Mengapa Dikatakan Generasi Sandwich

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai mengapa dikatakan generasi sandwich. Kalimat mengenai generasi sandwich sangat menjamur pada abad ini.

Mengapa Dikatakan Generasi Sandwich

Generasi sandwich ialah seseorang yang mempunyai kiprah ganda dalam masalah keuangan, sebab wajib membiayai 3 generasi, yaitu dirinya sendiri, orang tuanya, dan anak-anaknya.

Istilah mengenai generasi sandwich awalnya digunakan untuk merujuk wanita berusia 30–40 tahun yang harus merawat anak-anaknya sekaligus mencukupi kebutuhan orang tuanya, serta orang lain yang berada disekitarnya.

Para perempuan cenderung menyampaikan perhatian yang lebih intensif kepada orang tuanya dibandingkan dengan laki-laki. Mereka hanya memberikan dukungan yang bersifat mudah, contohnya memberikan uang.

Awalnya, generasi sandwich hanya terbatas kepada tanggung jawab finansial terhadap orang tua dan anak kandungnya saja.

Pengertian ini berkembang seiring berjalannya waktu dengan mencakup generasi yang berada diatas dan bawah mereka yang masih termasuk pada keluarga.

Keadaan ini dapat dianalogikan seperti sandwich: sepotong daging yang terhimpit oleh 2 butir roti.

Roti itu diibaratkan dengan orang tua (generasi atas) serta anak-anak (generasi bawah), sedangkan isi pokok dari sandwich berupa daging, saus, dan mayones yang terhimpit oleh roti diibaratkan dirinya sendiri.

Terdapat berbagai faktor diluar kontrol insan yang dapat memengaruhi korelasi dengan keluarga, yaitu temperamen bawaan yang wajib dihadapi dengan cara dipahami serta diarahkan, bukan untuk diubah.

Diberi panduan untuk mengetahui aneka macam komunikasi efektif serta yang tak efektif di dalam keluarga, seperti memerintah anak secara langsung yang ternyata kurang efektif.

Mengapa Dikatakan Generasi Sandwich

Berbagai Penyebab Adanya Generasi Sandwich

Faktor utama yang menyebabkan adanya generasi sandwich adalah minimnya literasi keuangan.

Banyak individu sebagai generasi pertama yang tidak mempersiapkan dana pensiun, sehingga generasi kedua perlu membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Pada waktu yang hampir berbarengan, generasi ke 2 sudah berkeluarga dan mempunyai tanggung jawab terhadap generasi ketiga.

Tingginya beban keuangan yang ditanggung generasi kedua sebagai generasi sandwich berdampak kepada ketidakmerataan distribusi beban finansial di antara 3 generasi.

Generasi pertama dan ketiga cenderung tidak merasakan beban finansial yang sama.

Hal ini yang menyebabkan seorang individu seharusnya mempunyai literasi keuangan untuk membantu dalam mengambil keputusan finansial.

Seperti membayar tagihan dan melakukan investasi sesuai dengan usianya.

Salah satu gambaran mengenai generasi sandwich di Indonesia adalah banyaknya orang yang merasa stres dan tertekan terhadap pengasuhan anak saat orang tuanya (neneknya) selalu ikut campur.

Mereka cenderung bersikap lebih baik menjauhkan pengasuhan anak dari neneknya. Karena untuk menghindari banyaknya pertarungan pengasuhan antara orang tua dengan nenek atau kakeknya.

Banyak famili Indonesia yang malah terjebak dalam generasi sandwich, yaitu famili yang pada dalamnya ada tiga generasi tinggal dalam satu tempat tinggal (ayah-ibu serta anak-anaknya).

Tanggung jawab finansial terhadap tiga generasi ini kenyataannya memang bisa mengakibatkan stres kepada individu menjadi generasi sandwich.

Pada akhirnya juga berdampak negatif pada kebiasaan orang tua serta anak-anaknya.

Terbatasnya pilihan keuangan sebagai generasi sandwich juga tak hanya membuat generasi sandwich baru, namun juga dapat menurunkan kualitas hidup.

Keputusan keuangan yang diambil oleh individu setiap hari memiliki dampak pada kualitas hidup secara holistik.

Hal ini nantinya jua berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya insan (sdm) secara nasional, terutama dalam bidang pendidikan serta kesehatan.

Komitmen Pada Slow Living

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai komitmen untuk fokus pada slow living. Meskipun gagasan untuk tetap sibuk sering kali diidolakan dalam masyarakat modern, bukan berarti ini adalah satu-satunya jalan yang dapat diterima untuk membuktikan kehidupan.

Terlibat dalam praktik hidup lambat adalah pilihan yang tepat. Dan itu tidak berarti Anda tetap tidak bisa menyelesaikan pekerjaan atau menjadi anggota masyarakat yang produktif.

Komitmen Pada Slow Living

Apa Itu Slow Living?

Slow living atau hidup santai adalah cara hidup yang didasarkan pada gagasan pendekatan yang lebih lambat terhadap semua aspek kehidupan sehari-hari.

Tidak apa-apa untuk mengambil langkah mundur untuk memperlambat dan mengurangi tekanan. Ditambah lagi, tubuh dan pikiran Anda akan menjadi lebih baik karenanya. Semakin bahagia dan sehat mampu melakukan apa pun.

Tujuan dari hidup lambat adalah untuk lebih berhati-hati dalam mengatur waktu dan hidup dengan lebih penuh perhatian dan seimbang. Kehidupan yang santai memiliki banyak manfaat, antara lain :

  • Kesehatan fisik dan mental yang lebih baik
  • Lebih sedikit stres
  • Peningkatan produktivitas di tempat kerja
  • Hubungan yang lebih baik
  • Lebih menghargai pengalaman sehari-hari

Sayangnya, banyak orang memilih cara hidup yang sangat berbeda. Orang-orang inipen memilih untuk menuju kepuasan instan dan mencari jawaban dengan cepat. Ini bukan sepenuhnya salah mereka.

