Unsur & Proses Pembentukan Karakter

Setelah membahas pengertian dari karakter, pada artikel kali ini akan membahas unsur dan proses dari pembentukan karakter.

Unsur & Proses Pembentukan Karakter

Dari pengertian karakter yang telah dijelaskan oleh para ahli, maka bisa disimpulkan bahwa karakter seseorang dipengaruhi oleh sikap seseorang. Apakah itu baik atau jelek, maka akan ikut berpengaruh pada karakternya.Menurut para ahli, karakter seseorang bukanlah suatu bawaan dari lahir, akan tetapi dibentuk secara perlahan dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, maupun keluarga.

Unsur yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter

Selain keluarga dan lingkungan sekitar, ada beberapa unsur yang saling mempengaruhi sehingga membentuk karakter seseorang. Berikut ini unsur-unsur tersebut.

  1. Emosi

    Pada umumnya, definisi dari emosi adalah suatu perasaan atau suatu gejolak jiwa yang muncul dari dalam diri seseorang sebagai dampak dari adanya rangsangan, baik itu dari dalam diri seseorang ataupun dari luar. Emosi identik dengan suatu perasaan yang kuat.

  2. Sikap

    Sikap seorang individu ialah bagian dari karakter dirinya, bahkan sikap seseorang bisa dianggap sebagai cerminan karakter orang tersebut. Dalam hal ini, sikap seorang individu pada sesuatu yang ada dihadapannya, akan menerangkan bagaimana bentuk atau wujud karakter yang dimiliki oleh orang tersebut. Jadi, jika ada seseorang yang memiliki sikap baik pada orang lain, maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut juga memiliki karakter yang baik pula. Begitu pula sebaliknya, ketika seseorang memiliki sikap buruk, maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut memiliki karakter yang buruk pula.

  3. Kepercayaan

    Kepercayaan bahwa ada suatu hal yang benar ataupun salah atas dasar sugesti otoritas, bukti, pengalaman serta intuisi sangat krusial dalam pembangunan karakter seorang individu. Sehingga, kepercayaan yang dimiliki oleh seorang individu akan memperkukuh individu tersebut dalam hal eksistensi diri dan memperkukuh relasi dirinya dengan orang lain.

  4. Kebiasaan dan Kemauan

    Kebiasaan adalah perilaku manusia yang menetap, berlangsung dengan otomatis untuk waktu yang lama, biasanya tidak terencana dan diulangi terus menerus, berkali-kali. Sementara itu, kemauan adalah suatu kondisi yang sangat mencerminkan karakter seseorang dikarenakan kemauan tersebut berkaitan erat dengan tindakan yang dapat mencerminkan perilaku dari orang tersebut.

  5. Konsepsi Diri atau Self Conception

    Konsepsi diri merupakan proses totalitas yang dilakukan baik secara sadar atau tidak sadar mengenai bagaimana karakter serta diri seorang individu dibentuk. Sehingga, konsepsi diri merupakan bagaimana cara seorang individu membangun diri serta apa yang diinginkan oleh individu tersebut dan bagaimana individu tersebut menempatkan dirinya dalam kehidupan. Secara sederhananya, konsepsi diri atau konsep diri adalah cara pandang atau sikap seorang individu pada dirinya sendiri. Konsep diri ini memiliki hubungan eat dengan dimensi fisik, motivasi diri serta karakter individu.

Proses Pembentukan Karakter

Telah dijelaskan pada awal artikel, bahwa karakter seseorang tidak lahir dengan orang tersebut, melainkan terbentuk oleh beberapa faktor. Pembentukan karakter seorang individu perlu melalui suatu proses pembelajaran yang panjang.

Karakter seseorang akan mulai terbentuk melalui lingkungannya, keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar. Beberapa pihak memiliki peranan krusial dalam pembentukan karakter seorang individu, diantaranya yaitu orang tua, saudara, teman sebaya, guru dan orang lainnya yang berada di sekitar individu tersebut.

Menurut Lickona, bahwa pembentukan karakter seseorang terbentuk karena suatu kebiasaan-kebiasaan yang terus bertahan dari kecil hingga masa remaja. Orang tua memiliki pengaruh baik serta buruk yang akhirnya akan membentuk kebiasaan dari anak-anaknya.

Setiap individu tentunya memiliki pengalaman hidup yang bersumber dari lingkungan sekitar, keluarga, sekolah. Pengalaman hidup seseorang juga bisa diperoleh melalui buku, televisi, internet dan sumber lainnya yang memiliki potensi untuk dapat menambah pengetahuan seseorang.

Dalam proses mendapatkan pengalaman hidup tersebut, peran dari pikiran sadar seseorang sangatlah dominan. Sehingga pikiran akan melakukan proses penyaringan pada informasi yang masuk dalam diri melalui panca indera manusia.

