Karakteristik Asam Lambung Naik

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai karakteristik asam lambung naik. Asam lambung naik atau yang dikenal dengan GERD dapat ditandai dengan timbulnya beberapa tanda-tanda. Salah satu tanda yang menjadi karakteristik khusus dari kondisi ini yaitu keluarnya rasa panas serta tidak nyaman dibagian dada. Kondisi ini bisa terjadi pada siapapun, baik anak-anak maupun orang dewasa. Krusial untuk memahami tentang apa saja yang menjadi karakteristik asam lambung naik.

Karakteristik Asam Lambung Naik

Asam lambung

Asam lambung yang naik ke kerongkongan mampu menyebabkan terjadinya sensasi terbakar pada area dalam dada atau yang juga dinamakan heartburn. Kondisi ini umum diklaim dengan kata GERD. Walaupun penyakit ini tidak menyebabkan kematian, bukan berarti bisa disepelekan. Apabila tak ditangani dengan baik, kondisi ini akan mengakibatkan berbagai komplikasi pada kesehatan. Oleh sebab itu, sangat penting untuk segera melakukan penanganan untuk mengatasi penyakit GERD. Lantas, apa saja karakteristik dari asam lambung naik?

Sebaiknya, jangan menyepelekan kondisi nyeri dada yang dapat menyebabkan rasa panas atau heartburn yang timbul pasca mengonsumsi makanan juga minuman dengan kandungan kafein tinggi. Bisa jadi kondisi ini ialah faktor yang menyebabkan naiknya asam lambung. Penyakit asam lambung nyatanya kerap kali disalahartikan menjadi penyakit gangguan jantung karena gejala utama dari 2 kondisi tadi hampir sama, yakni ada rasa nyeri pada bagian dada.

Kondisi ini bisa terjadi sebab zat asam yang berasal dari lambung naik sampai ke kerongkongan. Hal tersebut akan menyebabkan dinding kerongkongan sampai mulut mengalami iritasi. Saat hal ini terjadi, maka akan terdapat sensasi panas dan terbakar pada dada atau heartburn serta rasa tidak nyaman di bagian perut. Kondisi ini akan semakin terasa ketika pengidap mengonsumsi makanan atau berbaring.

Karakteristik Asam Lambung Naik

Dikutip dari American Academy of Allergy Asthma and Immunology, selain heartburn serta rasa asam pada mulut, terdapat tanda lain yang menjadi ciri-ciri dari naiknya asam lambung, seperti rasa lebih cepat kenyang, lebih sering bersendawa, sakit tenggorokan, muntah, mual, produksi air liur berlebih, bau mulut, dan mengalami batuk kering.

Meski demikian, kondisi ini masih dianggap lumrah apabila tidak terjadi selama beberapa hari, hanya terjadi sebanyak 1–2 kali dalam kurun waktu satu bulan sesudah mengonsumsi makanan pedas dan berlemak, serta muncul gejala setelah mengonsumsi makanan pada jumlah banyak.

GERD bisa menjadi salah satu pertanda adanya gangguan kesehatan. Hal ini menyebabkan gejala terjadi di kurun waktu yang panjang  menyebabkan muntah yang bercampur dengan darah, rasa nyeri sampai ke rahang, serta disertai dengan sesak napas. Anda bisa segera lakukan pemeriksaan pada tempat tinggal sakit terdekat buat penanganan keluhan yang tengah dialami.

Melemahnya otot pada bagian kerongkongan nyatanya adalah salah satu penyebab mengapa seseorang mampu mengalami penyakit GERD. Pada pengidap asam lambung, otot tidak bisa menutup dengan rapat sehingga mengakibatkan asam lambung naik kembali dan menuju kerongkongan.

Ada berbagai kondisi yang mampu menaikkan risiko melemahnya otot di bagian kerongkongan, seperti usia lanjut, obesitas, kondisi hamil, terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas, mengonsumsi alkohol, merokok, dan mengalami stres pun bisa menyebabkan otot kerongkongan tak bekerja memakai maksimal.

Tidak sekadar gaya hidup serta pola makan saja, nyatanya asam lambung naik juga mampu disebabkan oleh adanya beberapa penyakit seperti gastroparesis, scleroderma, serta hernia hiatus.

Untuk mencegah risiko dari penyakit ini, cobalah untuk menerapkan gaya hidup sehat setiap hari, mengonsumsi makanan yang tidak memicu sakit tenggorokan, serta lengkapi asupan nutrisi dengan kontribusi suplemen tambahan.