Internet, ponsel pintar, dan tablet memainkan peran besar dalam kebutuhan akan kecepatan ini. Misalnya, banyak yang dinyatakan bersalah karena “mencari-cari” suatu penyakit di Google saat kita merasa tidak enak badan.

Orang-orang yang tidak bisa memperlambat hidup dengan keadaan mendesak yang dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang serius.

Termasuk gangguan tidur, keluhan pencernaan, sakit kepala kronis, penuaan dini, perubahan suasana hati dan banyak lagi.

Memulai Komitmen Pada Slow Living

Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan untuk memulai berkomitmen pada slow living, sehingga dapat menjadikan beberapa hal menjadi prioritas utama.

  1. Bangun Lebih Awal dan Menikmati Sarapan yang Enak
    Harus memulainya dengan tidur lebih awal. Semakin awal tidur, semakin mudah bangun. Polos dan sederhana. Tidak hanya akan memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada hal-hal penting.
    Namun juga mengatur suasana untuk hari produktif saat menyelesaikan sesuatu. Mulailah hari dengan perlahan dan dengan niat. Selain itu, saat sedang sarapan, usahakan untuk tetap fokus pada makanan dan jangan sampai terganggu.
    Pola pikir lebih baik mendengarkan musik yang inspiratif atau sekadar menghabiskan waktu sarapan dalam keheningan total.
  2. Jangan Gunakan Ponsel atau Komputer Kecuali Bekerja
    Tidak apa-apa untuk memeriksa dan menjawab email atau pesan teks, tetapi terus-menerus menggunakan ponsel akan menyebabkan banyak masalah. Ketegangan kepala dan mata sering terjadi.
  3. Terhubung Dengan Keluarga dan Teman Anda
    Ada banyak cara untuk memperkuat hubungan Anda dengan keluarga dan teman.
    Anda dapat mengirim pesan teks, email, menulis surat, menelepon, melakukan obrolan video atau mengunjungi mereka secara langsung.
    Pastikan bahwa ketika menghabiskan waktu bersama orang-orang favorit benar-benar berada di momen tersebut. Benar-benar berada di sana, fokus dan hindari gangguan, termasuk telepon Anda.
  4. Menikmati Saat Berada di Alam Terbuka
    Amati alam dan lingkungan sekitar. Nikmati ketenangan tanaman hijau dan air, hirup udara segar dalam-dalam, rasakan sensasi angin menerpa wajah. Cobalah melakukan ini setidaknya 3-4 hari seminggu.
    Nikmati waktu bersama di alam, yang juga merupakan cara bagus untuk memperkuat hubungan Anda.
  5. Mengemudi Perlahan
    Mengemudi cepat merupakan kebiasaan buruk yang umumnya dikaitkan dengan orang-orang yang menjalani kehidupan serba cepat. Cobalah untuk memperlambat saat Anda mengemudi. Jika Anda khawatir akan terlambat, berangkatlah lebih awal.
    Apabila mengemudi dengan lambat, mungkin akan menikmati perjalanan. Perhatikan sekeliling, putar musik favorit dan jadikan itu waktu yang damai untuk merenungkan hidup Anda.

Mengundurkan Diri dengan Tepat

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai berbagai alasan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan dengan tepat. Setelah lama meniti karir, mungkin ada saatnya untuk berfikir mengundurkan diri dari pekerjaan.

Mengundurkan Diri dengan Tepat

Mengundurkan diri tanpa pamit dapat menjadikan seorang karyawan terlihat tidak kompeten dan tidak menghargai kantor tempat bekerja beserta atasan-atasannya.

Apabila ingin mengundurkan diri, buatlah alasan yang masuk akal yang dapat menggambarkan nilai dari seseorang tersebut

Berikut ini merupakan beberapa alasan yang kerap digunakan seseorang untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dengan tepat, diantaranya yaitu :

  • Burnout
    Burnout merupakan suatu kondisi kelelahan fisik dan mental yang dapat terjadi akibat tekanan yang berlebihan pada pekerjaan, kondisi ini dapat memicu stres pada seseorang.
    Stres dalam bekerja memang seringkali terjadi, penyebabnya yaitu munculnya tuntutan kerja, waktu kerja yang sangat diporsir, dan lain sebagainya.
    Apabila seorang karyawan merasa burnout terhadap pekerjaannya saat ini, maka akan sangat mempengaruhi profesional dan produktifitas dalam suatu pekerjaan atau tanggung jawab.
    Apabila burnout ini terlalu sering terjadi, maka dengan mengundurkan diri dapat menjadi pilihan yang tepat untuk memulihkan fisik, mental maupun emosi yang selama ini bersifat negatif.
  • Konflik Etika atau Moral
    Permasalahan yang berhubungan dengan etika atau moral mampu terjadi ketika tuntutan dan nilai-nilai kantor tidak sejalan dengan nilai-nilai serta kepercayaan pribadi yang dimiliki.
    Hal ini adalah hal yang masuk akal terjadi pada dunia kerja. Misal, seseorang mendapati nilai-nilai yang diyakininya tidak sejalan dengan visi dan misi tempat dan organisasi bekerjanya.
    Pada hal ini, mengundurkan diri mungkin menjadi keputusan yang berat, namun terkadang perlu dilakukan untuk menjaga integritas pribadi serta pendirian moral.
  • Masalah Kesehatan

    Biasanya perusahaan menyediakan benefit kerja yang dapat membantu karyawannya untuk mengatasi masalah kesehatan, misalnya pertanggungan kesehatan, mempersilahkan cuti, maupun asuransi tambahan.
    Apabila karyawan tersebut mengalami sakit yang cukup parah sehingga tidak dapat maksimal bahkan tidak bisa bekerja lagi, maka karyawan tersebut dapat melakukan pengunduran diri dari pekerjaannya.
    Tidak hanya kesehatan secara fisik, kesehatan mental juga wajib menjadi perhatian khusus bagi karyawan maupun perusahaan. Karena hal ini dapat mengganggu untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.

