Dampak Childfree untuk Kesehatan

 

Di Indonesia, istilah childfree memang belum begitu dipahami oleh masyarakat luas, istilah ini mulai seringkali didengar bahkan menjadi bahasan diskusi pada aneka macam media. Pada artikel kali ini akan membahas mengenai apa itu childfree, bagaimana dampak childfree untuk kesehatan, dan apakah pasangan bisa hidup bahagia dengan dengan prinsip childfree.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

Apa itu Childfree?

Berdasarkan laman HeylawEdu, istilah childfree mengacu pada keputusan seseorang ataupun pasangan untuk tidak memiliki keturunan atau tidak mempunyai anak. Selain itu, menurut Oxford Dictionary istilah childfree artinya suatu kondisi dimana seseorang atau pasangan tak memiliki anak karena alasan utama yaitu pilihan.

Keputusan childfree ini digunakan oleh seorang perempuan untuk menentukan kebebasannya sebagai seseorang ibu maupun mengalami proses hamil sampai melahirkan. Sejatinya keputusan seorang perempuan atau pasangan untuk childfree adalah keputusan yang bersifat sangat personal. Meskipun begitu, keputusan ini masih dievaluasi tabu di Indonesia.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

Keputusan childfree seorang perempuan dan pasangan, ternyata bisa berdampak pada sisi biologis atau kesehatan. Ada beberapa dampak kesehatan yang dapat dirasakan ketika seseorang perempuan juga pasangan menjalani pernikahan buat childfree.

Menurut sebuah penelitian, perempuan yang tidak memiliki anak memiliki risiko untuk memiliki kesehatan yang lebih jelek dikemudian hari. Tak hanya itu saja, kondisi kesehatan ini juga akan menaikkan risiko kematian dini. Keputusan tak mempunyai anak, juga dapat menaikkan risiko terkena kanker payudara.

Saat seorang wanita hamil dan menyusui, risiko dari terkena kanker payudara akan berkurang, karena terjadi perubahan hormonal ketika menjalani fase hamil serta menyusui.

Ketika seseorang wanita hamil, maka akan mengalami peningkatan progesteron serta mengalami penurunan estrogen, sebagai akibatnya hal tersebutlah yang menghasilkan wanita hamil mampu lebih terlindungi dari risiko terkena kanker.

Ketika seorang wanita hamil, maka ada hormon yang memiliki korelasi dengan pertumbuhan kanker yang akan berkurang juga. Oleh sebab itu, wanita yang tidak mengalami fase hamil bisa mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami kanker.

Beberapa penelitian lain menyebutkan, bahwa perempuan yang menentukan untuk childfree akan mempunyai masa hidup yang cenderung lebih panjang, serta gaya hidup yang lebih sehat. Karena mengurus anak merupakan tanggung jawab yang cukup berat dan melelahkan, baik itu secara pikiran juga fisik.

Sehingga, saat mengurus anak, pikiran yang lelah dari seorang ibu akan diikuti dengan penyakit lain seperti psikosomatik. Psikosomatik artinya suatu kondisi dimana tubuh seorang akan merasa sakit, tapi bukan karena luka melainkan sebab emosi atau pikirannya.

Ada baiknya, seseorang yang memilih buat menjalani pernikahan secara childfree, rutin buat mengecek syarat kesehatan supaya bisa mengetahui lebih dini atau bahkan bisa menurunkan risiko dari beberapa penyakit yg telah disebutkan sebelumnya.

Apakah Pasangan dapat hidup bahagia dengan Keputusan Childfree?

Di Indonesia, masyarakat memiliki perspektif budaya kolektif, dimana warga mengharapkan seseorang yang sudah memasuki usia dewasa untuk menikah dan memiliki anak. Oleh karena itu, ketika seseorang menetapkan untuk tak mempunyai anak, maka muncul keheranan bahkan tekanan sosial, dimana masyarakat akan terus menanyakan tentang kehadiran sang anak.

Selain itu, kehadiran anak, terutama bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dianggap sebagai ‘pelengkap’ dan penentu pasangan yang telah menikah akan merasa bahagia, menjadi faktor penambah rezeki serta lain sebagainya. Kehadiran anak, tentu akan membawa kebahagiaan tersendiri terutama bagi pasangan yang telah menikah. Meskipun begitu, bukan berarti bahwa pasangan yang memutuskan untuk childfree tidak dapat mencicipi kebahagiaan.

Saat pasangan mempunyai anak, maka tentu saja fokus dari ibu dan ayah akan terbagi. Ayah harus memikirkan bagaimana memperoleh penghasilan yang cukup, karena ada anggota keluarga baru yang kebutuhannya wajib dipenuhi. Sedangkan ibu tentu cenderung lebih fokus pada perkembangan anak. Diantara kesibukan ibu dan ayah, keduanya pun harus sama-sama fokus memantau serta ikut berperan pada perkembangan anak.

Hal ini akan mengakibatkan pasangan cenderung lupa bahkan tidak menerima perhatian secara penuh, terutama apabila dibandingkan dengan masa pernikahan sebelum mempunyai anak.

Ketika tidak mempunyai anak, pasangan akan lebih fokus pada diri sendiri dan pada pasangan. Kemungkinan, romansa pernikahan pun juga bisa terjaga. Meskipun tentu tidak menutup kemungkinan, bila anak bisa menyebabkan kisah cinta pernikahan hilang. Selain waktu, uang dan tenaga yang dikhususkan untuk anak, bisa digunakan untuk membantu mencapai tujuan hidup, bahkan mimpi-mimpi pasangan yang belum terwujud.

Misalnya mengejar karier, liburan keliling dunia, dan lain sebagainya. Tak pelak, saat pasangan memiliki anak, tentu fokus untuk mewujudkan impian akan sedikit lambat, terutama jika hidup secara pas-pasan.