Pentingnya Penyesuaian Diri Bagi Mahasiswa Baru

Pentingnya penyesuaian diri bagi mahasiswa baru merupakan salah satu hal yang sangat penting dilakukan untuk dapat bersosialisasi di lingkungan yang baru.

Agustiani (2009) menyatakan bahwa saat melewati setiap tahap perkembangan, seseorang mengalami berbagai perubahan yang berasal dari dalam dan luar dirinya, seperti aspek biologis, aspek kognitif, aspek lingkungan, dan aspek sosio-emosional. Hal tersebut dapat memunculkan permasalahan tersendiri. Seseorang akan mampu mengatasi permasalahan tersebut jika dirinya memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri.

Pentingnya Penyesuaian Diri Bagi Mahasiswa Baru

Apa Itu Penyesuaian Diri?

Penyesuaian diri merupakan proses yang terdiri dari respon mental dan perilaku sebagai usaha seseorang untuk mengatasi serta menyelaraskan kebutuhan, harapan, dan tuntutan yang berasal dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitarnya melalui upaya-upaya tertentu (Schneiders, 1964; Agustiani, 2009).

Pentingnya Menyesuaikan Diri di Perguruan Tinggi

Saat memasuki lingkungan baru, setiap orang akan menghadapi situasi yang mendorongnya untuk melakukan penyesuaian diri, termasuk mahasiswa baru. Mahasiswa baru diarahkan untuk mengikuti kegiatan akademik dan non- akademik. Selain kegiatan perkuliahan di dalam kelas, mahasiswa baru juga diarahkan untuk mengikuti kegiatan lain seperti orientasi mahasiswa baru dan organisasi kemahasiswaaan.

Namun bagi sebagian mahasiswa baru, berada di perguruan tinggi dapat menjadi situasi yang dipenuhi oleh perubahan dan stres. Mahasiswa baru mengalami top- dog phenomenon, dimana sebelumnya mahasiswa baru yang merupakan siswa senior di Sekolah Menengah Atas (SMA) kembali menjadi mahasiswa junior di perguruan tinggi (Santrock, 2007). Perbedaan kurikulum, disiplin, hubungan  sosial, gaya hidup, cara belajar, tugas-tugas, target pencapaian nilai, dan hal-hal lain menyebabkan mahasiswa kesulitan dalam tahun pertama perkuliahannya (Santrock, 2007).

Penelitian yang dilakukan oleh Ababu, Yigzaw, Besene, dan Alemu (2018) juga menemukan bahwa mahasiswa baru mengalami kesulitan menyesuaikan diri di perguruan tinggi akibat homesickness (distres yang dialami karena berada jauh dari rumah), kesulitan bersosialisasi atau berkenalan dengan orang baru, serta kesulitan mengatur waktu dan kemampuan belajar. Hal-hal tersebut dapat menjadi masalah yang menyebabkan mahasiswa baru kesulitan menyesuaikan diri di perguruan tinggi.

Meskipun demikian, mahasiswa baru juga mendapatkan dampak positif dari proses penyesuaian diri. Dampak positif tersebut muncul dalam bentuk kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi lebih dewasa, memiliki lebih banyak pilihan terkait mata kuliah dan kegiatan yang diikuti, memiliki lebih banyak waktu bersama teman-teman, memiliki kesempatan untuk mencoba nilai dan gaya hidup yang baru, mendapatkan lebih banyak kebebasan dari pengawasan orangtua, serta lebih tertantang oleh tugas kuliah (Halonen & Santrock, 2010). Mahasiswa dikatakan berhasil menyesuaikan diri ketika mereka tetap tinggal di perguruan tinggi, memiliki kesejahteraan psikologis yang baik, dan menunjukkan hasil yang memuaskan secara akademis (Lapsley & Edgerton, 2002).

Maka dari itu, penting bagi setiap mahasiswa baru untuk mengembangkan penyesuaian diri. Mahasiswa dengan penyesuaian diri yang baik merasakan lebih sedikit tekanan sementara mahasiswa dengan penyesuaian diri yang buruk mengalami kesulitan dalam tahun pertama perkuliahannya dan cenderung berperilaku defensif (Hurlock, 1980; Lapsley & Edgerton, 2002).

Bagaimana Cara Menyesuaikan Diri di Perguruan Tinggi?

Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh mahasiswa baru untuk mengembangkan penyesuaian diri di perguruan tinggi (Hadijah, 2018; Sunarto & Hartono, 2018). Cara yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Menggali kemampuan diri

Mahasiswa baru dapat menuliskan kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya untuk memperoleh gambaran terkait potensi yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan. Hal ini tidak terbatas hanya pada kelebihan dan keterbatasan pada bidang akademik, tetapi juga cara membentuk dan mempertahankan relasi dengan orang-orang yang ada di lingkungan perguruan tinggi, seperti mahasiswa lain, dosen, dan pegawai.

Mahasiswa baru juga perlu mencari informasi tentang kegiatan-kegiatan yang ada di perguruan tinggi yang dapat menambah pengalamannya seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan acara yang diadakan di lingkungan perguruan tinggi, dan lomba-lomba seperti karya tulis ilmiah, debat, Liga Mahasiswa, dan sebagainya.

  1. Menyusun perencanaan yang cermat

Berdasarkan pengetahuan terhadap kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki serta informasi tentang kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa baru dapat menyusun rencana tentang tujuan yang ingin dicapai selama berada di perguruan tinggi. Ketika menentukan tujuan, mahasiswa baru juga harus mempertimbangkan faktor-faktor yang berpotensi mendukung maupun menghalanginya untuk mencapai tujuan tersebut.

Mahasiswa baru perlu menyadari bahwa tujuan yang ingin dicapai sebaiknya realistis namun menantang yang mendorongnya untuk bergerak mencapai tujuan yang telah ditentukan. Apabila mahasiswa baru langsung menentukan tujuan yang terlalu sulit, mahasiswa baru dapat menghadapi lebih banyak hambatan dalam upaya mencapai tujuannya.

  1. Melewati proses trial and error atau coba-coba

Setelah menyusun rencana, mahasiswa baru dapat mencoba berpartisipasi dalam beberapa kegiatan yang ada di perguruan tinggi. Saat hasil yang didapatkan dianggap menguntungkan, mahasiswa baru dapat meneruskannya. Ketika hasilnya dianggap kurang menguntungkan, mahasiswa baru dapat berhenti mengikuti kegiatan tersebut. Ketika melewati proses ini, mahasiswa baru juga dapat berkenalan dengan mahasiswa lain yang dapat membantu membangun serta menjalin relasi di perguruan tinggi.

Mahasiswa baru yang melewati proses trial and error juga perlu melakukan penyesuaian terhadap rencana yang telah disusun sebelumnya berdasarkan situasi yang dihadapi.

  1. Melakukan eksplorasi

Jika pada proses trial and error mahasiswa baru lebih cenderung mencoba kegiatan yang ada di perguruan tinggi, proses eksplorasi lebih menekankan pada tingkat berpikir yang lebih tinggi. Saat melakukan eksplorasi, mahasiswa baru lebih fokus pada kegiatan yang sesuai dengan minat, tujuan, dan kemampuannya.

Mahasiswa baru dapat melakukan eksplorasi di UKM, organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan, maupun lomba-lomba. Hal ini kembali kepada pertimbangan mahasiswa baru sehingga mahasiswa baru dapat  meningkatkan keterampilan dan pengetahuan serta mendapatkan teman- teman baru yang dapat membantu untuk menyesuaikan diri di perguruan tinggi.

  1. Secara langsung menghadapi masalah yang muncul

Seperti ketika melakukan kegiatan-kegiatan lain, mahasiswa baru yang berupaya mengembangkan penyesuaian diri juga akan menghadapi permasalahan, baik permasalahan yang datang dari diri sendiri maupun permasalahan yang muncul akibat interaksi dengan orang lain. Ketika hal tersebut terjadi, mahasiswa baru sebaiknya menghadapi permasalahan dan konsekuensinya secara langsung serta meminimalisir munculnya perilaku defensif, agresif, maupun menghindari terhadap permasalahan yang ada. Permasalahan yang dihadapi juga perlu diselesaikan dengan cara yang paling sesuai dengan situasi pada saat itu. Selain menghadapi masalah yang muncul, penting bagi mahasiswa baru untuk berusaha menemukan alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

  1. Melakukan pengendalian diri

Ketika berada lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa baru perlu mengendalikan dirinya dalam berperilaku dan mengekspresikan emosinya. Mahasiswa baru perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda dari dirinya. Jika mahasiswa baru mampu mengendalikan diri, mahasiswa baru juga akan mampu menanggapi situasi yang dihadapi secara rasional ketika berinteraksi dengan orang lain dan mencegah atau meminimalisir munculnya konflik.

