Peran Psikologi Pendidikan Bagi Pembelajaran

Peran psikologi pendidikan bagi pembelajaran merupakan hal yang cukup penting. Keterlibatan peserta didik yang menjadi objek lembaga pendidikan mengharuskan psikologi ikut andil di dalamnya untuk mengidentifikasi kriteria atau sistem pendidikan yang layak. Untuk itu di bawah ini akan dijelaskan apa saja peran-peran psikologi bagi pendidikan.

Peran psikologi pendidikan bagi aktivitas pembelajaran

Peran Psikologi Pendidikan Bagi Pembelajaran

Dari keseluruhan peran psikologi di bidang pendidikan, hampir semuanya merupakan peran yang diprioritaskan untuk meningkatkan kapasitas tenaga pendidik dalam mengajar. Hal ini dikarenakan tenaga pendidik sangat menentukan keberhasilan sistem belajar mengajar. Jika sistem tersebut dapat ditingkatkan maka akan berdampak pada kualitas pendidikan itu sendiri. Sehingga peserta didik dapat memperoleh pendidikan yang memadai.

  • Merumuskan tujuan pembelajaran yang tepat

Keberadaan psikologi pendidikan dapat menjadi pedoman dalam perumusan tujuan pembelajaran. Psikologi memberikan akses bagi lembaga pendidikan maupun tenaga pengajar untuk memahami target-target yang relevan terhadap proses kegiatan belajar mengajar.

Langkah ini tidak lepas dari perbedaan karakteristik masing-masing individu yang secara khusus merupakan peserta didik. Perumusan tujuan pembelajaran yang berdasarkan prinsip psikologi bisa membuatnya sesuai dengan semua karakteristik yang ada dan dapat diterima oleh seluruh peserta didik.

  • Menyusun metode pembelajaran yang sesuai

Setelah memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, psikologi pendidikan juga berperan dalam mengatur strategi yang tepat dalam proses kegiatan belajar mengajar. Tentu saja metode tersebut sejalan dengan tujuan pembelajaran apabila didasari atas prinsip psikologi pendidikan.

Adanya psikologi memungkinkan tenaga pengajar mampu mendalami kondisi serta kebutuhan pendidikan. Sehingga penentuan metode atau gaya pembelajaran dapat disesuaikan dengan keunikan masing-masing individu beserta tingkat perkembangan yang dialami peserta didik.

  • Memberikan pendampingan terhadap pendidikan

Psikologi pendidikan dapat juga berperan sebagai bimbingan konseling dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan tugas serta peran pendidik yang mana tenaga pengajar tidak hanya memberikan pelajaran namun juga bimbingan.

Melalui langkah ketiga ini tenaga pendidik dapat memberikan pendampingan berupa bantuan psikologis melalui hubungan interpersonal antara guru dengan muridnya. Dengan begitu proses eksplorasi terhadap peserta didik dapat dimaksimalkan. Sehingga tenaga pendidik dapat memberikan apa yang dibutuhkan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

  • Menstimulus proses kegiatan belajar mengajar

Dalam proses kegiatan belajar mengajar harus ada stimulus untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Adapun stimulus yang dimaksud dapat berupa fasilitas dan juga motivasi. Dua elemen inti sangat penting ketika bakat dan kecerdasan masing-masing individu sedang dibentuk.

Pengadaan akan fasilitasi maupun motivasi tidak akan berjalan dengan baik jika mengabaikan psikologi pendidikan. Maka dari itu psikologi harus diterapkan sebagai landasan yang dipakai ketika seorang tenaga pendidik menjadi fasilitator sekaligus motivator bagi peserta didiknya.

  • Membangun lingkungan pendidikan yang kondusif

Proses kegiatan belajar mengajar tentu dapat berjalan secara maksimal apabila lingkungan pendidikan dalam keadaan kondusif. Dalam artian efektivitas pembelajaran sangat memadai, hal itu bisa dibuktikan dengan indikator kenyamanan peserta didik selama menempuh pendidikan.

