Faktor yang Mempengaruhi Childfree

Tekanan sosial yang dihadapi oleh pasangan yang memutuskan untuk childfree, terutama di Indonesia mungkin akan sangat tinggi. Mengingat penjelasan tentang perspektif budaya kolektif warga Indonesia, mengenai pernikahan serta memiliki anak yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada artikel kali ini akan membahas mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang memutuskan untuk childfree.

Salah satu alasan yang relatif menarik pasangan memilih untuk childfree ialah karena berkaitan dengan isu maupun persoalan lingkungan. Mereka menilai bahwa populasi penduduk bumi semakin meningkat, tetapi populasi tersebut tidak sejalan dengan kesehatan bumi dan ketersediaan pangan. Umumnya merasa tidak yakin merawat maupun mengasuh anak. sehingga hal tersebut pun sebagai suatu kekhawatiran bagi pasangan.

Faktor yang Memutuskan Childfree

Terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi seorang perempuan atau pasangan memutuskan untuk childfree, diantaranya yaitu :

1. Latar Belakang Keluarga

Alasan pertama yang menyebabkan seseorang atau pasangan memilih untuk childfree artinya sebab ia mempunyai masa lalu sendiri tentang keluarganya. Ia tumbuh dan melihat apa yg terjadi pada keluarganya, sehingga apa yang dia lihat semasa kecil juga akan mempengaruhi pilihannya saat ia dewasa.
Begitu juga tentang kenangan yang kurang baik dan perasaan kecewa yang didapatkan selama masa anak-anak. Kedua hal tersebut bisa menjadi alasan terbesar, kenapa pasangan atau seorang wanita memilih buat childfree.

Latar belakang keluarga pun dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk childfree, yaitu saat seseorang mempunyai keluarga yang memberikan kebebasan padanya untuk memilih dan menetapkan segala hal. Sehingga, ketika ia memutuskan untuk childfree, ia tidak akan mendapatkan tekanan dan tanpa penghakiman dari pihak keluarga. Justru sebaliknya, ia akan merasa didukung.

2. Isu lingkungan

Over populasi menjadi isu yang cukup hangat saat ini. Populasi manusia semakin banyak di bumi, tapi tak sebanding dengan jumlah kerusakan lingkungan dan ketersediaan pangan yang meningkat .
Sebagian individu, baik yang sudah berpasangan atau bahkan masih sendiri pun menyadari isu tersebut, sehingga mereka merasa prihatin dengan isu tersebut serta menentukan untuk childfree. Harapannya, tentu saja mereka tidak ingin menambah populasi yang sudah ada.

3. Kondisi Finansial

Membesarkan dan merawat anak bukanlah hal yang mudah, diperlukan persiapan mental dan finansial yang matang. Ketika pasangan telah menetapkan untuk childfree, kemungkinan mereka sudah memperhitungkan kemampuan finansial.

Apabila pada perhitungan tersebut, rupanya pasangan maupun individu merasa tidak mampu, maka mereka pun menetapkan untuk childfree. Sehingga, mereka akan lebih fokus mengalokasikan dana untuk kebutuhan pribadi yang nominalnya tidak sedikit.

4. Mempunyai kekhawatiran, bahwa mereka tidak mampu membesarkan anak dengan baik

Biasanya pasangan atau individu cenderung memiliki kekhawatiran, bahwa mereka tak bisa membesarkan anak dengan baik. Atau pasangan atau individu tersebut belum matang serta belum siap secara mental untuk memiliki seseorang anak. Hal ini dikarenakan kondisi mental setiap orang berbeda-beda. Akan muncul kekhawatiran  apakah anak akan merasa senang , apakah kebutuhannya tercukupi, apakah ia mampu membesarkan anak dengan mental serta fisik yang sehat dan lain sebagainya.

5. Memiliki Problem Maternal Instinct

Maternal instinct artinya kondisi dimana kemampuan emosional dari seorang wanita, khususnya seorang ibu dalam memilih hal-hal yang benar dan salah saat beliau membesarkan seorang anak.

Sebagian orang mungkin memiliki anggapan, bahwa maternal instinct memiliki peran yang penting untuk dimiliki oleh seorang ibu, alasannya adalah sebab maternal instinct berhubungan dengan kemampuan seseorang ibu untuk melindungi anak-anaknya.

Beberapa perempuan merasa khawatir, bahwa mereka tak memiliki maternal instinct, dan tidak percaya diri bahwa mereka akan menjadi seorang ibu yang baik sesuai dengan harapan anak atau dirinya.

6. Kondisi fisik tertentu

Beberapa perempuan atau pasangan mungkin mempunyai kondisi fisik tertentu yang membuat dirinya tidak bisa mempunyai seorang anak, misalnya mengidap penyakit keturunan dan lain-lain.

7. Alasan personal

Faktor yang terakhir merupakan karena alasan personal dari seseorang atau pasangan, hanya saja mereka memilih untuk childfree, sebab mereka merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Bahkan, beberapa orang mempunyai pandangan bahwa akan baik secara finansial dan fisik untuk menentukan childfree.

Demikian pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perempuan atau pasangan memutuskan untuk childfree. Karena apapun kondisi yang terjadi dalam suatu hubungan, merupakan hak masing-masing individu.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

 

Di Indonesia, istilah childfree memang belum begitu dipahami oleh masyarakat luas, istilah ini mulai seringkali didengar bahkan menjadi bahasan diskusi pada aneka macam media. Pada artikel kali ini akan membahas mengenai apa itu childfree, bagaimana dampak childfree untuk kesehatan, dan apakah pasangan bisa hidup bahagia dengan dengan prinsip childfree.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

Apa itu Childfree?

