Pada artikel kali ini akan membahas mengenai mengenal tanda seseorang memiliki emotional abuse. Emotional abuse artinya perlakukan menghina seseorang, mempermalukan, serta mengakibatkan rasa takut orang lain.
Emotional Abuse
Pelecehan emosional (Emotional Abuse) ialah jenis pelecehan yang seringkali kali tidak terlihat serta tidak terdeteksi. Tidak sama dengan kekerasan fisik, kekerasan ini tidak meninggalkan bekas luka yang terlihat.
Sebagai akibatnya sulit untuk dikenali serta diatasi. Pelecehan emosional bisa terjadi dalam berbagai bentuk, seperti meremehkan, memanipulasi, mengucilkan, dan mengancam.
Ini adalah tindakan mengendalikan seseorang melalui manipulasi emosional dan dapat terjadi dalam semua jenis korelasi, termasuk hubungan kekeluargaan, atau profesional. Konsekuensi dari pelecehan emosional sama buruknya dengan kekerasan fisik, sebab dapat menyebabkan rendahnya harga diri, depresi, bahkan pikiran untuk bunuh diri.
Sangat penting untuk mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang tanda pelecehan emosional, guna menciptakan lingkungan yang aman serta mendukung bagi mereka yang mungkin mengalaminya.
Pelaku kekerasan sering kali memakai kalimat yang mengikis rasa percaya diri korban serta membentuk mereka mewaspadai nilai diri mereka. Hal ini bisa mengakibatkan korban merasa galau serta terisolasi.
Pelecehan emosional bisa melibatkan perilaku pengendalian, dimana pelaku membatasi akses korban terhadap sahabat, famili, atau aktivitas yang mereka sukai. Hal ini dapat mengakibatkan rasa ketergantungan pada pelaku serta perasaan terputus dari orang lain.

Pelecehan jenis ini bisa dimulai dengan perilaku kecil seperti menggoda atau bercanda, namun dapat semakin tinggi sebagai bentuk manipulasi dan kontrol yang lebih parah seiring berjalannya waktu.
Korban pelecehan emosional mungkin merasa terjebak dalam hubungan tersebut, karena pelaku mungkin menggunakan rasa bersalah atau ancaman untuk mencegah mereka pergi.
Mengenal Tanda Emotional Abuse
Meski demikian, ternyata tidak banyak orang menyadari bahwa mereka menjadi korban emotional abuse. Berikut ini beberapa tanda seseoran menjadi korban emotional abuse, diantaranya yaitu :
- Kerap menyampaikan reaksi yang hiperbola
Menyampaikan pendapat sebuah kejelasan kepada seseorang dan berakhir dengan disalahkan. Seseorang yang melakukan emotional abuse tidak akan pernah bersedia menyampaikan validasi atas perasaan korbannya.
Pelaku selalu bersikap bahwa korban selalu keliru, sehingga akan terus menurutinya. - Selalu membuat korban merasa bersalah
Setiap orang memiliki batasan masing-masing. Tetapi, pelaku emotional abuse akan melanggar batasan tadi serta membuat korbannya tunduk. Hingga dirancang merasa bersalah bila tidak mengikuti kemauannya.
Tujuan dari pelaku pelecehan ini adalah menghasilkan orang tadi berpikir bahwa korban bertanggung jawab atas kesulitannya, meskipun itu bukan kesalahan. - Berusaha mengancam
Apabila memiliki pasangan yang selalu mengancam jika keinginannya tidak dituruti, hal itu merupakan indikasi emotional abuse yang kerap sulit dikenali. Sebab, tidak sedikit orang berpikir bahwa ancaman ialah salah satu perilaku tegas. - Selalu berusaha mengendalikan segala hal
Mulai dari apa yang dilakukan, dikatakan, hingga dikenakan. Segalanya berusaha untuk dikendalikan. Tanda ini merupakan satu karakteristik khas emotional abuse.
Pelaku memang tak mengandalkan kekerasan fisik, tapi justru memainkan strategi psikologis untuk memanipulasi dan mengintimidasi korbannya.
Pelaku mencoba mengendalikan segalanya hingga membuatmu merasa bergantung. Jika dibiarkan, akan menjadi toxic. Wajib bisa membedakan antara memberi saran dengan mengendalikan. -
Membuat lelucon yang meremehkan
Tidak ada yang keliru jika bercanda dengan seseorang, tetapi, apabila sampai meremehkan, maka perlu untuk menyadarinya.
Jangan berikan toleransi pada orang yang menyampaikan lelucon meremehkan dengan alasan “hanya bercanda”. Sebab, dengan begitu artinya tidak menghormati diri sendiri.
Perasaan diremehkan tidak hanya bisa muncul lewat lelucon, akan tetapi saat menerima kritikan. Jika dikritik atau dimarahi didepan awam dengan kalimat meremehkan, maka dapat dikatakan sebagai indikasi emotional abuse.
Bila ada orang yang dikenal mengalami pelecehan emosional, penting untuk mencari bantuan. Berbicara dengan sahabat atau anggota famili yang tepercaya, atau mencari konseling profesional agar dapat menyampaikan dukungan dan bimbingan ketika menghadapi situasi tertentu.
Krusial untuk diingat bahwa pelecehan emosional bukanlah kesalahan diri, dan berhak memutuskan batasan dan memprioritaskan kesejahteraan Anda sendiri.
Dengan membuatkan kesadaran serta pemahaman perihal pelecehan emosional, kita dapat membentuk lingkungan yang lebih safety dan mendukung bagi mereka yang mungkin mengalaminya.
Penting untuk dipahami bahwa pelecehan emosional bukanlah kejadian yang terjadi satu kali saja, melainkan suatu pola sikap yang dapat berdampak jangka panjang pada kesejahteraan mental serta emosional korban.