Penyesuaian diri di perguruan tinggi memberikan tantangan tersendiri bagi mahasiswa baru. Namun perlu diingat kembali bahwa setiap orang memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk menyesuaikan diri dilingkungan baru. Mahasiswa baru tidak perlu berkecil hati ketika mengalami kegagalan atau merasa bahwa dirinya lebih lambat menyesuaikan diri dibandingkan dengan mahasiswa yang lain. Selama adanya upaya untuk menyesuaikan diri, pada akhirnya mahasiswa baru juga akan mampu mengembangkan penyesuaian diri yang dapat membantunya selama menjalankan perannya sebagai mahasiswa di perguruan tinggi.

Demikian pembahasan mengenai pentingnya penyesuaian diri bagi mahasiswa baru, semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat.

Kampus Digital dan Infrastrukturnya

Kampus Digital

Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai kampus digital.

Kampus digital adalah segala perjuangan untuk mengubah sumber daya kampus yang berbentuk nyata ke dalam bentuk digital berbasis internet.

Melalui alat dan teknologi yang canggih yang sedemikian rupa sehingga kehidupan perguruan tinggi dapat ditingkatkan.

kampus digital dan infrastrukturnya

Pertama, sumber daya kampus mencakup seluruh informasi yang ada pada lingkungan kampus (jadwal perkuliahan dan organisasi, keuangan). Kedua, terdapat sumber daya material (buku maupun materi/modul pembelajaran) hingga aktivitas kampus (proses belajar mengajar dan pelayanan administrasi).

Pada konteks ini, sumber daya tersebut diwujudkan dalam bentuk sistem informasi, seperti sistem informasi akademik, kepegawaian, aset, administrasi akademik, keuangan, kemahasiswaan, perpustakaan, alumni, serta sistem informasi lain yang perlu dikembangkan untuk kepentingan seluruh pihak.

Selain itu, semua sistem informasi tadi diintegrasikan pada bentuk data base. Menggunakan integrasi sistem yang di dukung oleh ICT serta segala infrastrukturnya, sumber daya pada manajemen perguruan tinggi bisa diwujudkan dalam bentuk digital sehingga dapat diakses dan bertransaksi secara on line dimana saja selama 24 jam.

Contohnya, perpustakaan dapat diakses malam hari langsung dari tempat tinggal, tugas dikumpulkan melalui email, pengumuman kampus diakses tanpa harus ke kampus, dan lain sebagainya.

Infrastruktur Kampus Digital

Pandemi COVID-19 membuat semua aktivitas dilakukan dengan bantuan teknologi. beragam aktivitas dilakukan secara daring, tidak terkecuali aktivitas belajar mengajar pada perkuliahan. Selain civitas akademika, kampus pun perlu mempersiapkan diri untuk membentuk universitas dengan basis digital. Untuk menciptakan kampus digital, berikut beberapa infrastruktur yang perlu dipersiapkan oleh universitas.

5 Infrastruktur Kampus Digital

  1. Perangkat digital
    Sistem dan teknologi merupakan 2 hal utama dalam digitalisasi kampus. Forum pendidikan harus menyediakan perangkat teknologi yang lengkap untuk Sivitas Akademika. misalnya, laptop, printer, serta alat teknologi pendukung lainnya.
  1. Sistem akademik kampus
    Digitalisasi pendidikan tinggi sebagai hal utama sebelum forum pendidikan berkiprah ke arah digital. Kampus perlu menyiapkan sistem akademik kampus yang memudahkan pengelolaan data akademik dan  non-akademik. Sistem ini juga dapat membantu kampus ketika melaporkan data akademik ke Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).
  1. Kurikulum berbasis digital
    Semua sistem akan berjalan lancar Jika sudah terdapat kurikulum digital. Pemerintah sudah mencetuskan kurikulum pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, dan  Mathematics).
  1. Platform e-Learning 
    Salah satu infrastruktur kampus digital yang perlu disiapkan forum pendidikan ialah platform belajar online atau e-learning. Pembelajaran daring bisa dilakukan saat yang tidak tentu. Sehingga kampus perlu menyediakan platform e-learning agar mahasiswa tetap dapat belajar meskipun waktu perkuliahan telah berakhir. Platform e-learning ini juga bermanfaat untuk mengasah skill mahasiswa dan sebagai bekal untuk masa depan.
  1. Artificial Intelligence dan machine learning
    Untuk membentuk aktivitas perkuliahan secara digital, forum pendidikan perlu menyampaikan pemahaman perihal Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning yang akan menjadi teknologi masa depan.

Kesimpulannya bahwa kampus digital ialah segala perjuangan yang terstruktur untuk memperbarui sumber daya perguruan tinggi yang terintegrasi berbasis web yang memungkinkan pengguna (dosen, pegawai maupun mahasiswa) untuk bisa berinteraksi serta bertransaksi secara elektronik.