Pola pikir dan sistem kepercayaan yang ada pada diri seseorang yang semakin matang, maka akan membentuk tindakan-tindakan, kebiasaan serta karakter unik yang dimiliki oleh setiap individu. Hal ini berarti, setiap individu memiliki suatu sistem kepercayaan atau belief system, citra diri atau self image serta kebiasaan atau habit unik.

Mengapa karakter seseorang harus dibentuk?

Tujuan dari pembentukan karakter pada dasarnya adalah untuk mendorong kembali lahirnya anak-anak dengan sifat atau karakter yang baik. Dengan tumbuh kembang karakter baik, maka akan mendorong anak-anak untuk tumbuh dengan kapasitas komitmen agar mampu melakukan berbagai macam hal yang terbaik bagi dirinya serta dapat melakukan segala sesuai dengan benar.

Demikian pembahasan mengenai unsur dan proses pembentukan karakter pada anak. Diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan lingkungan yang baik dan terus mengawasi tindakan maupun perilaku anak.

Disfungsi Keluarga dan Akibatnya

Pada kesempatan kali ini akan membahas mengenai disfungsi keluarga dan akibatnya. Peran keluarga sangat penting dalam kehidupan seorang individu apalagi seorang anak. Akan terjadi banyak sekali masalah jika seorang anak mengalami disfungsi keluarga dalam hidupnya. Berikut ini diberikan contoh kasus disfungsi keluarga, dan apa fungsi keluarga serta karakteristik keluarga disfungsi.

Rio sedang menikmati satu linting ganja di rumah pamannya saat polisi datang menggerebek rumah tersebut. Ia, paman, dan dua orang teman pamannya itu sedang berpesta. Rio tinggal bersama ibunya yang merupakan orang tua tunggal. Ayah dan ibunya bercerai sejak usianya 10 tahun dan telah menikah lagi. Semenjak mengkonsumsi narkoba, Rio kerap menjual barang-barang rumah tangga di rumah milik ibunya seperti gas, tv, dan barang lainnya. Ia mengaku rumah nya kemalingan agar ibunya tidak curiga.

Sementara itu, Nia, 17 tahun, telah menjalani rehabilitasi sosial selama satu bulan di Balai Rehabiilitasi Sosial Anak. Dia dan dua temannya dibawa ke Balai karena terlibat dalam prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur, termasuk dirinya. Sama seperti Rio, ayah dan ibu Nia sudah lama berpisah. Ia diasuh oleh neneknya sejak usia nya 5 tahun. Ibu dan ayahnya sudah menikah lagi dan memiliki keluarga masing-masing. Ia mengaku terpaksa terlibat prostitusi karena butuh uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Sejak neneknya meninggal dua tahun lalu, Nia tinggal sendiri dikos-kosan, oleh karena itu dia butuh uang agar bisa bertahan hidup.

Di sisi lain, ada Dio, 16 tahun, yang sudah hidup di jalan sejak dua tahun lalu. Dio memutuskan keluar dari rumah karena tidak tahan atas tindak kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya. Ia dan adik-adiknya menyaksikan kekerasan yang dilakukan ayah kepada ibunya. Ia bahkan masih ingat bagaimana ayahnya membenturkan kepalanya ke tembok karena ia membela ibunya. Sebelum tinggal di jalan, Dio tinggal di rumah neneknya. Ia kerap mencoba menghubungi ayah atau ibunya untuk sekedar meminta uang jajan. Terakhir ia meminta uang Rp. 50.000 untuk berobat namun tidak digubris. Kekecewaan ini akhirnya membuat Dio memutuskan untuk mengurus hidupnya sendiri dengan turun ke jalan dan menjadi pengamen, uangnya ia gunakan untuk makan, membeli rokok, dan juga membeli obat-obatan terlarang seperti eksimer.

Tiga kasus di atas memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama memiliki keluarga yang disfungsional dan lingkungan yang mendukung perilaku negatif. Anak-anak pada kasus di atas berasal dari keluarga dengan latar belakang yang tidak kondusif untuk perkembangan mereka. Dua anak berasal dari keluarga broken home, sedangkan satu anak (walaupun kedua orang tuanya masih bersama) memiliki orang tua yang abusive.

Pada hakikatnya, keluarga adalah unit sosial terkecil yang bertanggung jawab pada stabilitas dan kontinuitas suatu masyarakat. Keluarga menjadi cikal bakal komunitas yang besar. Sulit membayangkan bagaimana suatu komunitas atau masyarakat dapat terbentuk atau bertahan tanpa adanya keluarga.

Disfungsi Keluarga dan Akibatnya

Fungsi Keluarga

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terdapat delapan fungsi keluarga yang menjadi prasyarat, acuan, dan pola hidup setiap keluarga untuk mewujudkan keluarga sejahtera dan berkualitas. Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi, ekonomi, dan lingkungan.