Maka untuk mewujudkan kekondusifan tersebut ada beberapa hal penting sebagai wujud dari peran psikologi pendidikan bagi efektivitas pembelajaran. Hal-hal tersebut meliputi suasana pembelajaran, interaksi atau komunikasi, kebijakan lembaga pendidikan, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bidang pendidikan.

 

Demikian peran psikologi pendidikan bagi pembelajaran. Penerapan psikologi pendidikan dipastikan dapat membuat proses kegiatan belajar mengajar jadi lebih maksimal. Sebaliknya, ketidakadanya juga membuat aktivitas pembelajaran tidak mampu menunjang pendidikan dengan baik.

Disfungsi Keluarga dan Akibatnya

Pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai disfungsi keluarga dan akibatnya. Peran keluarga sangat penting dalam kehidupan seorang individu apalagi seorang anak. Akan terjadi banyak sekali masalah jika seorang anak mengalami disfungsi keluarga dalam hidupnya. Berikut ini diberikan contoh kasus disfungsi keluarga, dan apa fungsi keluarga serta karakteristik keluarga disfungsi.

Rio sedang menikmati satu linting ganja di rumah pamannya saat polisi datang menggerebek rumah tersebut. Ia, paman, dan dua orang teman pamannya itu sedang berpesta. Rio tinggal bersama ibunya yang merupakan orang tua tunggal. Ayah dan ibunya bercerai sejak usianya 10 tahun dan telah menikah lagi. Semenjak mengkonsumsi narkoba, Rio kerap menjual barang-barang rumah tangga di rumah milik ibunya seperti gas, tv, dan barang lainnya. Ia mengaku rumah nya kemalingan agar ibunya tidak curiga.

Sementara itu, Nia, 17 tahun, telah menjalani rehabilitasi sosial selama satu bulan di Balai Rehabiilitasi Sosial Anak. Dia dan dua temannya dibawa ke Balai karena terlibat dalam prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur, termasuk dirinya. Sama seperti Rio, ayah dan ibu Nia sudah lama berpisah. Ia diasuh oleh neneknya sejak usia nya 5 tahun. Ibu dan ayahnya sudah menikah lagi dan memiliki keluarga masing-masing. Ia mengaku terpaksa terlibat prostitusi karena butuh uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Sejak neneknya meninggal dua tahun lalu, Nia tinggal sendiri dikos-kosan, oleh karena itu dia butuh uang agar bisa bertahan hidup.

Di sisi lain, ada Dio, 16 tahun, yang sudah hidup di jalan sejak dua tahun lalu. Dio memutuskan keluar dari rumah karena tidak tahan atas tindak kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya. Ia dan adik-adiknya menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayah kepada ibunya. Ia bahkan masih ingat bagaimana ayahnya membenturkan kepalanya ke tembok karena ia membela ibunya. Sebelum tinggal di jalan, Dio tinggal di rumah neneknya. Ia kerap mencoba menghubungi ayah atau ibunya untuk sekedar meminta uang jajan. Terakhir ia meminta uang Rp. 50.000 untuk berobat namun tidak digubris. Kekecewaan ini akhirnya membuat Dio memutuskan untuk mengurus hidupnya sendiri dengan turun ke jalan dan menjadi pengamen, uangnya ia gunakan untuk makan, membeli rokok, dan juga membeli obat-obatan terlarang seperti eksimer.

Tiga kasus di atas memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama memiliki keluarga yang disfungsional dan lingkungan yang mendukung perilaku negatif. Anak-anak pada kasus di atas berasal dari keluarga dengan latar belakang yang tidak kondusif untuk perkembangan mereka. Dua anak berasal dari keluarga broken home, sedangkan satu anak (walaupun kedua orang tuanya masih bersama) memiliki orang tua yang abusive.

