Menelusuri Fenomena Kalangan Freelance

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai menelusuri fenomena kalangan freelance. Freelancer atau tenaga lepas merupakan pekerjaan yang tidak terikat kontrak dalam waktu yang panjang, tetapi memiliki ikatan kerja dengan perusahaan.

Menelusuri Fenomena Kalangan Freelance

Sepertinya kalangan freelance terlihat sangat menggoda, mereka bisa kerja dari mana saja, kapan saja, hingga memiliki penghasilan yang jauh lebih tinggi daripada bekerja untuk sebuah perusahaan saja.

Ternyata ada hal-hal suram yang dapat terjadi di kalangan freelance, misalnya kompetisi yang semakin ketat, penghasilan yang tidak menentu, dan lain sebagainya. Berikut ini terdapat beberapa fenomena di kalangan freelance.

Menelusuri Fenomena Kalangan Freelance

Persaingan Tanpa Akhir

Kalangan freelance sangat menyadari betapa ketatnya persaingan diantara mereka, tidak hanya freelance dari dalam negeri, juga dari luar negeri. Ketika freelance menang, maka menerima penghasilan. Jika tidak menang, maka tidak mendapat penghasilan maupun hadiah.

Persaingan dalam hal ini tidak hanya soal skill, tetapi juga soal tarif yang disepakati per pekerjaan yang dilakukan. Kebimbangan ini semakin tinggi apabila ingin memenangkan sebuah proyek, maka freelancer harus menurunkan tarif, hal ini disebut perang harga. Kondisi ini yang semakin lama semakin bersifat tidak sehat.

Kemenangan pada sebuah proyek menjadi titik poin untuk bersiap memenangkan proyek yang selanjutnya, agar dapat bertahan pada dunia freelance. Dalam hal ini membutuhkan konsistensi yang baik.

Keistimewaan dan Gangguan dalam Kalangan Freelance

Keistimewaan dalam kalangan freelance yaitu dapat bekerja dengan bebas dimana saja, waktu kerja yang fleksibel, menentukan proyek-proyek yang sesuai dengan skill.

Hal ini sangat menyenangkan untuk mereka yang ingin melepaskan diri dari peraturan perusahaan. Tetapi tanpa disadari, banyak gangguan dari sistem kerja freelance ini.

Memiliki klien yang cocok atau sesuai dengan kemauan freelancer juga tidak mudah, menentukan harga yang sesuai dengan jasa yang ditawarkan, hal ini menjadikan penghasilan yang tidak stabil yang dapat berpengaruh ke kesehatan dan mental.

Berkecimpung dengan Manajemen Keuangan yang Baik

Penghasilan yang tidak stabil setiap bulannya menjadikan kalangan freelance harus pintar memanajemen keuangannya. Karena terkadang mereka mendapatkan proyek yang banyak dalam 1 bulan, bahkan tidak mendapat proyek selama berbulan-bulan.

Kondisi seperti yang membuat freelancer harus memanajemen keuangannya dengan baik, agar aktifitas kerja dan kehidupan terus berjalan baik dan cukup. Harus memiliki pengetahuan mengenai manajemen keuangan, membuat daftar prioritas, dan menetapkan anggaran.

Merasa Kesepian

Biasanya dengan menjadi seorang freelance, maka bersiap bekerja sendiri, tanpa atasan bahkan tanpa rekan kerja untuk bertukar pikiran. Bagi freelancer yang tidak siap dengan kondisi ini dapat menguras mental dan tenaga yang cukup banyak.

Dengan bekerja sendiri bukan berarti menjadi anti sosial. Tetapi, menjadikan diri lebih produktif dan membangun sistem pendukung agar dapat semangat menyelesaikan suatu proyek.

Manajemen Waktu dan Disiplin Diri yang Baik

Dengan menjadi freelancer, dituntut untuk bisa mengatur waktu kerja dengan efisien dan mempertahankan disiplin kerja yang tinggi agar target kerja dapat tercapai.

Tantangan dari hal ini adalah menjaga fokus ketika bekerja agar tidak melakukan pekerjaan lain. Membuat rutinitas yang konsisten, membuat daftar rutinitas sesuai deadline kerja.