  • Keluarga
    Alasan keluarga misalnya mengurus orang tua yang sakit, seorang karyawan perempuan yang mengundurkan karena kondisi sedang hamil, akan melahirkan, atau harus mengurus anak secara penuh.
    Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya jasa pengurusan anak yang terjangkau, atau pekerja yang ingin lebih intens hadir pada proses tumbuh-kembang anaknya.
  • Pindah Tempat Tinggal
    Sseorang wajib mengundurkan diri dari pekerjaannya adalah pindah tempat tinggal. Baik menerima tawaran kerja baru dengan kompensasi yang lebih banyak, atau alasan tertentu seperti ikut keluarga.
  • Pengembangan Diri

    Mengundurkan diri dari pekerjaan karena alasan pengembangan diri bisa jadi keputusan yang akan diambil selama perjalanan karier. Mungkin ingin menyebarkan passion, fokus pada keluarga.
    Bagaimanapun, mengundurkan diri dari pekerjaan mungkin menjadi pilihan yang tepat untuk dapat memfokuskan pengembangan diri dan mencapai work-life balance yang lebih baik.

  • Meneruskan Pendidikan
    Ketika ingin mendapatkan skill serta pengetahuan baru untuk mempertajam kemampuan pada pekerjaan yang hanya bisa didapatkan di institusi-institusi pendidikan tinggi.
    Hal tersebut dapat membantu untuk menerima kesempatan kerja baru.
    Melanjutkan pendidikan untuk menerima gelar Magister atau Doktor mungkin krusial dalam proses pengembangan diri untuk menerima posisi kerja yang lebih tinggi dengan bayaran yang lebih tinggi.
    Para perekrut di pekerjaan-pekerjaan mengharuskan kandidatnya untuk mempunyai gelar atau tunjangan profesi eksklusif sebelum bisa mendaftar.Terkadang, ketika melanjutkan tingkat pendidikan tinggi, perusahaan memberikan posisi dan jadwal kerja yang lebih fleksibel, seperti posisi part time atau pekerjaan WFH (Work From Home).

Membicarakan Bullying dengan Anak

Setelah mengetahui apa itu bullying dan bagaimana tanda-tanda serta dampaknya, pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai bagaimana cara membicarakan bullying dengan anak.

Cara membicarakan bullying dengan anak tentunya harus didasari pemahaman mengenai bullying, sehingga apa yang diceritakan oleh orang tua dapat dipahami oleh anak, dan anak dapat mengerti bahwa apa yang pernah terjadi padanya dinamakan bullying atau tidak.

Membicarakan Bullying dengan Anak

Cara Membicarakan Bullying dengan Anak

Jika sudah mengetahui tanda-tanda anak terkena bullying, coba bicarakan baik-baik. Anak yang menjadi korban bullying biasanya akan sangat tertutup. Namun, banyak orang tua yang bingung bagaimana cara untuk mulai melindungi anak-anak mereka dari bullying dan kekerasan lainnya.

Bahkan, beberapa orang tua mungkin tidak tahu apakah anak-anak mereka merupakan korban, saksi, atau bahkan pelaku dari perbuatan bullying. Berikut ini terdapat beberapa cara untuk  membicarakan bullying dengan anak menurut UNICEF :

  1. Pahami Terlebih dahulu Apa Itu Bullying
    Langkah pertama ialah pahami dulu apa itu bullying hingga bagaimana tanda-tandanya, anda bisa melakukan langkah-langkah pencegahan.
  2. Lakukan Pencegahan
    Jangan sampai sikap bullying itu malah bersumber dari perilaku orang tua. Bertindaklah dengan baik dan jadilah teladan untuk anak-anak, ajarkan nilai-nilai keagamaan dan etika pada anak, dan tanamkan kepercayaan diri serta keberanian kepada anak Anda.
  3. Komunikasikan langsung
    Jika merasa ada perilaku yang berbeda dari anak Anda, bahkan mengarah pada tanda-tanda anak terkena bullying, segera komunikasikan langsung. Buat anak Anda senyaman mungkin supaya mau bercerita, dengarkan dengan tenang, dan bantulah anak bangkit dan kembali percaya diri.

Cara Mengatasi Bullying

Terdapat beberapa cara mengatasi bullying, bisa dimulai dengan langkah pencegahan dari anak, keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Bila bullying sudah terjadi, Anda bisa mengatasinya dengan melakukan rehabilitasi. Berikut beberapa cara mengatasi bullying :

Pencegahan
Langkah pertama adalah dengan melakukan pencegahan. Pencegahan bullying perlu dilakukan secara menyeluruh, melalui anak, keluarga, sekolah, sampai lingkungan masyarakat.

1. Pencegahan Melalui Anak

Pencegahan melalui anak dapat dilakukan dengan cara memberi pengetahuan tentang apa itu bullying dan pastikan anak mampu melawan tindakan bullying apabila terjadi kepadanya.

Selain itu, edukasi anak supaya bisa menyampaikan bantuan ketika melihat tindakan bullying terjadi. Contohnya dengan melerai/mendamaikan, mendukung korban supaya kembali percaya diri, sampai melaporkan tindakan bullying pada pihak sekolah, orang tua, serta tokoh masyarakat.