Pada hakikatnya, keluarga adalah unit sosial terkecil yang bertanggung jawab pada stabilitas dan kontinuitas suatu masyarakat. Keluarga menjadi cikal bakal komunitas yang besar. Sulit membayangkan bagaimana suatu komunitas atau masyarakat dapat terbentuk atau bertahan tanpa adanya keluarga.

Disfungsi Keluarga dan Akibatnya

Fungsi Keluarga

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terdapat delapan fungsi keluarga yang menjadi prasyarat, acuan, dan pola hidup setiap keluarga untuk mewujudkan keluarga sejahtera dan berkualitas. Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi, ekonomi, dan lingkungan.

  • Fungsi agama
    Keluarga adalah tempat penanaman nilai agama sejak dini agar anak tumbuh menjadi karakter yang agamais, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keluarga juga menjadi tempat pengenalan nilai-nilai budaya bangsa yang sarat akan nilai dan adab ketimuran. Anak kelak akan tumbuh menjadi warga negara Indonesia, dan ini akan melekat padanya, sehingga ia harus memahami bagaimana budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsanya sendiri.
  • Fungsi cinta dan kasih sayang.
    Afeksi dari orang tua adalah kebutuhan paling utama bagi anak-anak. Interaksi yang saling menyayangi dan penuh kasih antar keluarga akan menjadikan keluarga dan rumah sebagai tempat paling berharga bagi anak.
  • Fungsi perlindungan
    Keluarga adalah tempat berlindung dan pelindung paling utama. Anak seharusnya merasakan rasa aman dan nyaman saat bersama keluarga.
  • Fungsi sosialisasi
    Keluarga juga merupakan tempat sosialisasi pertama bagi anak. Di sini lah fungsi keluarga sangat dibutuhkan. Fungsi sosialisasi yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan anak yang cerdas secara kognitif dan membentuk peribadi yang berkarakter mulia.
  • Fungsi lingkungan
    Yaitu fungsi mempromosikan dan mendorong kesadaran anak akan  pentingnya lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman.
  • Fungsi reproduksi
    Keluarga menjadi tempat untuk memperkenalkan dan menanamkan fungsi reproduksi. Reproduksi yang sehat dan terencana akan melahirkan generasi penerus yang baik dan berkualitas.
  • Fungsi ekonomi
    Orangtua wajib memberikan nafkah atau memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi. Keluarga juga merupakan tempat untuk membina dan menanamkan nilai-nilai keuangan. Tidak hanya itu, keluarga diharapkan dapat membina perencanaan keuangan keluarga sehingga terwujud keluarga yang sejahtera.

Apabila keluarga tidak mampu menerapkan fungsi-fungsi di atas, maka keluarga tersebut dapat dikatakan mengalami disfungsi yang berpotensi merusak kekokohan keluarga yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang, dan kepribadian anak.

Karakteristik Keluarga Disfungsi

Menurut Hawari (2004) terdapat beberapa karakteristik keluarga disfungsional, yaitu :

  • Adanya kematian salah satu atau kedua orangtuanya
  • Kedua orangtua berpisah atau bercerai (divorce)
  • Hubungan kedua orangtua tidak baik (poor marriage)
  • Hubungan orangtua dengan anak tidak baik (poor parent–child relationship); Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan (high tension and low warmth)
  • Orangtua sibuk dan jarang berada di rumah (parent’s absence)
  • Salah satu atau kedua orangtua memiliki kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan (personality or psychological disorder).

Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara disfungsi keluarga dengan gangguan tingkah laku pada anak. Semakin tinggi tingkat difungsi keluarga, maka semakin tinggi pula resiko anak mengalami gangguan perilaku. Selain itu, ketidakberfungsian keluarga juga berkontribusi pada faktor yang menyebabkan anak terlibat dalam perbuatan kriminal.