Disiplin diri diperlukan dalam mengatur jam kerja dan waktu istirahat. Agar kondisi tubuh tetap fit selama mengerjakan proyek-proyek dan dapat terhindar dari rasa lelah yang berlebihan.

Demikian pembahasan mengenai menelusuri fenomena kalangan freelance. Setiap profesi memiliki dampak positif dan negatif. Jika hanya ingin dampak positifnya, sepertinya ada yang kurang tepat pada pekerjaan yang digeluti.

Pemilihan Vendor yang Baik

 

Setelah membahas mengenai tanggung jawab dan tugas vendor, pada artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana pemilihan vendor yang baik dan tepat. – Vendor merupakan pihak yang berasal dari lembaga maupun perorangan yang mempunyai tugas untuk menyediakan serta menjual suatu bahan. Pihak vendor  umumnya akan menjual bahan dukungan untuk produk, jasa maupun produk yang telah diolah. Lalu nantinya produk tersebut akan dijual kembali oleh perusahaan untuk menunjang performa perusahaan.

Cara Kerja Perusahaan dengan Vendor

Pemilihan Vendor yang Baik

Vendor merupakan mata rantai yang mempunyai peran krusial dalam hal pasar, keuntungan, serta pula kelangsungan usaha bagi sebagian besar perusahaan. Untuk sekarang ini, beberapa perusahaan yang memiliki mindset yang lebih maju sudah mengajak vendor menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

Beberapa perusahaan berskala besar sudah berhasil dan menyadari bahwa keterlibatan sebuah vendor memang sangat diharapkan didalam sebuah organisasi atau perusahaan. Bahkan banyak perusahaan besar yang menyertakan seluruh pemasok dan sub pemasok ikut serta dalam jajaran petinggi perusahaan.

Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan tersebut memang membutuhkan hubungan timbal balik dengan para vendor guna memenuhi kebutuhan dan mengembangkan langkah yang lebih baik lagi dan inovatif dalam memenuhi keperluan perusahaan.

Pihak perusahaan sangat sadar bahwa kualitas dari produk serta layanan mereka berhubungan langsung dengan kualitas produk serta jasa yang diberikan oleh pihak vendor.

Proses Pemilihan Vendor yang Baik

Dalam proses pemilihan vendor, tentu pihak perusahaan akan memilih vendor yang bisa memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Persyaratan tersebut umumnya berbentuk biaya yang ditawarkan oleh pihak vendor, kualitas produk ataupun layanan yang disediakan, dan kriteria pengiriman barang tersebut.

Secara awam, kualitas pengiriman yang disediakan oleh pihak vendor adalah kesesuaian produk dengan spesifikasi yang sudah ditentukan sebelumnya didalam dokumen pengadaan barang.

Dalam kriteria pengiriman, umumnya akan berhubungan dengan waktu pengiriman serta kriteria biaya atau harga yang harus diberikan oleh pihak perusahaan dalam melakukan kerjasama dengan vendornya.

Tahapan seleksi dilakukan untuk menentukan vendor yang tepat serta mampu diajak berhubungan dengan baik oleh perusahaan. Dari banyaknya daftar vendor, nantinya perusahaan akan melakukan seleksi sampai jumlah pemilihan vendornya mengecil.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan survey untuk menggali informasi yang berhubungan dengan kondisi vendor tersebut. Informasi dan data yang wajib dicari tahu lebih dalam yang berkaitan dengan segi teknis bisa diperoleh dari tersedianya aneka macam alat produksi dan tenaga ahli.

Tujuan Penilaian Vendor

Dalam proses pemilihan vendor, umumnya bagian divisi pengadaan barang akan memilih pilihan dengan berdasar pada harga yang ditawarkan oleh pihak vendornya. Terdapat banyak kriteria lain yang wajib dimiliki oleh pihak vendor bila perusahaan tersebut ingin mencapai kesuksesan dengan lancar.

Jadi bukan hanya berfokus di harga yang ditawarkan saja, aneka macam kriteria yang harus dipenuhi oleh pihak vendor diantaranya, konsep pengirimannya, korelasi manajemen, dukungan pihak vendor juga proyek perusahaan serta ekspansi yang mungkin saja terjadi di masa mendatang.