2. Pencegahan Melalui Keluarga

Orang tua perlu meningkatkan ketahanan keluarga, menerapkan hidup harmonis, dan memperkuat pola pengasuhan anak. Lakukan dengan cara menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak, memupuk rasa percaya diri sampai keberanian anak, mengajarkan etika, sampai mendampingi konsumsi internet serta bahan bacaan anak.

3. Pencegahan Melalui Sekolah

Pihak sekolah juga harus membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan anti bullying. Ini dapat dimulai dengan menerapkan komunikasi efektif antara pengajar dan siswa, melakukan pertemuan terjadwal dengan orang tua murid, hingga menyediakan bantuan pada anak didik sebagai korban bullying.

4. Pencegahan Melalui masyarakat

Lingkungan masyarakat juga berperan penting terhadap kondisi seseorang. Jadi, sebisa mungkin menentukan dan membentuk lingkungan warga yang peduli terhadap perlindungan anak dan melawan keras tindakan bullying.

5. Rehabilitasi

Selanjutnya, terdapat tindakan rehabilitasi. Ini ialah pendekatan pemulihan yang dilakukan kepada korban serta pelaku bullying. Langkah ini dilakukan dengan tujuan supaya korban serta pelaku bisa kembali bertindak seperti yang seharusnya, sesuai norma dan hukum yang berlaku.

Langkah ini juga merupakan proses intervensi yang memberikan gambaran jelas pada pembully bahwa tingkah laku bullying ialah tindakan yang tidak bisa dibiarkan berlaku di sekolah dan di lingkungan masyarakat manapun.

Segala tindakan bullying tidak dibenarkan, apapun alasannya. Jangan sampai anak menjadi pelaku atau korban bullying, karena langkah pencegahan mampu dimulai dari lingkungan keluarga. Semoga bermanfaat.

Faktor yang Mempengaruhi Childfree

Tekanan sosial yang dihadapi oleh pasangan yang memutuskan untuk childfree, terutama di Indonesia mungkin akan sangat tinggi. Mengingat penjelasan tentang perspektif budaya kolektif warga Indonesia, mengenai pernikahan serta memiliki anak yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada artikel kali ini akan membahas mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang memutuskan untuk childfree.

Salah satu alasan yang relatif menarik pasangan memilih untuk childfree ialah karena berkaitan dengan isu maupun persoalan lingkungan. Mereka menilai bahwa populasi penduduk bumi semakin meningkat, tetapi populasi tersebut tidak sejalan dengan kesehatan bumi dan ketersediaan pangan. Umumnya merasa tidak yakin merawat maupun mengasuh anak. sehingga hal tersebut pun sebagai suatu kekhawatiran bagi pasangan.

Faktor yang Memutuskan Childfree

Terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi seorang perempuan atau pasangan memutuskan untuk childfree, diantaranya yaitu :

1. Latar Belakang Keluarga

Alasan pertama yang menyebabkan seseorang atau pasangan memilih untuk childfree artinya sebab ia mempunyai masa lalu sendiri tentang keluarganya. Ia tumbuh dan melihat apa yg terjadi pada keluarganya, sehingga apa yang dia lihat semasa kecil juga akan mempengaruhi pilihannya saat ia dewasa.
Begitu juga tentang kenangan yang kurang baik dan perasaan kecewa yang didapatkan selama masa anak-anak. Kedua hal tersebut bisa menjadi alasan terbesar, kenapa pasangan atau seorang wanita memilih buat childfree.

Latar belakang keluarga pun dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk childfree, yaitu saat seseorang mempunyai keluarga yang memberikan kebebasan padanya untuk memilih dan menetapkan segala hal. Sehingga, ketika ia memutuskan untuk childfree, ia tidak akan mendapatkan tekanan dan tanpa penghakiman dari pihak keluarga. Justru sebaliknya, ia akan merasa didukung.

2. Isu lingkungan

Over populasi menjadi isu yang cukup hangat saat ini. Populasi manusia semakin banyak di bumi, tapi tak sebanding dengan jumlah kerusakan lingkungan dan ketersediaan pangan yang meningkat .
Sebagian individu, baik yang sudah berpasangan atau bahkan masih sendiri pun menyadari isu tersebut, sehingga mereka merasa prihatin dengan isu tersebut serta menentukan untuk childfree. Harapannya, tentu saja mereka tidak ingin menambah populasi yang sudah ada.

3. Kondisi Finansial

Membesarkan dan merawat anak bukanlah hal yang mudah, diperlukan persiapan mental dan finansial yang matang. Ketika pasangan telah menetapkan untuk childfree, kemungkinan mereka sudah memperhitungkan kemampuan finansial.

Apabila pada perhitungan tersebut, rupanya pasangan maupun individu merasa tidak mampu, maka mereka pun menetapkan untuk childfree. Sehingga, mereka akan lebih fokus mengalokasikan dana untuk kebutuhan pribadi yang nominalnya tidak sedikit.

4. Mempunyai kekhawatiran, bahwa mereka tidak mampu membesarkan anak dengan baik

Biasanya pasangan atau individu cenderung memiliki kekhawatiran, bahwa mereka tak bisa membesarkan anak dengan baik. Atau pasangan atau individu tersebut belum matang serta belum siap secara mental untuk memiliki seseorang anak. Hal ini dikarenakan kondisi mental setiap orang berbeda-beda. Akan muncul kekhawatiran  apakah anak akan merasa senang , apakah kebutuhannya tercukupi, apakah ia mampu membesarkan anak dengan mental serta fisik yang sehat dan lain sebagainya.