Terdapat beberapa situasi keluarga dimana anak-anak beresiko menjadi anak nakal, yaitu dimana anak-anak merasa tidak diterima atau ditolak oleh orang tua, tidak dikontrol  secara memadai oleh orang tua, dan tumbuh di rumah dengan banyak konflik. Penolakan orang tua adalah hal yang paling berpengaruh pada kenakalan remaja. Penolakan ini bisa berbentuk tidak adanya perhatian pada aktivitas sehari-hari anak. Orang tua perlu mengetahui dimana anak berada, dengan siapa, dan apa yang dilakukannya, agar anak merasa diperhatikan.

Meskipun demikian, kenakalan dan tindakaan kriminal yang dilakukan remaja cenderung disebabkan oleh perkembangan normatif yang tidak tuntas. Anak tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, merasa tidak perlu mematuhi standar norma dan niai yang berlaku di masyarakat, dan tidak menunjukkan rasa hormat pada hak dan kesejahteraan orang lain. Selain itu, tidak semua anak-anak yang tumbuh dalam keluarga disfungsional menjadi anak nakal dan berbuat kriminal.

Namun pada akhirnya, keluarga lah yang berperan penting dalam menanamkan nilai moral pada anak. Pengasuhan yang baik adalah tiang dan penyangga yang akan mencegah perilaku negatif dan membantu remaja dalam melindungi diri dari kenakalan yang lebih buruk.

Demikianlah pembahasan mengenai disfungsi keluarga dan akibatnya, semoga dapat menjadi inspirasi para pembaca untuk lebih mengenal lingkungan sekitar.

*nama anak pada kasus disamarkan
Sumber : Pusat Penyuluhan Sosial, Kementerian Sosial

Pentingnya Penyesuaian Diri Bagi Mahasiswa Baru

Pentingnya penyesuaian diri bagi mahasiswa baru merupakan salah satu hal yang sangat penting dilakukan untuk dapat bersosialisasi di lingkungan yang baru.

Agustiani (2009) menyatakan bahwa saat melewati setiap tahap perkembangan, seseorang mengalami berbagai perubahan yang berasal dari dalam dan luar dirinya, seperti aspek biologis, aspek kognitif, aspek lingkungan, dan aspek sosio-emosional. Hal tersebut dapat memunculkan permasalahan tersendiri. Seseorang akan mampu mengatasi permasalahan tersebut jika dirinya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri.

Pentingnya Penyesuaian Diri Bagi Mahasiswa Baru

Apa Itu Penyesuaian Diri?

Penyesuaian diri merupakan proses yang terdiri dari respon mental dan perilaku sebagai usaha seseorang untuk mengatasi serta menyelaraskan kebutuhan, harapan, dan tuntutan yang berasal dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitarnya melalui upaya-upaya tertentu (Schneiders, 1964; Agustiani, 2009).

Pentingnya Menyesuaikan Diri di Perguruan Tinggi

Saat memasuki lingkungan baru, setiap orang akan menghadapi situasi yang mendorongnya untuk melakukan penyesuaian diri, termasuk mahasiswa baru. Mahasiswa baru diarahkan untuk mengikuti kegiatan akademik dan non- akademik. Selain kegiatan perkuliahan di dalam kelas, mahasiswa baru juga diarahkan untuk mengikuti kegiatan lain seperti orientasi mahasiswa baru dan organisasi kemahasiswaaan.

Namun bagi sebagian mahasiswa baru, berada di perguruan tinggi dapat menjadi situasi yang dipenuhi oleh perubahan dan stres. Mahasiswa baru mengalami top- dog phenomenon, dimana sebelumnya mahasiswa baru yang merupakan siswa senior di Sekolah Menengah Atas (SMA) kembali menjadi mahasiswa junior di perguruan tinggi (Santrock, 2007). Perbedaan kurikulum, disiplin, hubungan  sosial, gaya hidup, cara belajar, tugas-tugas, target pencapaian nilai, dan hal-hal lain menyebabkan mahasiswa kesulitan dalam tahun pertama perkuliahannya (Santrock, 2007).