Berikut ini terdapat beberapa tujuan dari penilaian vendor, diantaranya yaitu :

  • Membantu membentuk evaluasi yang seimbang terhadap kinerja vendor dalam memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan
  • Mengidentifikasi hal-hal yang bermasalah, jadi tindakan yang bersifat korektif mampu dilakukan
  • Menghasilkan pengukuran yang bersifat objektif serta kuantitatif terhadap kinerja vendor
  • Menyediakan kebutuhan informasi yang faktual mengenai kinerja keseluruhan, entah untuk pelanggan atau pihak vendornya

Menjaga Kesehatan Mental Karyawan

Dalam lingkungan kerja, krusial bagi perusahaan untuk memberikan dukungan terhadap menjaga kesehatan mental karyawan sebagai upaya menciptakan budaya kerja yang sehat dan positif. Bagi kebanyakan orang, pekerjaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pekerjaan merupakan tempat dimana seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendapatkan penghasilan dan menemukan teman. Oleh karena itu, krusial untuk melindungi kesehatan mental karyawan di kantor.

Manfaat Mendukung Kesehatan Mental 

Dengan manajemen yang baik, dukungan terhadap kesehatan mental karyawan bisa menaikkan produktivitas sampai 12%. Manfaat yang mampu dihasilkan dengan mendukung kesehatan mental karyawan antara lain :

Menjaga Kesehatan Mental Karyawan

‍1. Menaikkan Produktivitas

Penelitian menunjukkan bahwa 86% karyawan yang mendapatkan perawatan untuk depresi mengalami peningkatan kinerja, bahkan dapat mengurangi tingkat ketidakhadiran hingga 40%-60%.

2. Meningkatkan Retensi Karyawan

Dikutip dari The Great X Report dari Michael Page Indonesia, sebanyak 68% karyawan di Indonesia bersedia mengorbankan gaji, insentif, atau promosi untuk menerima kesehatan mental dan kebahagiaan. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental harus menjadi prioritas bagi perusahaan untuk mempertahankan karyawan terbaiknya. Perusahaan perlu mendukung semua komponen yang dapat membangun lingkungan pekerjaan yang sehat, seperti : kesehatan fisik, emosional serta mental, serta pengembangan profesional.

3. Menurunkan biaya Perawatan

Menurut National Alliance on Mental Illness, tingkat penyakit kardiovaskular dan metabolisme dua kali lebih tinggi pada orang dewasa dengan penyakit mental yang serius. Dengan menjaga kesehatan mental karyawan bisa berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Semakin karyawan senang di tempat kerja, mereka akan lebih sehat secara fisik, yang tentu berdampak positif pada kinerja perusahaan.

Di Indonesia, kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental telah semakin baik, namun masih banyak yang menganggap kesehatan mental merupakan permasalahan abstrak apabila dibandingkan dengan kesehatan fisik yang lebih mudah diidentifikasi. Padahal faktor-faktor eksternal seperti lingkungan kerja jua dapat memicu terganggunya kesehatan mental seseorang, seperti komunikasi antar rekan kerja yang jelek, tugas yang samar-samar, terbatasnya ruang berekspresi, serta lainnya.

Menjaga Kesehatan Mental Karyawan

‍Mengenai kesehatan mental, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa perusahaan mempunyai tanggungjawab untuk mendukung kesehatan mental masing-masing pegawainya dengan menciptakan lingkungan kerja yg sehat serta jauh asal faktor-faktor eksternal penyebab terganggunya kesehatan mental. ada beberapa cara yg bisa dilakukan perusahaan buat mendukung kesehatan mental karyawan, antara lain yaitu :

1. Tingkatkan kesadaran Kesehatan Mental di tempat kerja

Merupakan langkah awal untuk mendukung kesehatan mental karyawan pada lingkungan kerja. Dengan menyediakan sumber daya untuk membantu karyawan mengenal lebih dalam mengenai kesehatan mental, serta gosip bagi karyawan yang membutuhkan bantuan, karyawan akan lebih nyaman buat menghubungi manajer atau HR Jika menemui kesulitan yg berimbas di kesehatan mental pada lingkup lingkungan kerja.

