Menelusuri Fenomena Kalangan Freelance

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai menelusuri fenomena kalangan freelance. Freelancer atau tenaga lepas merupakan pekerjaan yang tidak terikat kontrak dalam waktu yang panjang, tetapi memiliki ikatan kerja dengan perusahaan.

Menelusuri Fenomena Kalangan Freelance

Sepertinya kalangan freelance terlihat sangat menggoda, mereka bisa kerja dari mana saja, kapan saja, hingga memiliki penghasilan yang jauh lebih tinggi daripada bekerja untuk sebuah perusahaan saja.

Ternyata ada hal-hal suram yang dapat terjadi di kalangan freelance, misalnya kompetisi yang semakin ketat, penghasilan yang tidak menentu, dan lain sebagainya. Berikut ini terdapat beberapa fenomena di kalangan freelance.

Menelusuri Fenomena Kalangan Freelance

Persaingan Tanpa Akhir

Kalangan freelance sangat menyadari betapa ketatnya persaingan diantara mereka, tidak hanya freelance dari dalam negeri, juga dari luar negeri. Ketika freelance menang, maka menerima penghasilan. Jika tidak menang, maka tidak mendapat penghasilan maupun hadiah.

Persaingan dalam hal ini tidak hanya soal skill, tetapi juga soal tarif yang disepakati per pekerjaan yang dilakukan. Kebimbangan ini semakin tinggi apabila ingin memenangkan sebuah proyek, maka freelancer harus menurunkan tarif, hal ini disebut perang harga. Kondisi ini yang semakin lama semakin bersifat tidak sehat.

Kemenangan pada sebuah proyek menjadi titik poin untuk bersiap memenangkan proyek yang selanjutnya, agar dapat bertahan pada dunia freelance. Dalam hal ini membutuhkan konsistensi yang baik.

Keistimewaan dan Gangguan dalam Kalangan Freelance

Keistimewaan dalam kalangan freelance yaitu dapat bekerja dengan bebas dimana saja, waktu kerja yang fleksibel, menentukan proyek-proyek yang sesuai dengan skill.

Hal ini sangat menyenangkan untuk mereka yang ingin melepaskan diri dari peraturan perusahaan. Tetapi tanpa disadari, banyak gangguan dari sistem kerja freelance ini.

Memiliki klien yang cocok atau sesuai dengan kemauan freelancer juga tidak mudah, menentukan harga yang sesuai dengan jasa yang ditawarkan, hal ini menjadikan penghasilan yang tidak stabil yang dapat berpengaruh ke kesehatan dan mental.

Berkecimpung dengan Manajemen Keuangan yang Baik

Penghasilan yang tidak stabil setiap bulannya menjadikan kalangan freelance harus pintar memanajemen keuangannya. Karena terkadang mereka mendapatkan proyek yang banyak dalam 1 bulan, bahkan tidak mendapat proyek selama berbulan-bulan.

Kondisi seperti yang membuat freelancer harus memanajemen keuangannya dengan baik, agar aktifitas kerja dan kehidupan terus berjalan baik dan cukup. Harus memiliki pengetahuan mengenai manajemen keuangan, membuat daftar prioritas, dan menetapkan anggaran.

Merasa Kesepian

Biasanya dengan menjadi seorang freelance, maka bersiap bekerja sendiri, tanpa atasan bahkan tanpa rekan kerja untuk bertukar pikiran. Bagi freelancer yang tidak siap dengan kondisi ini dapat menguras mental dan tenaga yang cukup banyak.

Dengan bekerja sendiri bukan berarti menjadi anti sosial. Tetapi, menjadikan diri lebih produktif dan membangun sistem pendukung agar dapat semangat menyelesaikan suatu proyek.

Manajemen Waktu dan Disiplin Diri yang Baik

Dengan menjadi freelancer, dituntut untuk bisa mengatur waktu kerja dengan efisien dan mempertahankan disiplin kerja yang tinggi agar target kerja dapat tercapai.

Tantangan dari hal ini adalah menjaga fokus ketika bekerja agar tidak melakukan pekerjaan lain. Membuat rutinitas yang konsisten, membuat daftar rutinitas sesuai deadline kerja.

Disiplin diri diperlukan dalam mengatur jam kerja dan waktu istirahat. Agar kondisi tubuh tetap fit selama mengerjakan proyek-proyek dan dapat terhindar dari rasa lelah yang berlebihan.

Demikian pembahasan mengenai menelusuri fenomena kalangan freelance. Setiap profesi memiliki dampak positif dan negatif. Jika hanya ingin dampak positifnya, sepertinya ada yang kurang tepat pada pekerjaan yang digeluti.

Cara Mengatasi Ketertinggalan Budaya

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai contoh-contoh dari fenomena cultural lag dan bagaimana cara mengatasi ketertinggalan budaya tersebut. – Fenomena sosial bisa terjadi karena mereka menolak adanya budaya baru muncul walaupun di tengah era globalisasi entah demi alasan mempertahankan budaya tradisional atau memang hanya mereka menutup diri dari kehidupan sosial. Fenomena seperti inilah yang sekarang disebut dengan istilah Cultural Lag atau ketertinggalan budaya.