Penelitian yang dilakukan oleh Ababu, Yigzaw, Besene, dan Alemu (2018) juga menemukan bahwa mahasiswa baru mengalami kesulitan menyesuaikan diri di perguruan tinggi akibat homesickness (distres yang dialami karena berada jauh dari rumah), kesulitan bersosialisasi atau berkenalan dengan orang baru, serta kesulitan mengatur waktu dan kemampuan belajar. Hal-hal tersebut dapat menjadi masalah yang menyebabkan mahasiswa baru kesulitan menyesuaikan diri di perguruan tinggi.

Meskipun demikian, mahasiswa baru juga mendapatkan dampak positif dari proses penyesuaian diri. Dampak positif tersebut muncul dalam bentuk kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi lebih dewasa, memiliki lebih banyak pilihan terkait mata kuliah dan kegiatan yang diikuti, memiliki lebih banyak waktu bersama teman-teman, memiliki kesempatan untuk mencoba nilai dan gaya hidup yang baru, mendapatkan lebih banyak kebebasan dari pengawasan orangtua, serta lebih tertantang oleh tugas kuliah (Halonen & Santrock, 2010). Mahasiswa dikatakan berhasil menyesuaikan diri ketika mereka tetap tinggal di perguruan tinggi, memiliki kesejahteraan psikologis yang baik, dan menunjukkan hasil yang memuaskan secara akademis (Lapsley & Edgerton, 2002).

Maka dari itu, penting bagi setiap mahasiswa baru untuk mengembangkan penyesuaian diri. Mahasiswa dengan penyesuaian diri yang baik merasakan lebih sedikit tekanan sementara mahasiswa dengan penyesuaian diri yang buruk mengalami kesulitan dalam tahun pertama perkuliahannya dan cenderung berperilaku defensif (Hurlock, 1980; Lapsley & Edgerton, 2002).

Bagaimana Cara Menyesuaikan Diri di Perguruan Tinggi?

Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh mahasiswa baru untuk mengembangkan penyesuaian diri di perguruan tinggi (Hadijah, 2018; Sunarto & Hartono, 2018). Cara yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Menggali kemampuan diri

Mahasiswa baru dapat menuliskan kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya untuk memperoleh gambaran terkait potensi yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. Hal ini tidak terbatas hanya pada kelebihan dan keterbatasan pada bidang akademik, tetapi juga cara membentuk dan mempertahankan relasi dengan orang-orang yang ada di lingkungan perguruan tinggi, seperti mahasiswa lain, dosen, dan pegawai.

Mahasiswa baru juga perlu mencari informasi tentang kegiatan-kegiatan yang ada di perguruan tinggi yang dapat menambah pengalamannya seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan acara yang diadakan di lingkungan perguruan tinggi, dan lomba-lomba seperti karya tulis ilmiah, debat, Liga Mahasiswa, dan sebagainya.

  1. Menyusun perencanaan yang cermat

Berdasarkan pengetahuan terhadap kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki serta informasi tentang kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa baru dapat menyusun rencana tentang tujuan yang ingin dicapai selama berada di perguruan tinggi. Ketika menentukan tujuan, mahasiswa baru juga harus mempertimbangkan faktor-faktor yang berpotensi mendukung maupun menghalanginya untuk mencapai tujuan tersebut.

Mahasiswa baru perlu menyadari bahwa tujuan yang ingin dicapai sebaiknya realistis namun menantang yang mendorongnya untuk bergerak mencapai tujuan yang telah ditentukan. Apabila mahasiswa baru langsung menentukan tujuan yang terlalu sulit, mahasiswa baru dapat menghadapi lebih banyak hambatan dalam upaya mencapai tujuannya.