‍2. Kompensasi yang Berkaitan dengan Kesehatan Mental

Dukungan terhadap kesehatan mental karyawan juga bisa ditunjukkan dengan memastikan tunjangan dan kompensasi yang diberikan perusahaan untuk mendukung kesejahteraan mental karyawan. Perusahaan bisa mempertimbangkan untuk menyampaikan fasilitas seperti :

  • Donasi Perencanaan Keuangan
    Tekanan keuangan bisa mengakibatkan stres bagi karyawan, cara ini dapat membantu karyawan untuk mengatur keuangannya untuk memenuhi kebutuhannya.
  • Program bonus Karyawan
    Memberikan promo khusus karyawan untuk layanan yang mendukung kegiatan refreshing pada luar pekerjaan, seperti keanggotaan gratis tempat gym, bonus refleksi atau akupuntur.

3. Menawarkan Waktu Kerja Fleksibel

Untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi karyawan atau yang disebut work-life balance, HR bisa berkontribusi untuk menciptakan kebijakan jam kerja fleksibel, remote working, dan paid time off (PTO). Keseimbangan antara pekerjaan serta kehidupan pribadi memang terkadang sulit untuk diterapkan, terutama bagi karyawan yang memiliki tanggung jawab kerja yang tinggi. Namun kontribusi HR dalam menetapkan jadwal yang fleksibel bisa meringankan beban kerja yang dirasakan karyawan. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir gangguan kesehatan mental.

4. Mengelola Stres di tempat kerja

Stres di tempat kerja berpengaruh pada produktivitas karyawan yang secara tidak langsung berakibat pada terganggunya usaha perusahaan. Meskipun tidak mungkin menghilangkan stres dalam pekerjaan, Anda dapat membantu karyawan untuk mengelola tekanan kerja secara efektif. Langkah-langkah yang bisa diambil antara lain :

  • Memastikan beban kerja sesuai dengan kompetensi karyawan
  • Meminta manajer untuk bertemu secara rutin dengan karyawan untuk menfasilitasi komunikasi 2 arah yang lancar
  • Tidak memberikan toleransi pada diskriminasi, bullying, tindakan negatif dan ilegal.
  • Memberikan apresiasi terhadap keberhasilan karyawan‍

5. Mengadakan aktivitas yang Mendukung Kesehatan Mental

Kolaborasi antara perusahaan serta HR sangat krusial untuk mengurangi stigma dan mengedukasi tenaga kerja mengenai pentingnya kesehatan mental, yaitu dengan mengadakan atau memberikan pelatihan dukungan kesehatan mental. Pelatihan ini dapat dilakukan secara internal dengan menghadirkan konsultan psikolog profesional untuk menjelaskan kontribusi yang mampu dilakukan HR apabila karyawan mengalami stres di lingkungan kerja.

‍Demikian beberapa manfaat dan upaya yang bisa dilakukan HR untuk menjaga kesehatan mental karyawan di lingkungan kerja.

Pentingnya Mental Health Awareness

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana pentingnya mental health awareness di lingkungan kerja. Mental health atau kesehatan mental adalah segala kondisi yang mencakup kesejahteraan emosional, psikologis, serta sosial. Hal tersebut yang mensugesti cara seorang berpikir, merasa serta bertindak.

Kesehatan mental juga menentukan cara seseorang dalam menangani stres, menghadapi orang lain, serta menentukan pilihan. Kesehatan mental adalah salah satu hal yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Individu yang dinilai sehat secara mental tidak semata-mata orang yang bebas dari gangguan jiwa.

Pentingnya Mental Health Awareness

Individu yang Sehat

Menurut World Health Organization (WHO), menyatakan bahwa individu yang sehat secara mental artinya individu yang bisa menyadari setiap potensi yang ia miliki, mampu mengelola stres yang masuk akal, bisa bekerja secara produktif, serta mampu berperan dalam komunitasnya. Oleh sebab itu, kesehatan mental adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Pada kehidupan sehari-hari, banyak diantara kita yang menghabiskan waktu untuk bekerja. Bagi kita yang bekerja menjadi pegawai perkantoran, kita menghabiskan setidaknya sebesar 8 jam dalam satu hari untuk bekerja, dan dilakukan selama 5 hari dalam satu minggu. Bekerja sudah menjadi salah satu dari prioritas utama dalam kehidupan kita, karena memang dri pekerjaan itulah kita mendapatkan penghasilan serta penghidupan.