Contoh Fenomena Culture Lag

Ada begitu banyak contoh dari fenomena sosial culture lag yang terjadi dan dialami oleh masyarakat, diantaranta kasus-kasus seperti berikut ini :

  1. Pelanggar lalu lintas adalah orang yang kurang disiplin
    Misalnya, terjadi peningkatan pembelian mobil dan sepeda motor. Terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan sehingga terjadi pelanggaran lalu lintas. Mobil dan sepeda motor yang seenaknya melanggar peraturan lalu lintas dapat membahayakan keselamatan.
  2. Penggunaan Internet
    Selain internet yang banyak memiliki manfaat positif, Internet juga memiliki dampak negatif pada masyarakat. Adanya berita bohong dan kesimpangsiuran menimbulkan provokasi. Internet menyebabkan kelompok atau individu saling berebut informasi yang belum tentu benar.
  3. Menggunakan teknologi
    Di daerah yang agak terpencil, pengembangan inovasi dan teknologi baru cenderung memakan waktu lebih lama. Oleh karena itu, akan sulit bagi mereka yang tinggal di sana untuk mengakses kemajuan yang ada. Mereka akan berjuang untuk memahami dan mengikuti perjalanan teknologi secara maksimal. Teknologi berkembang untuk memudahkan aktivitas manusia. Namun pada kenyataannya masih ada masyarakat yang kurang bijak dalam menggunakan teknologi. Misalnya penyebaran informasi yang menyesatkan dan membingungkan masyarakat, kasus cyberbullying, masuk ke internet untuk mencari hal-hal yang berbau porno, dan lain sebagainya.
  4. Penemuan vaksin HPV

    Cara Mengatasi Ketertinggalan BudayaVaksin HPV merupakan penemuan untuk mencegah kanker serviks yang  disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Vaksin ini dapat diberikan kepada remaja atau bayi. Namun, penemuan vaksin ini menimbulkan banyak pertanyaan etis.
    Perubahan budaya telah menyebabkan asumsi bahwa vaksin HPV mendorong anak-anak untuk terlibat dalam aktivitas seksual sejak usia dini. Pertanyaan tersebut muncul karena fakta bahwa kanker serviks disebabkan oleh virus HPV yang ditularkan melalui aktivitas seksual dini. Jadi seorang wanita lebih mungkin terkena kanker jika dia aktif secara seksual.

  5. Rekayasa Genetika
    Rekayasa genetika melibatkan modifikasi DNA atau materi genetik  organisme seluler untuk memodifikasi atau menambahkan sifat baru. Misalnya, calon orang tua dapat menggunakan rekayasa genetika untuk memilih warna mata atau jenis kelamin anak mereka yang belum lahir.
    Namun, banyak orang menganggap jenis rekayasa genetika ini  tidak etis dan percaya bahwa hal itu dapat menyebabkan konsekuensi sosial yang tidak diinginkan. Ini adalah contoh ketidaksesuaian budaya.
  6. Penggunaan Smartphone
    Pasti sering kita jumpai pengemudi yang tidak mengetahui penggunaan ponselnya. Meski tahu itu sangat berbahaya,  mereka tetap saja nekat menggunakan ponsel di jalan. Baik mengendarai motor ataupun mobil. Ini adalah bukti nyata dari pelanggaran lalu lintas yang tidak pantas secara budaya.
    Hal ini terjadi karena masyarakat cenderung kurang kesadaran, kedewasaan dan kesadaran diri untuk menggunakan ponsel dengan bijak. Ponsel memang memiliki fungsi untuk membantu aktivitas manusia, sangat berpotensi menjadi alat yang dapat membahayakan keselamatan penggunanya.

Cara Mengatasi Ketertinggalan Budaya

Pada dasarnya, akan sulit untuk mengatasi keterbelakangan atau ketertinggalan budaya. Misalnya, ketika teknologi baru datang dalam bentuk sepeda motor, sebagian orang langsung menyambutnya dengan ide untuk mempermudah pekerjaan, bisa bergerak cepat ke mana saja.

Namun, pihak lain mempertimbangkan resikonya. Jika Anda mengendarai sepeda motor, perjalanan mungkin lebih cepat, tetapi resikonya lebih besar, Anda dapat melukai diri sendiri secara serius, daripada berjalan kaki atau bersepeda.

Cara mengatasi ketertinggalan budaya tentu saja melalui kebijaksanaan. Kecerdasan manusialah yang akan mencoba menemukan cara untuk membuat segalanya lebih cepat dan lebih mudah.

Orang lain benar-benar dapat membantu orang-orang yang mengalami keterbelakangan budaya. Misalnya dengan memberdayakan, mensosialisasika perubahan, memfasilitasi akses pendidikan dan mencapai pembangunan.

Pada hakikatnya, untuk mengatasi fenomena ini, perlu dilakukan keseimbangan antara budaya material dan budaya immaterial. Jika hardware lebih cepat dari non-hardware, hasilnya akan menjadi culture lag.