  1. Melewati proses trial and error atau coba-coba

Setelah menyusun rencana, mahasiswa baru dapat mencoba berpartisipasi dalam beberapa kegiatan yang ada di perguruan tinggi. Saat hasil yang didapatkan dianggap menguntungkan, mahasiswa baru dapat meneruskannya. Ketika hasilnya dianggap kurang menguntungkan, mahasiswa baru dapat berhenti mengikuti kegiatan tersebut. Ketika melewati proses ini, mahasiswa baru juga dapat berkenalan dengan mahasiswa lain yang dapat membantu membangun serta menjalin relasi di perguruan tinggi.

Mahasiswa baru yang melewati proses trial and error juga perlu melakukan penyesuaian terhadap rencana yang telah disusun sebelumnya berdasarkan situasi yang dihadapi.

  1. Melakukan eksplorasi

Jika pada proses trial and error mahasiswa baru lebih cenderung mencoba kegiatan yang ada di perguruan tinggi, proses eksplorasi lebih menekankan pada tingkat berpikir yang lebih tinggi. Saat melakukan eksplorasi, mahasiswa baru lebih fokus pada kegiatan yang sesuai dengan minat, tujuan, dan kemampuannya.

Mahasiswa baru dapat melakukan eksplorasi di UKM, organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan, maupun lomba-lomba. Hal ini kembali kepada pertimbangan mahasiswa baru sehingga mahasiswa baru dapat  meningkatkan keterampilan dan pengetahuan serta mendapatkan teman- teman baru yang dapat membantu untuk menyesuaikan diri di perguruan tinggi.

  1. Secara langsung menghadapi masalah yang muncul

Seperti ketika melakukan kegiatan-kegiatan lain, mahasiswa baru yang berupaya mengembangkan penyesuaian diri juga akan menghadapi permasalahan, baik permasalahan yang datang dari diri sendiri maupun permasalahan yang muncul akibat interaksi dengan orang lain. Ketika hal tersebut terjadi, mahasiswa baru sebaiknya menghadapi permasalahan dan konsekuensinya secara langsung serta meminimalisir munculnya perilaku defensif, agresif, maupun menghindari terhadap permasalahan yang ada. Permasalahan yang dihadapi juga perlu diselesaikan dengan cara yang paling sesuai dengan situasi pada saat itu. Selain menghadapi masalah yang muncul, penting bagi mahasiswa baru untuk berusaha menemukan alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

  1. Melakukan pengendalian diri

Ketika berada lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa baru perlu mengendalikan dirinya dalam berperilaku dan mengekspresikan emosinya. Mahasiswa baru perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda dari dirinya. Jika mahasiswa baru mampu mengendalikan diri, mahasiswa baru juga akan mampu menanggapi situasi yang dihadapi secara rasional ketika berinteraksi dengan orang lain dan mencegah atau meminimalisir munculnya konflik.

Penyesuaian diri di perguruan tinggi memberikan tantangan tersendiri bagi mahasiswa baru. Namun perlu diingat kembali bahwa setiap orang memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk menyesuaikan diri dilingkungan baru. Mahasiswa baru tidak perlu berkecil hati ketika mengalami kegagalan atau merasa bahwa dirinya lebih lambat menyesuaikan diri dibandingkan dengan mahasiswa yang lain. Selama adanya upaya untuk menyesuaikan diri, pada akhirnya mahasiswa baru juga akan mampu mengembangkan penyesuaian diri yang dapat membantunya selama menjalankan perannya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi.

Demikian pembahasan mengenai pentingnya penyesuaian diri bagi mahasiswa baru, semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat.

Kesehatan Mental Pada Anak

Kesehatan mental pada anak merupakan salah satu hal terpenting yang harus diperhatian bagi orangtua maupun lingkungan sekitar, karena kesehatan mental tersebut akan berpengaruh pada perkembangan anak yang semakin dewasa. Pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai kesehatan mental pada anak dan bagaimana kontribusi bidang psikologi untuk kesehatan mental pada anak.

Kesehatan Mental Pada Anak

Mengapa Kesehatan Mental Pada Anak Penting?

Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan anak secara keseluruhan, memiliki hubungan interaktif yang kompleks dengan kesehatan fisik mereka dan kemampuan mereka untuk berhasil di sekolah, di tempat kerja, dan di masyarakat. Baik kesehatan fisik maupun mental memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak di dalam dan di luar.

Misalnya, seorang anak laki-laki yang kelebihan berat badan yang diejek tentang berat badannya dapat menarik diri secara sosial dan menjadi depresi dan mungkin enggan bermain dengan orang lain atau berolahraga, yang selanjutnya berkontribusi pada kesehatan fisiknya yang lebih buruk dan sebagai akibatnya kesehatan mentalnya lebih buruk. Isu-isu ini memiliki implikasi jangka panjang pada kemampuan anak-anak dan remaja untuk memenuhi potensi mereka serta konsekuensi bagi kesehatan, pendidikan, tenaga kerja dan sistem peradilan pidana masyarakat kita.

Semua anak dan remaja memiliki hak untuk hidup bahagia, sehat dan berhak mendapatkan akses ke perawatan yang efektif untuk mencegah atau mengobati masalah kesehatan mental yang mungkin mereka kembangkan. Namun, ada sejumlah besar kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan kesenjangan kesehatan terutama terlihat pada anak-anak dan remaja yang tinggal di komunitas berpenghasilan rendah, pemuda etnis minoritas atau mereka yang berkebutuhan khusus.

Berapa Banyak Anak yang Mengalami Gangguan Kesehatan Mental?

Diperkirakan 15 juta anak muda saat ini dapat didiagnosis dengan gangguan kesehatan mental. Banyak lagi yang berisiko mengalami gangguan karena faktor risiko dalam biologi atau genetika mereka; dalam keluarga, sekolah, dan komunitas mereka; dan di antara rekan-rekan mereka. Ada kebutuhan besar bagi profesional kesehatan mental untuk memberikan perawatan terbaik yang tersedia berdasarkan bukti ilmiah, keahlian klinis yang baik, dan yang mempertimbangkan karakteristik unik anak atau remaja. Namun, diperkirakan hanya sekitar 7 persen dari remaja yang membutuhkan layanan ini menerima bantuan yang sesuai dari profesional kesehatan mental (Dept of Health and Human Services, 2001 — Report of the Surgeon General’s Conference on Children’s Mental Health: A National Action Agenda).

Apa yang Ditawarkan Psikologi?

Penelitian di bidang psikologi telah berkontribusi pada pengembangan pengobatan dan pencegahan gangguan kesehatan mental yang lebih efektif pada anak-anak, remaja, dan keluarga, termasuk program yang menargetkan ibu hamil, anak-anak di lingkungan sekolah, dan transisi remaja ke masa dewasa dan program yang bekerja pada tingkat berikut:

  1. Individu
    Misalnya, terapi atau konseling bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental.
  2. Rekan
    Misalnya, program pembelajaran dengan bantuan teman sebaya yang ditujukan untuk meningkatkan membaca, matematika, dan sains
  3. Keluarga
    Misalnya, pendidikan orang tua tentang kebutuhan anak-anak pada setiap tahap perkembangan
  4. Sekolah
    Misalnya, strategi untuk guru untuk manajemen kelas yang efektif
  5. Masyarakat
    Misalnya, program pencegahan kekerasan yang dikelola melalui komunitas/pusat rekreasi atau gereja.
  6. Sistemik
    Misalnya, koordinasi layanan di bidang kesehatan, peradilan anak, pendidikan, dan sistem perlindungan anak.

Psikolog yang bekerja dengan anak-anak dan remaja juga dilatih untuk mempertimbangkan pertimbangan perkembangan pada:

Identitas, Emosional, Sosial, Kognitif dan Basis Biologis.

Budaya, etnis dan bahasa juga memediasi perilaku anak-anak dan remaja dalam berbagai cara dan akibatnya mempengaruhi metode pencegahan dan pengobatan gangguan kesehatan mental.

