Pada artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana peranan krusial dari membuat batasan diri dengan orang lain.
Peranan Krusial Membuat Batasan
Sewaktu mencoba membuat batasan, kita seringkali salah fokus karena hanya berfokus pada masalahnya. Contohnya tidak senang seorang memperlakukan dengan cara eksklusif, akan cenderung memberikan perbuatan mereka yang tidak di sukai dan mengungkapkan perasaan.
Jarang sekali secara tegas menyampaikan apa yang mau mereka lakukan dan bagaimana mereka wajib bersikap ke depannya. Bagian ini amat krusial sebab orang wajib mendengar dan benar-sahih mengerti waktu kita sedang membentuk batasan.
Contohnya, tidak suka orang tiba-tiba tiba ke tempat tinggal, maka bisa menyampaikan ke orang tadi buat menelepon terlebih dahulu lain kali, bukan dengan eksklusif memberikan padanya bahwa tidak suka tiba mendadak tanpa membentuk janji.
Batasan diharapkan buat menjaga ekspektasi semua orang untuk merasa aman serta nyaman waktu berinteraksi. waktu kita bilang ‘tidak’, itu bukanlah pertanda kalau kita egois tetapi merupakan pertanda sayang kita pada diri sendiri.
Ciri-ciri yang dapat dikenali sewaktu membutuhkan batasan, misalnya waktu merasa kewalahan, merasa kesal di orang lain yang meminta tolong, burn-out dan lain sebagainya.

buat lebih memahaminya, penulis kitab membagi tiga (tiga) level batasan, yakni :
a. POROUS BOUNDARIES
Porous boundaries ialah keadaan ketika kita tidak punya batasan atau hanya mempunyai batasan yg lemah. Batasan jenis ini dapat terjadi karena kita tidak mengkomunikasikannya menggunakan baik atau kita tak menindaklanjuti batasan yg sudah kita buat. Beberapa indikasi ketika kita berada di porous boundaries : selalu bilang ‘iya’, telalu banyak menyebarkan info apapun, selalu berusaha menyenangkan orang lain dan sebagainya.
model porous boundaries : Lina merupakan pegawai di sebuah perusahaan yang menangani transaksi keuangan perusahaan. Lina ialah langsung yang tak jarang merasa tidak enakan terhadap orang lain, ia cerdas, tekun, dan pandai tetapi selalu ragu buat mengemukakan pendapat atau memberikan harapan-keinginannya. ada suatu hari dimana dia begitu sibuk dikarenakan hari itu ialah hari deadline pelaporan keuangan, ia harus membukuan ribuan transaksi keluar masuk uang perusahaan. pada waktu bersamaan, Lina wajib mempersiapkan data-data yang diminta auditor yang sedang mengaudit keuangan perusahaan kawasan dia bekerja. dia wajib menyiapkan bahan rapat pimpinannya jua pada hari itu. Nahas untuk Lina, temannya, Ari meminta tolong untuk berbagi laporan perpajakan pribadinya yg memang sudah masuk periode pelaporan. Lina tentu saja sudah keteteran, namun dia takut Jika menolak permintaan bantuan Ari tadi, Ari akan tersinggung dan membentuk hubungan pertemanan mereka menjadi renggang. Lina pun menggunakan berat menyanggupi permintaan Ari, dengan konsekuensi akan lembur dia hari itu serta burn-out di pikiran Lina.
b. RIGID BOUNDARIES
Rigid boundaries dapat dikatakan menjadi kutub yg berlawanan dengan porous boundaries. Gampangnya, kita menghasilkan jarak yang tidak terlihat menggunakan orang lain. karakteristik bila kita berada dalam rigid boundaries, misalnya mempunyai aturan yg sangat ketat, tidak pernah bercerita apapun kepada orang lain, ingin terlihat tangguh di depan orang lain dan sebagainya.
model rigid boundaries : Handi adalah teman kerja Lina di perusahaan yg sama. Handi mempunyai kepribadian tertutup semenjak mungil. beliau berusaha sebisa mungkin buat tidak bercerita kesulitan-kesulitan, kehidupan pribadinya atau cita-cita-keinginannya. Pun demikian beliau menjaga jeda yang menurutnya relatif lebar, supaya orang lain tidak banyak bercerita ihwal kehidupan mereka, yang menurut Handi itu membosankan, melelahkan buat beliau dengar, dan tak sebanding menggunakan apa yg sudah beliau lalui. Menurutnya, terlalu banyak bekerjasama dengan orang lain akan amat merepotkan bagi Handi. dia merasa kehidupannya sudah relatif, dengan datang bekerja, mengerjakan bagiannya saja, kemudian pulang ke tempat tinggal tanpa wajib banyak berinteraksi dengan orang lain di lingkungan pekerjaan atau di kawasan yg lainnya.
c. HEALTHY BOUNDARIES
Healthy boundaries ialah pendekatan yg paling ideal. Hal ini dapat terwujud waktu kita menyadari kapasitas emosional, mental dan fisik kita disertai dengan komunikasi yg kentara. Kita belajar untuk dengan nyaman bilang ‘tidak’, mendengarkan pendapat sendiri dan memiliki percakapan dengan orang yg dipercaya tentang batasan yang kita buat. di sisi lain, kita sudah bisa jua menghargai batasan orang lain dan nyaman waktu orang lain bilang ‘tidak’ tanpa wajib merasa tersinggung.
contoh healthy boundaries : Lina, pada contoh masalah porous boundaries, akhirnya menyadari bahwa apa yang dia terapkan di kehidupannya merupakan sesuatu yang menyakiti mental dan fisiknya. ia belajar dan mulai paham akan ialah batasan yang sehat dalam lingkungan kehidupannya. Maka pada hari sibuk Lina yg lainnya, ketika Ari pulang meminta tolong suatu urusan yg seharusnya artinya urusan/pekerjaan eksklusif Ari, Lina memberikan di Ari bahwa mungkin Ari dapat belajar terlebih dahulu supaya bisa mengerjakan urusannya sendiri sambil menunggu saat lengang Lina. serta Bila hingga Lina selesai mengerjakan pekerjaannya serta Ari belum jua bisa mengerjakan urusannya sendiri, barulah Lina akan membantu mengajari Ari bagaimana mengerjakan hal tersebut. Lina belajar bahwa rasa bersalah karena menolak permintaan bantuan Ari adalah sebuah hal yg tak bisa dihindarinya, namun itu ialah hal terbaik bagi kesehatannya sendiri.