5. Memiliki Problem Maternal Instinct

Maternal instinct artinya kondisi dimana kemampuan emosional dari seorang wanita, khususnya seorang ibu dalam memilih hal-hal yang benar dan salah saat beliau membesarkan seorang anak.

Sebagian orang mungkin memiliki anggapan, bahwa maternal instinct memiliki peran yang penting untuk dimiliki oleh seorang ibu, alasannya adalah sebab maternal instinct berhubungan dengan kemampuan seseorang ibu untuk melindungi anak-anaknya.

Beberapa perempuan merasa khawatir, bahwa mereka tak memiliki maternal instinct, dan tidak percaya diri bahwa mereka akan menjadi seorang ibu yang baik sesuai dengan harapan anak atau dirinya.

6. Kondisi fisik tertentu

Beberapa perempuan atau pasangan mungkin mempunyai kondisi fisik tertentu yang membuat dirinya tidak bisa mempunyai seorang anak, misalnya mengidap penyakit keturunan dan lain-lain.

7. Alasan personal

Faktor yang terakhir merupakan karena alasan personal dari seseorang atau pasangan, hanya saja mereka memilih untuk childfree, sebab mereka merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Bahkan, beberapa orang mempunyai pandangan bahwa akan baik secara finansial dan fisik untuk menentukan childfree.

Demikian pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perempuan atau pasangan memutuskan untuk childfree. Karena apapun kondisi yang terjadi dalam suatu hubungan, merupakan hak masing-masing individu.

Disfungsi Keluarga dan Akibatnya

Pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai disfungsi keluarga dan akibatnya. Peran keluarga sangat penting dalam kehidupan seorang individu apalagi seorang anak. Akan terjadi banyak sekali masalah jika seorang anak mengalami disfungsi keluarga dalam hidupnya. Berikut ini diberikan contoh kasus disfungsi keluarga, dan apa fungsi keluarga serta karakteristik keluarga disfungsi.

Rio sedang menikmati satu linting ganja di rumah pamannya saat polisi datang menggerebek rumah tersebut. Ia, paman, dan dua orang teman pamannya itu sedang berpesta. Rio tinggal bersama ibunya yang merupakan orang tua tunggal. Ayah dan ibunya bercerai sejak usianya 10 tahun dan telah menikah lagi. Semenjak mengkonsumsi narkoba, Rio kerap menjual barang-barang rumah tangga di rumah milik ibunya seperti gas, tv, dan barang lainnya. Ia mengaku rumah nya kemalingan agar ibunya tidak curiga.

Sementara itu, Nia, 17 tahun, telah menjalani rehabilitasi sosial selama satu bulan di Balai Rehabiilitasi Sosial Anak. Dia dan dua temannya dibawa ke Balai karena terlibat dalam prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur, termasuk dirinya. Sama seperti Rio, ayah dan ibu Nia sudah lama berpisah. Ia diasuh oleh neneknya sejak usia nya 5 tahun. Ibu dan ayahnya sudah menikah lagi dan memiliki keluarga masing-masing. Ia mengaku terpaksa terlibat prostitusi karena butuh uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Sejak neneknya meninggal dua tahun lalu, Nia tinggal sendiri dikos-kosan, oleh karena itu dia butuh uang agar bisa bertahan hidup.

Di sisi lain, ada Dio, 16 tahun, yang sudah hidup di jalan sejak dua tahun lalu. Dio memutuskan keluar dari rumah karena tidak tahan atas tindak kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya. Ia dan adik-adiknya menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayah kepada ibunya. Ia bahkan masih ingat bagaimana ayahnya membenturkan kepalanya ke tembok karena ia membela ibunya. Sebelum tinggal di jalan, Dio tinggal di rumah neneknya. Ia kerap mencoba menghubungi ayah atau ibunya untuk sekedar meminta uang jajan. Terakhir ia meminta uang Rp. 50.000 untuk berobat namun tidak digubris. Kekecewaan ini akhirnya membuat Dio memutuskan untuk mengurus hidupnya sendiri dengan turun ke jalan dan menjadi pengamen, uangnya ia gunakan untuk makan, membeli rokok, dan juga membeli obat-obatan terlarang seperti eksimer.

Tiga kasus di atas memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama memiliki keluarga yang disfungsional dan lingkungan yang mendukung perilaku negatif. Anak-anak pada kasus di atas berasal dari keluarga dengan latar belakang yang tidak kondusif untuk perkembangan mereka. Dua anak berasal dari keluarga broken home, sedangkan satu anak (walaupun kedua orang tuanya masih bersama) memiliki orang tua yang abusive.

Pada hakikatnya, keluarga adalah unit sosial terkecil yang bertanggung jawab pada stabilitas dan kontinuitas suatu masyarakat. Keluarga menjadi cikal bakal komunitas yang besar. Sulit membayangkan bagaimana suatu komunitas atau masyarakat dapat terbentuk atau bertahan tanpa adanya keluarga.

Disfungsi Keluarga dan Akibatnya

Fungsi Keluarga

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terdapat delapan fungsi keluarga yang menjadi prasyarat, acuan, dan pola hidup setiap keluarga untuk mewujudkan keluarga sejahtera dan berkualitas. Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi, ekonomi, dan lingkungan.