Psikolog telah mengembangkan alat untuk menilai risiko dan faktor pelindung untuk kesehatan mental anak-anak dan remaja, untuk menguji mereka untuk masalah perilaku atau emosional, dan untuk terus memantau kemajuan pengobatan.

Psikolog juga telah merancang program yang secara efektif melibatkan keluarga, sekolah dan masyarakat, yaitu, dukungan sosial kritis yang dapat menjamin kesejahteraan yang langgeng bagi anak-anak dan pemuda. Misalnya, satu program yang berpusat pada keluarga yang sukses yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan alkohol pada praremaja melibatkan orang tua dan pengasuh dengan melatih mereka tentang keterampilan mengasuh anak seperti menetapkan batasan, mengungkapkan harapan yang jelas tentang penyalahgunaan zat, komunikasi dan disiplin sementara juga secara bersamaan melatih remaja tentang keterampilan resistensi dan bagaimana mengembangkan sikap negatif terhadap alkohol.

Bagaimana Seseorang Menemukan Psikolog untuk Anak-anak dan Remaja?

Psikolog yang bekerja dengan anak-anak dan remaja dapat ditemukan di banyak tempat :

  1. Sekolah
  2. Pusat kesehatan masyarakat
  3. Rumah sakit yang bekerja sama dengan dokter anak dan psikiater
  4. Pusat penelitian
  5. Praktik swasta

Faktor-faktor Kenakalan Remaja

Setelah membaca apa itu pengertian remaja dan bagaimana karakteristik remaja, pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai faktor-faktor kenakalan remaja. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja, diantaranya akan dijelaskan pada artikel dibawah ini.

Faktor-faktor kenakalan remaja menurut santrock, sebagai berikut :

faktor-faktor kenakalan remaja

  1. Faktor Kepribadian

    Faktor kepribadian, merupakan faktor yang muncul dari dalam diri remaja. Berkaitan dengan faktor kepribadian, kenakalan remaja selalu diasosiasikan dengan ciri perkembangan mereka yakni rasa ingin tahu, proses identifikasi agar terlihat seperti dewasa dan ingin terlihat gagah.

  2. Faktor Teman sebaya

    Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan risiko remaja untuk menjadi nakal.Pada sebuah penelitian santrock (1996) terhadap 500 pelaku kenakalan dan 500 remaja yang tidak melakukan kenakalan di Boston, ditemukan persentase kenakalan yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan regular dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan.

  3. Faktor Orang tua

    Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.

  4. Kontrol Diri dalam faktor-faktor kenakalan remaja

    Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Hasil penelitian yang dilakukan Santrock, menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Pola asuh orangtua yang efektif di masa kanak- kanak berhubungan dengan dicapainya pengaturan diri oleh anak. Selanjutnya, dengan memiliki keterampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kenakalan remaja.

  5. Faktor Usia

    Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan, seperti hasil penelitian dari McCord (dalam Kartono, 2003) yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa, mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya. Paling sedikit 60% dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun.

  6. Jenis Kelamin dalam faktor-faktor kenakalan remaja

    Remaja laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku anti sosial daripada perempuan. Menurut catatan kepolisian, pada umumnya jumlah remaja laki-laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang remaja perempuan.

  7. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah

    Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan disekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak mempunyai motivasi untuk sekolah.

  8. Kelas Sosial ekonomi

    Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah dengan perbandingan jumlah remaja nakal di antara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50:1 (Kartono, 2003).

  9. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal

    Faktor yang paling berperan menyebabkan timbulnya kecenderungan kenakalan remaja adalah keluarga yang kurang harmonis dan faktor lingkungan terutama teman sebaya yang kurang baik, karena pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan rumah dan menuju teman sebaya, sehingga minat, nilai, dan norma yang ditanamkan oleh kelompok lebih menentukan perilaku remaja dibandingkan dengan norma, nilai yang ada dalam keluarga dan masyarakat.