Pentingnya Mental Health Awareness

Dalam dunia pekerjaan, tentu kita akan menghadapi situasi up and down. Saat berada di pada kondisi up, kita akan merasa bahwa pekerjaan yang kita lakukan bisa memberikan kesejahteraan, kepuasan, kebahagiaan, bahkan dapat membuat kita merasa mencapai aktualisasi diri.

Meskipun demikian, tidak jarang kita akan berada dalam kondisi down, misalnya saat kita menghadapi deadline¸ menghadapi tekanan dari atasan atau klien, atau mempunyai rekan kerja yang ‘tidak bersahabat’. Perasaan overwhelmed yang berkelanjutan bisa menghasilkan pekerjaan kita menjadi hal yang korosif bagi kesehatan kita, baik kesehatan fisik maupun mental.

Gangguan mental pada lingkungan kerja sayangnya masih acapkali disebut sebagai sesuatu yang kurang penting, serta bukan bagian dari gangguan kesehatan. Karyawan yang mengalami gangguan mental seringkali kali disebut sebagai orang yang ‘suka mencari perhatian’ atau orang yang ‘lebay’. Stigma itulah yang mengakibatkan orang enggan untuk menceritakan bahwa dirinya mengalami gangguan mental.

Akibat dari Gangguan Mental

Terdapat beberapa akibat dari gangguan kesehatan mental yang tidak kalah besar apabila dibandingkan dengan dampak akibat gangguan kesehatan fisik, dimana, gangguan mental pada karyawan dapat mensugesti performa kerjanya, kapabilitas, produktivitas, dan rekanan dari karyawan tersebut dengan para koleganya.

Selain itu, berdasarkan studi yang ada, karyawan yang mengalami gangguan mental cenderung lebih mungkin menderita gangguan kesehatan fisik, seperti diantaranya nyeri otot, tulang, dan sendi, gangguan pencernaan, gangguan jantung, gangguan pernafasan, gangguan sistem imun, serta beberapa penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

Kurangnya cakupan perawatan bagi penderita gangguan mental disinyalir diakibatkan oleh adanya stigma negatif akan gangguan mental dan penderitanya, yang secara tidak langsung turut mengakibatkan rendahnya minat tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan untuk menyediakan perawatan bagi penderita gangguan mental.

Pentingnya Mental Health Awareness di Lingkungan Kerja

Manajemen perusahaan yang baik yang awareness terhadap pentingnya kesehatan mental di lingkungan kerja pada hakikatnya akan mempertinggi kesejahteraan dan produktivitas karyawan pada perusahaan tadi. Sesuai studi yang ada, karyawan dengan kesehatan mental yang baik mempunyai taraf produktivitas sebesar 12 – 15% lebih tinggi apabila dibandingkan dengan karyawan yang mengalami gangguan mental.

Perusahaan yang memiliki prinsip pentingnya mental health awareness yang baik akan membentuk para karyawannya merasa lebih aman dan nyaman ketika bekerja. Mereka cenderung untuk lebih berani berpendapat, berpikir serta berasional lebih baik, memiliki penekanan kerja yang lebih baik, dan lebih berani untuk mengambil keputusan.

 

Bagaimana Keuntungan & Kerugian Outsourcing

Setelah mengetahui pengertian outsourcing dan bagaimana sistem kerjanya, pada artikel kali ini akan membahas mengenai aturan outsourcing hingga bagaimana keuntungan & kerugian dari sistem kerja outsourcing. Yuk disimak.

Aturan Outsourcing

Seperti yang sudah dijelaskan, outsourcing merupakan alternatif perekrutan yang dapat menguntungkan perusahaan. Meskipun demikian, ada beberapa aturan yang perlu dipatuhi perusahaan jika mereka ingin merekrut pekerja dari badan outsourcing.

Sebelumnya, salah satu regulasi tersebut adalah Pasal 66 UU Nomor 13 Tahun 2003 yang mengatur pekerjaan alih daya atau oursource. Adapun bunyi Pasal 66 UU tersebut yaitu : “Hubungan kerja antara perusahaan alih daya dengan pekerja/buruh yang dipekerjakannya berdasarkan perjanjian waktu tertentu atau perjanjian tidak tertentu.”