  • Fungsi agama
    Keluarga adalah tempat penanaman nilai agama sejak dini agar anak tumbuh menjadi karakter yang agamais, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keluarga juga menjadi tempat pengenalan nilai-nilai budaya bangsa yang sarat akan nilai dan adab ketimuran. Anak kelak akan tumbuh menjadi warga negara Indonesia, dan ini akan melekat padanya, sehingga ia harus memahami bagaimana budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsanya sendiri.
  • Fungsi cinta dan kasih sayang.
    Afeksi dari orang tua adalah kebutuhan paling utama bagi anak-anak. Interaksi yang saling menyayangi dan penuh kasih antar keluarga akan menjadikan keluarga dan rumah sebagai tempat paling berharga bagi anak.
  • Fungsi perlindungan
    Keluarga adalah tempat berlindung dan pelindung paling utama. Anak seharusnya merasakan rasa aman dan nyaman saat bersama keluarga.
  • Fungsi sosialisasi
    Keluarga juga merupakan tempat sosialisasi pertama bagi anak. Di sini lah fungsi keluarga sangat dibutuhkan. Fungsi sosialisasi yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan anak yang cerdas secara kognitif dan membentuk peribadi yang berkarakter mulia.
  • Fungsi lingkungan
    Yaitu fungsi mempromosikan dan mendorong kesadaran anak akan  pentingnya lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman.
  • Fungsi reproduksi
    Keluarga menjadi tempat untuk memperkenalkan dan menanamkan fungsi reproduksi. Reproduksi yang sehat dan terencana akan melahirkan generasi penerus yang baik dan berkualitas.
  • Fungsi ekonomi
    Orangtua wajib memberikan nafkah atau memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi. Keluarga juga merupakan tempat untuk membina dan menanamkan nilai-nilai keuangan. Tidak hanya itu, keluarga diharapkan dapat membina perencanaan keuangan keluarga sehingga terwujud keluarga yang sejahtera.

Apabila keluarga tidak mampu menerapkan fungsi-fungsi di atas, maka keluarga tersebut dapat dikatakan mengalami disfungsi yang berpotensi merusak kekokohan keluarga yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang, dan kepribadian anak.

Karakteristik Keluarga Disfungsi

Menurut Hawari (2004) terdapat beberapa karakteristik keluarga disfungsional, yaitu :

  • Adanya kematian salah satu atau kedua orangtuanya
  • Kedua orangtua berpisah atau bercerai (divorce)
  • Hubungan kedua orangtua tidak baik (poor marriage)
  • Hubungan orangtua dengan anak tidak baik (poor parent–child relationship); Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan (high tension and low warmth)
  • Orangtua sibuk dan jarang berada di rumah (parent’s absence)
  • Salah satu atau kedua orangtua memiliki kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan (personality or psychological disorder).

Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara disfungsi keluarga dengan gangguan tingkah laku pada anak. Semakin tinggi tingkat difungsi keluarga, maka semakin tinggi pula resiko anak mengalami gangguan perilaku. Selain itu, ketidakberfungsian keluarga juga berkontribusi pada faktor yang menyebabkan anak terlibat dalam perbuatan kriminal.

Terdapat beberapa situasi keluarga dimana anak-anak beresiko menjadi anak nakal, yaitu dimana anak-anak merasa tidak diterima atau ditolak oleh orang tua, tidak dikontrol  secara memadai oleh orang tua, dan tumbuh di rumah dengan banyak konflik. Penolakan orang tua adalah hal yang paling berpengaruh pada kenakalan remaja. Penolakan ini bisa berbentuk tidak adanya perhatian pada aktivitas sehari-hari anak. Orang tua perlu mengetahui dimana anak berada, dengan siapa, dan apa yang dilakukannya, agar anak merasa diperhatikan.

Meskipun demikian, kenakalan dan tindakaan kriminal yang dilakukan remaja cenderung disebabkan oleh perkembangan normatif yang tidak tuntas. Anak tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, merasa tidak perlu mematuhi standar norma dan niai yang berlaku di masyarakat, dan tidak menunjukkan rasa hormat pada hak dan kesejahteraan orang lain. Selain itu, tidak semua anak-anak yang tumbuh dalam keluarga disfungsional menjadi anak nakal dan berbuat kriminal.

Namun pada akhirnya, keluarga lah yang berperan penting dalam menanamkan nilai moral pada anak. Pengasuhan yang baik adalah tiang dan penyangga yang akan mencegah perilaku negatif dan membantu remaja dalam melindungi diri dari kenakalan yang lebih buruk.

Demikianlah pembahasan mengenai disfungsi keluarga dan akibatnya, semoga dapat menjadi inspirasi para pembaca untuk lebih mengenal lingkungan sekitar.

*nama anak pada kasus disamarkan
Sumber : Pusat Penyuluhan Sosial, Kementerian Sosial

Faktor-faktor Kenakalan Remaja

Setelah membaca apa itu pengertian remaja dan bagaimana karakteristik remaja, pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai faktor-faktor kenakalan remaja. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja, diantaranya akan dijelaskan pada artikel dibawah ini.

Faktor-faktor kenakalan remaja menurut santrock, sebagai berikut :

faktor-faktor kenakalan remaja

  1. Faktor Kepribadian

    Faktor kepribadian, merupakan faktor yang muncul dari dalam diri remaja. Berkaitan dengan faktor kepribadian, kenakalan remaja selalu diasosiasikan dengan ciri perkembangan mereka yakni rasa ingin tahu, proses identifikasi agar terlihat seperti dewasa dan ingin terlihat gagah.

  2. Faktor Teman sebaya

    Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan risiko remaja untuk menjadi nakal.Pada sebuah penelitian santrock (1996) terhadap 500 pelaku kenakalan dan 500 remaja yang tidak melakukan kenakalan di Boston, ditemukan persentase kenakalan yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan regular dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan.

  3. Faktor Orang tua

    Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.

  4. Kontrol Diri dalam faktor-faktor kenakalan remaja

    Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku. Hasil penelitian yang dilakukan Santrock, menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Pola asuh orangtua yang efektif di masa kanak- kanak berhubungan dengan dicapainya pengaturan diri oleh anak. Selanjutnya, dengan memiliki keterampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada menurunnya tingkat kenakalan remaja.