Berdasarkan laman HeylawEdu, istilah childfree mengacu pada keputusan seseorang ataupun pasangan untuk tidak memiliki keturunan atau tidak mempunyai anak. Selain itu, menurut Oxford Dictionary istilah childfree artinya suatu kondisi dimana seseorang atau pasangan tak memiliki anak karena alasan utama yaitu pilihan.

Keputusan childfree ini digunakan oleh seorang perempuan untuk menentukan kebebasannya sebagai seseorang ibu maupun mengalami proses hamil sampai melahirkan. Sejatinya keputusan seorang perempuan atau pasangan untuk childfree adalah keputusan yang bersifat sangat personal. Meskipun begitu, keputusan ini masih dievaluasi tabu di Indonesia.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

Keputusan childfree seorang perempuan dan pasangan, ternyata bisa berdampak pada sisi biologis atau kesehatan. Ada beberapa dampak kesehatan yang dapat dirasakan ketika seseorang perempuan juga pasangan menjalani pernikahan buat childfree.

Menurut sebuah penelitian, perempuan yang tidak memiliki anak memiliki risiko untuk memiliki kesehatan yang lebih jelek dikemudian hari. Tak hanya itu saja, kondisi kesehatan ini juga akan menaikkan risiko kematian dini. Keputusan tak mempunyai anak, juga dapat menaikkan risiko terkena kanker payudara.

Saat seorang wanita hamil dan menyusui, risiko dari terkena kanker payudara akan berkurang, karena terjadi perubahan hormonal ketika menjalani fase hamil serta menyusui.

Ketika seseorang wanita hamil, maka akan mengalami peningkatan progesteron serta mengalami penurunan estrogen, sebagai akibatnya hal tersebutlah yang menghasilkan wanita hamil mampu lebih terlindungi dari risiko terkena kanker.

Ketika seorang wanita hamil, maka ada hormon yang memiliki korelasi dengan pertumbuhan kanker yang akan berkurang juga. Oleh sebab itu, wanita yang tidak mengalami fase hamil bisa mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami kanker.

Beberapa penelitian lain menyebutkan, bahwa perempuan yang menentukan untuk childfree akan mempunyai masa hidup yang cenderung lebih panjang, serta gaya hidup yang lebih sehat. Karena mengurus anak merupakan tanggung jawab yang cukup berat dan melelahkan, baik itu secara pikiran juga fisik.

Sehingga, saat mengurus anak, pikiran yang lelah dari seorang ibu akan diikuti dengan penyakit lain seperti psikosomatik. Psikosomatik artinya suatu kondisi dimana tubuh seorang akan merasa sakit, tapi bukan karena luka melainkan sebab emosi atau pikirannya.

Ada baiknya, seseorang yang memilih buat menjalani pernikahan secara childfree, rutin buat mengecek syarat kesehatan supaya bisa mengetahui lebih dini atau bahkan bisa menurunkan risiko dari beberapa penyakit yg telah disebutkan sebelumnya.

Apakah Pasangan dapat hidup bahagia dengan Keputusan Childfree?

Di Indonesia, masyarakat memiliki perspektif budaya kolektif, dimana warga mengharapkan seseorang yang sudah memasuki usia dewasa untuk menikah dan memiliki anak. Oleh karena itu, ketika seseorang menetapkan untuk tak mempunyai anak, maka muncul keheranan bahkan tekanan sosial, dimana masyarakat akan terus menanyakan tentang kehadiran sang anak.

Selain itu, kehadiran anak, terutama bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dianggap sebagai ‘pelengkap’ dan penentu pasangan yang telah menikah akan merasa bahagia, menjadi faktor penambah rezeki serta lain sebagainya. Kehadiran anak, tentu akan membawa kebahagiaan tersendiri terutama bagi pasangan yang telah menikah. Meskipun begitu, bukan berarti bahwa pasangan yang memutuskan untuk childfree tidak dapat mencicipi kebahagiaan.

Saat pasangan mempunyai anak, maka tentu saja fokus dari ibu dan ayah akan terbagi. Ayah harus memikirkan bagaimana memperoleh penghasilan yang cukup, karena ada anggota keluarga baru yang kebutuhannya wajib dipenuhi. Sedangkan ibu tentu cenderung lebih fokus pada perkembangan anak. Diantara kesibukan ibu dan ayah, keduanya pun harus sama-sama fokus memantau serta ikut berperan pada perkembangan anak.

Hal ini akan mengakibatkan pasangan cenderung lupa bahkan tidak menerima perhatian secara penuh, terutama apabila dibandingkan dengan masa pernikahan sebelum mempunyai anak.

Ketika tidak mempunyai anak, pasangan akan lebih fokus pada diri sendiri dan pada pasangan. Kemungkinan, romansa pernikahan pun juga bisa terjaga. Meskipun tentu tidak menutup kemungkinan, bila anak bisa menyebabkan kisah cinta pernikahan hilang. Selain waktu, uang dan tenaga yang dikhususkan untuk anak, bisa digunakan untuk membantu mencapai tujuan hidup, bahkan mimpi-mimpi pasangan yang belum terwujud.

Misalnya mengejar karier, liburan keliling dunia, dan lain sebagainya. Tak pelak, saat pasangan memiliki anak, tentu fokus untuk mewujudkan impian akan sedikit lambat, terutama jika hidup secara pas-pasan.