamatan yang bertujuan memberikan pengalaman secara langsung.

Tujuan dilaksanakan field study yaitu agar peserta didik memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya dan dapat turut mendalami pekerjaan milik seseorang. Dengan jalan demikian, mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. Selain itu, peserta didik akan dapat melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, sekaligus mempelajari beberapa mata pelajaran.

Manfaat Field Study

Beberapa manfaat dari field study menurut Suprijanto (2009: 132-133) adalah:

  1. Memberikan kesempatan untuk dapat mengumpulkan pengalaman dan informasi baru;
  2. Benda-benda dapat diamati dalam bentuk aslinya;
  3. Tiga dimensi, warna alami, dan gerakan gerakan dapat diamati;
  4. Minat dan ketelitian pengamatan anggota dapat ditumbuhkan;
  5. Kesempatan dapat diberikan kepada peserta untuk belajar sambil bekerja;
  6. Prosedur dapat diamati, yang nantinya dapat diterapkan oleh peserta; serta,
  7. Memberi kesempatan kepada peserta untuk menggabungkan pelajaran disekolah dengan yang didapat di lingkungan.

Field study menerapkan prinsip-prinsip pengajaran modern yang mana memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran. Peserta didik dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para instruktur maupun guru pembimbing serta mengalami langsung apa yang dilakukan, memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi dan terpadu, serta membuat materi yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat, serta tentunya juga dapat lebih merangsang kreativitas peserta didik.

Demikianlah pembahasan mengenai definisi field study dan manfaatnya, semoga pengetahuan kita selalu bertambah dengan rajin membaca.