  5. Faktor Usia

    Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan, seperti hasil penelitian dari McCord (dalam Kartono, 2003) yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa, mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya. Paling sedikit 60% dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun.

  6. Jenis Kelamin dalam faktor-faktor kenakalan remaja

    Remaja laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku anti sosial daripada perempuan. Menurut catatan kepolisian, pada umumnya jumlah remaja laki-laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang remaja perempuan.

  7. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah

    Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan disekolah. Mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak mempunyai motivasi untuk sekolah.

  8. Kelas Sosial ekonomi

    Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah dengan perbandingan jumlah remaja nakal di antara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50:1 (Kartono, 2003).

  9. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal

    Faktor yang paling berperan menyebabkan timbulnya kecenderungan kenakalan remaja adalah keluarga yang kurang harmonis dan faktor lingkungan terutama teman sebaya yang kurang baik, karena pada masa ini remaja mulai bergerak meninggalkan rumah dan menuju teman sebaya, sehingga minat, nilai, dan norma yang ditanamkan oleh kelompok lebih menentukan perilaku remaja dibandingkan dengan norma, nilai yang ada dalam keluarga dan masyarakat.

Peran Keluarga Dalam Tumbuh Kembang Anak

Peran keluarga dalam tumbuh kembang anak sangat berpengaruh untuk memastikan bahwa anaknya sehat dan aman, memberikan sarana dan prasana untuk mengembangkan kemampuan sebagai bekal di kehidupan sosial, serta sebagai media dalam menanamkan nilai sosial dan budaya sedini mungkin. Orangtua memberikan kasih sayang, penerimaan, penghargaan, pengakuan, dan arahan kepada anaknya.

Peran Keluarga Dalam Tumbuh Kembang Anak

Hubungan antara orangtua dan anak sangat penting untuk membangun kepercayaan terhadap orang lain dan diri sendiri. Selain itu juga dapat membantu perkembangan sosial, emosional, dan kognitif pada anak. Penelitian menyebutkan bahwa hubungan antara orangtua dan anak yang hangat, terbuka, dan komunikatif; terdapat batas yang wajar antar usia; menyampaikan alasan terkait hal-hal yang tidak boleh dilakukan anak, akan meningkatkan rasa percaya diri dan performa di sekolah maupun lingkungan masyarakat. Selain itu anak akan lebih terhindar dari hal-hal negatif seperti, depresi dan penggunaan narkoba.

Budaya, kepercayaan, tradisi, dan nilai yang dianut dalam suatu keluarga juga mempengaruhi tumbuh kembang anak. Dalam suatu penelitian yang dilakukan pada orangtua Cina-Amerika menyebutkan bahwa para orang tua memiliki cukup andil dalam mengatur tingkah laku anaknya, sehingga masalah terkait penyimpangan perilaku pada anak jarang dijumpai.

Pada masa remaja-dewasa muda, orangtua memiliki tugas dan peran baru seiring dengan berubahnya kebutuhan anak pada masa ini. Perubahan yang terjadi pada masa ini adalah perubahan secara fisik, kognitif, dan juga sosial. Anak akan mulai melepaskan diri dari ketergantungan pada keluarga dan mulai fokus pada kehidupan sosial di luar rumah. Tantangan bagi orangtua adalah bagaimana harus menyeimbangkan antara mempertahankan ikatan dalam keluarga dan meningkatkan otonomi anak seiring dengan bertambahnya usia dan pendewasaan pada anak. Dalam suatu penelitian disebutkan bahwa orangtua yang tetap mempertahankan komunikasi yang baik dan hangat memiliki anak dengan luaran lebih baik dalam kehidupan sosialnya, tidak menggunakan narkoba, mengalami gangguan cemas dan depresi yang lebih sedikit daripada anak dengan orangtua yang tidak menjaga komunikasi pada masa remaja-dewasa muda.

Keberhasilan tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat luas. Peran keluarga utamanya orangtua sangat penting dalam membentuk lingkungan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan pengertian.

Mengapa peran keluarga utamanya orangtua sangat penting?

Lingkungan paparan pertama dan tersering bagi anak-anak adalah keluarga. Pembentukan karakter dan proses tumbuh kembang pertama kali dimulai dari sini. Anak-anak harus dipersiapkan sedini mungkin untuk menjadi penentu kehidupannya nanti. Harus dipersiapkan untuk bisa membuat keputusan sendiri dan tumbuh menjadi pribadi yang kompeten di masyarakat. Proses ini dapat didapatkan sedini mungkin tergantung pada lingkungan tempat tinggal anak dibesarkan.

Kondisi yang optimal di rumah, pemenuhan nutrisi yang cukup, dan interaksi antar orangtua maupun dengan anak sangat mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak.   Orangtua bertanggungjawab untuk menyediakan lingkungan yang aman, memantau aktivitas anak, membantu mengembangkan emosi sosial dan kognitif, serta menyediakan arahan dan panduan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyediakan lingkungan rumah yang aman dan kondusif, anak akan senang bermain, mengeksplorasi hingga menemukan berbagai hal baru yang dapat meningkatkan level perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Harapannya kelak dapat menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan produktif.

UNICEF bersama dengan komunitas lain memberdayakan keluarga dan komunitas di lingkungan sekitarnya untuk membantu setiap anak mendapatkan awal yang baik di kehidupannya. Salah satu bentuk upaya UNICEF untuk membantu mencapai tumbuh kembang anak yang optimal dan meningkatkan taraf hidup anak adalah program kerjasama dengan WHO, Care for Child Development. Program ini lebih difokuskan pada kerjasama orangtua dan keluarga dalam merawat dan mendidik anak secara efektif. Program ini sudah terbukti memiliki hasil yang baik pada keluarga maupun anaknya sendiri.