Diterangkan bahwa pekerjaan outsourcing dibatasi hanya untuk pekerjaan di luar kegiatan utama atau yang tidak berhubungan dengan proses produksi kecuali kegiatan penunjang (non core business process). Meskipun demikian, tidak diterangkan pekerjaan-pekerjaan apa saja yang dilarang untuk dilakukan pekerja outsource. Pasal tersebut hanya menyebut pekerjaan berdasarkan pada perjanjian waktu tertentu dan tidak tertentu.

Seiring berjalannya waktu, aturan mengenai outsourcing berubah dan tertera pada UU No. 11 Tahun 2020 jo PP No. 35 Tahun 2021. Pasal tersebut memaparkan bahwa alih daya atau outsource, tidak lagi dibedakan antara Pemborongan Pekerjaan (job supply) dengan Penyediaan Jasa Pekerja (labour supply). Hasilnya, tidak ada lagi pembatasan jenis pekerjaan yang dapat dialihdayakan. Jenis pekerjaan yang bisa dialihdayakan akan disesuaikan kembali sesuai kebutuhan sektor industri.

Bagaimana Keuntungan & Kerugian Outsourcing

Bagaimana Keuntungan & Kerugian Outsourcing

Keuntungan Outsourcing

  1. Menghemat anggaran untuk memberikan pelatihan
    Outsourcing merupakan salah satu strategi perusahaan untuk memangkas biaya operasional mereka. Sebab, karyawan outsourcing sudah memiliki keahlian spesifik yang dibutuhkan perusahaan, seperti keahlian membersihkan atau mengelola inventaris. Hasilnya, dengan menggunakan jasa karyawan outsourcing, perusahaan bisa menghemat anggaran untuk memberikan pelatihan.
  2. Mengurangi beban rekrutmen
    Semua urusan seleksi karyawan outsourcing dilakukan oleh perusahaan penyedia jasa (perusahaan outsourcing). Sementara, perusahaan yang membutuhkan jasa outsource sudah bisa mendapatkan karyawan-karyawan outsource terpilih dari perusahaan outsourcing.
  3. Fokus mengurus kegiatan inti bisnis
    Ketika menggunakan tenaga kerja outsource, perusahaan tidak perlu lagi khawatir mengenai pekerjaan teknis sehari-hari yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan inti bisnis. Karena semuanya sudah diurus oleh tenaga kerja outsource, perusahaan tidak perlu lagi mencari tenaga kerja khusus, mengadakan training, atau mengalokasikan rekrutmen khusus untuk posisi-posisi tertentu.

Kekurangan Outsourcing

  1. Informasi perusahaan rentan bocor
    Menurut laman The Balance SMB, tenaga kerja outsourcing sebenarnya untuk mengisi posisi pekerjaan teknis di perusahaan. Maka, tidak disarankan bagi perusahaan untuk mempekerjakan pekerja outsource pada kegiatan utama bisnis. Sebab, mempekerjakan pekerja outsource pada kegiatan utama bisnis bisa meningkatkan peluang bocornya rahasia perusahaan, dan informasi bisa dijual ke pihak lain atau bahkan disebar ke kompetitor.
  2. Kontrak kerja yang relatif singkat
    Hal ini akan cukup merepotkan bagi perusahaan. Pasalnya, perusahaan harus sering memperbarui kontrak atau mencari perusahaan outsource lain untuk menyediakan tenaga kerja baru.
  3. Ketergantungan pada tenaga kerja outsource
    Perusahaan yang menggunakan tenaga kerja outsourcing berpotensi untuk mengalami ketergantungan. Hal ini mungkin terjadi apabila ada sistem atau cara kerja yang dirahasiakan oleh perusahaan outsource, sehingga perusahaan yang menggunakan jasa outsource tidak bisa asal mengetahui hal tersebut.

Outsourcing merupakan penggunaan tenaga kerja dari pihak ketiga untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Tenaga kerja outsource bisa menjadi solusi di kala perusahaan membutuhkan sumber daya manusia tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, banyak perusahaan kini memilih untuk merekrut tenaga kerja outsource agar lebih mudah dan praktis.