  • Fungsi agama
    Keluarga adalah tempat penanaman nilai agama sejak dini agar anak tumbuh menjadi karakter yang agamais, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keluarga juga menjadi tempat pengenalan nilai-nilai budaya bangsa yang sarat akan nilai dan adab ketimuran. Anak kelak akan tumbuh menjadi warga negara Indonesia, dan ini akan melekat padanya, sehingga ia harus memahami bagaimana budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsanya sendiri.
  • Fungsi cinta dan kasih sayang.
    Afeksi dari orang tua adalah kebutuhan paling utama bagi anak-anak. Interaksi yang saling menyayangi dan penuh kasih antar keluarga akan menjadikan keluarga dan rumah sebagai tempat paling berharga bagi anak.
  • Fungsi perlindungan
    Keluarga adalah tempat berlindung dan pelindung paling utama. Anak seharusnya merasakan rasa aman dan nyaman saat bersama keluarga.
  • Fungsi sosialisasi
    Keluarga juga merupakan tempat sosialisasi pertama bagi anak. Di sini lah fungsi keluarga sangat dibutuhkan. Fungsi sosialisasi yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan anak yang cerdas secara kognitif dan membentuk peribadi yang berkarakter mulia.
  • Fungsi lingkungan
    Yaitu fungsi mempromosikan dan mendorong kesadaran anak akan  pentingnya lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman.
  • Fungsi reproduksi
    Keluarga menjadi tempat untuk memperkenalkan dan menanamkan fungsi reproduksi. Reproduksi yang sehat dan terencana akan melahirkan generasi penerus yang baik dan berkualitas.
  • Fungsi ekonomi
    Orangtua wajib memberikan nafkah atau memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi. Keluarga juga merupakan tempat untuk membina dan menanamkan nilai-nilai keuangan. Tidak hanya itu, keluarga diharapkan dapat membina perencanaan keuangan keluarga sehingga terwujud keluarga yang sejahtera.

Apabila keluarga tidak mampu menerapkan fungsi-fungsi di atas, maka keluarga tersebut dapat dikatakan mengalami disfungsi yang berpotensi merusak kekokohan keluarga yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang, dan kepribadian anak.

Karakteristik Keluarga Disfungsi

Menurut Hawari (2004) terdapat beberapa karakteristik keluarga disfungsional, yaitu :

  • Adanya kematian salah satu atau kedua orangtuanya
  • Kedua orangtua berpisah atau bercerai (divorce)
  • Hubungan kedua orangtua tidak baik (poor marriage)
  • Hubungan orangtua dengan anak tidak baik (poor parent–child relationship); Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan (high tension and low warmth)
  • Orangtua sibuk dan jarang berada di rumah (parent’s absence)
  • Salah satu atau kedua orangtua memiliki kelainan kepribadian atau gangguan kejiwaan (personality or psychological disorder).

Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara disfungsi keluarga dengan gangguan tingkah laku pada anak. Semakin tinggi tingkat difungsi keluarga, maka semakin tinggi pula resiko anak mengalami gangguan perilaku. Selain itu, ketidakberfungsian keluarga juga berkontribusi pada faktor yang menyebabkan anak terlibat dalam perbuatan kriminal.

Terdapat beberapa situasi keluarga dimana anak-anak beresiko menjadi anak nakal, yaitu dimana anak-anak merasa tidak diterima atau ditolak oleh orang tua, tidak dikontrol  secara memadai oleh orang tua, dan tumbuh di rumah dengan banyak konflik. Penolakan orang tua adalah hal yang paling berpengaruh pada kenakalan remaja. Penolakan ini bisa berbentuk tidak adanya perhatian pada aktivitas sehari-hari anak. Orang tua perlu mengetahui dimana anak berada, dengan siapa, dan apa yang dilakukannya, agar anak merasa diperhatikan.

Meskipun demikian, kenakalan dan tindakaan kriminal yang dilakukan remaja cenderung disebabkan oleh perkembangan normatif yang tidak tuntas. Anak tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, merasa tidak perlu mematuhi standar norma dan niai yang berlaku di masyarakat, dan tidak menunjukkan rasa hormat pada hak dan kesejahteraan orang lain. Selain itu, tidak semua anak-anak yang tumbuh dalam keluarga disfungsional menjadi anak nakal dan berbuat kriminal.

Namun pada akhirnya, keluarga lah yang berperan penting dalam menanamkan nilai moral pada anak. Pengasuhan yang baik adalah tiang dan penyangga yang akan mencegah perilaku negatif dan membantu remaja dalam melindungi diri dari kenakalan yang lebih buruk.

Demikianlah pembahasan mengenai disfungsi keluarga dan akibatnya, semoga dapat menjadi inspirasi para pembaca untuk lebih mengenal lingkungan sekitar.

*nama anak pada kasus disamarkan
Sumber : Pusat Penyuluhan Sosial, Kementerian Sosial