Upaya Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

Pada Family and community practice that promote child survival, growth and development terdapat 12 hal yang perlu diperhatikan dalam upaya mengoptimalkan tumbuh kembang anak :

  1. Imunisasi
  2. Pemberian ASI
  3. Makanan pelengkap selain ASI
  4. Micronutrients
  5. Kebersihan
  6. Treated bednets
  7. Asupan makanan dan minuman
  8. Perawatan di rumah
  9. Care-seeking
  10. Adherence
  11. Stimulation
  12. Antenatal care

Kedua belas hal di atas membutuhkan peran orangtua, keluarga, komunitas, hingga pemerintah setempat agar dapat terlaksana dengan baik. Sehingga tumbuh kembang anak bisa optimal dan angka harapan hidup khususnya pada anak pun bisa meningkat.

Demikian pembahasan mengenai peran keluarga dalam tumbuh kembang anak, semoga artikel ini dapat membantu orang tua maupun calon orang tua untuk memantau tumbuh kembang pada anak.

 

Sumber : Kanal Pengetahuan
Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada

Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Peran keluarga dalam pendidikan anak merupakan suatu hal yang sangat penting dan mendasar yang harus dimiliki dalam setiap keluarga. Keluarga merupakan pendidikan yang pertama yang di dapat oleh anak. Lingkungan pendidikan yang pertama membawa pengaruh terhadap anak untuk melanjutkan pendidikan yang akan dialaminya di sekolah dan di masyarakat, dengan kata lain bahwa peran keluarga adalah suatu kewajiban yang harus di berikan kepada anak untuk membentuk kepribadian bagi anak, baik lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.

Dalam undang-undang SISDIKNAS no. 20 tahun 2003, pendidikan adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran  sedemikian rupa supaya peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif agar memiliki pengendalian diri, kecerdasan, keterampilan dalam maasyarakat, kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian serta akhlak mulia. Dalam undang-undang tersebut sudah sangat jelas bahwa pendidikan sangatlah penting bagi setiap individu untuk pengembangan dirinya.

Dalam lingkungan pendidikan, dikenal dengan adanya pusat pendidikan, yaitu:
1. Lingkungan keluarga
2. Lingkungan sekolah
3. Lingkungan masyarakat

Dari tiga lingkungan tersebut yang memiliki andil besar dalam pendidikan anak adalah lingkungan keluarga, dimana didalam keluarga  bukan hanya sekedar sanak saudara yang memiliki satu darah dan memiliki DNA yang sama pula, namun keluarga merupakan tempat satu-satunya dan paling utama untuk anak-anak berlindung dan mempertahankan diri dari hal yang membahayakan. Mereka mungkin hanya dapat menilai mana hal yang menakutkan atau tidak, bukan hal yang  baik dan buruk.

Dalam lingkungan keluarga peran orang tua sangat di butuhkan oleh anak, terutama dalam pendidikan moral, yang mana sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Banyaknya anak-anak yang memiliki kekurangan moral seringkali melupakan peran orang tua dalam pembentukan moral yang baik. Mereka para orang tua justru menyalahkan pendidikan yang ada pada bangku sekolah, hal tersebut karena kurang adanya kesadaran diri bahwa peran keluarga khususnya orang tua sangat dibutuhkan dalam perkembangan pendidikan anak.

Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak

Terdapat beberapa peran orang tua yang sangat penting didalam pendidikan anak, diantaranya :

1. Menjadi Guru
Guru yang paling penting adalah guru dari orang tua itu sendiri, dimana orang tua mengajarkan apa yang anak lihat dari saat pertama anak membuka mata.

2. Menjadi Teman
Dengan menjadi teman dalam belajar sangat membantu untuk pengembangan pendidikan anak, karena hal tersebut akan menyenangkan bagi anak.

3. Hakim
Menjadi orang tua harus memiliki ketegasan terhadap anak, orangtua harus memutuskan mana yang terbaik untuk anak sebagai bekal dikemudian hari.

4. Pengawas
Pengawasan terhadap perkembangan pendidikan anak oleh orang tua sangat dibutuhkan, baik itu dilakukan dalam lingkungan keluarga, teman, bahkan di masyarakat.

5. Mengatur Waktu Anak
Orang tua berperan besar dalam mengatur waktu untuk anak, kapan waktu yang tepat untuk bermain dan waktu yang tepat untuk belajar. Dengan begitu anak akan terbiasa mengatur waktu untuk belajar.

6.  Merangkul Anak
Dengan menanamkan kasih sayang kepada anak sejak usia dini akan membuat jalinan orang tua dengan anak menjadi lebih baik.

7. Membimbing Anak
Untuk mendukung pendidikan anak, diperlukan pembimbingan anak.  Dimana anak-anak adalah tahapan awal dalam perkembangan seorang manusia yang belum mengerti apa-apa, sehingga perlu adanya bimbingan yang serius oleh orang tua.

8. Membantu Rencana Pendidikan Anak
Anak-anak terkadang bingung dan tidak tau dengan pilihan, memang pilihan itu kembali pada anak masing-masing. Sebagai orang tua berhak memberikan penjelasan pada anak atas pilihannya.

9. Membangun Sosial Anak
Lingkungan keluarga harus dapat membangun sosial untuk anaknya, karena dengan adanya hubungan sosial yang baik entah itu dalam lingkungan keluarga maupun diluar lingkungan keluarga. Baik tidaknya sosial akan mempengaruhi pendidikan seorang anak.

10. Menciptakan Lingkungan Baik
Pendidikan anak sangat terpengaruh dengan kondisi lingkungan, terutama lingkungan keluarga. Apalagi anak yang masih usia dini, lingkungan yang baik dan harmonis akan membentuk kepribadian anak yang baik.