Cegah Stunting Sebelum Genting

Cegah Stunting Sebelum Genting: peran Remaja pada Pencegahan Stunting

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat primer pada Indonesia, karena stunting bukan hanya berarti anak lebih pendek daripada anak seusianya, namun anak yang stunting mengalami perkembangan otak yang juga terhambat. Pada akhirnya, mereka cenderung tidak bisa mengejar pelajaran sekolahnya, yang berdampak pada masa depan serta generasi berikutnya.
Sebagai calon orang tua serta agent of change (agen perubahan), remaja memiliki peran yang penting dalam pencegahan stunting. Dalam buku ini, terdapat banyak sekali ilham menarik asal empat kategori, yaitu pola konsumsi, pola pengasuhan, pelayanan kesehatan dasar, dan kesehatan lingkungan, yang dapat remaja lakukan mulai dari diri sendiri sampai warga sekitar untuk mencegah terjadinya stunting.

Cegah Stunting Sebelum Genting

Boy Situmorang, Tanoto Scholar asal Universitas Sumatera Utara, menuliskan bahwa stunting disebabkan oleh kurangnya asupan gizi secara kronis/berkepanjangan dan penyakit infeksi berulang. Kekurangan gizi ini terjadi bukan hanya ketika anak telah lahir, tapi jua semenjak dalam kandungan. Remaja menjadi calon ibu perlu mengetahui hal ini karena pola asupan bunda sudah terbentuk sejak masa remaja. Kebiasaan makan yang kurang baik seperti melewatkan sarapan atau makan malam dan mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) atau makanan rendah nutrisi (junk food).

Beri Gizi yang Baik

Boy mengajak remaja untuk mulai mengikuti “panduan Gizi Seimbang” supaya nanti dapat memberikan gizi yang baik untuk anak apabila sebagai ibu. Untuk membantu remaja memulai pola makan yang lebih sehat, Hendriasari dari Universitas Gadjah Mada sudah membuat 21-day challenge atau tantangan selama 3 minggu yang dilengkapi dengan rekomendasi hidangan. Harapannya, menggunakan mencoba memenuhi tantangan selama tiga minggu, remaja bisa membangun kebiasaan baik.

Faktor Lain dari Stunting

Stunting tidak hanya soal kurangnya asupan makan; akan tetapi juga karena penyakit infeksi berulang yang seringkali disebabkan oleh masalah lingkungan. Intan Subadri, Tanoto Scholar asal Institut Teknologi Bandung, membahas mengenai pentingnya akses terhadap air bersih dan sanitasi dengan mengambil Nusa Tenggara Timur menjadi contoh kasus. Menjadi daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia, NTT juga kekurangan fasilitas penyediaan air higienis serta sanitasi layak. Di beberapa daerah, rakyat terpaksa meminum air yang mengandung kapur, yang dapat memicu pembentukan batu kapur pada saluran pencernaan. Berbekal kapital ilmu, remaja dapat menjalankan kiprah menjadi agent of change dengan berkontribusi langsung ke rakyat. Dalam hal penyediaan air bersih, misalkan, mahasiswa mampu membantu memberikan ide dan penemuan menarik ke pemerintah terkait solusi sederhana yang bisa segera diaplikasikan pada daerah. Salah satu misalnya dengan mendorong pemerintah membangun filter air rumah tangga agar anak dan orang tua dapat mendapatkan air higienis yang layak.

Buku ini layak dibaca oleh siapa ?

Buku cegah Stunting Sebelum Genting : kiprah Remaja dalam Pencegahan Stunting layak dibaca oleh seluruh kalangan, bahkan yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Remaja yang ingin mencari informasi ihwal stunting dan ide menarik untuk berkontribusi pada masyarakat dapat membaca buku ini sebagai sebuah panduan awal. Informasi stunting lebih besar daripada info kesehatan saja, stunting termasuk berita pendidikan, sosial, serta ekonomi, sehingga Indonesia membutuhkan remaja dari banyak sekali latar belakang pendidikan, ekonomi, dan sosial untuk memahami dan turut berkontribusi. Ditulis oleh berbagai remaja dari latar belakang non-kesehatan, buku ini pula menunjukkan bahwa siapapun mampu mengerti wacana stunting dan mampu berperan dalam penanganannya pada Indonesia.

Mencegah Stunting Pada Anak

Pada artikel kali ini akan membahas bagaimana cara mencegah stunting pada anak. Stunting atau anak yang tinggi badannya pendek sebenarnya bukan masalah yang baru di dunia kesehatan. Di Indonesia, stunting adalah masalah gizi pada anak yang belum mampu dituntaskan dengan baik.

Mencegah Stunting Pada Anak

Buktinya, data Pemantauan Status Gizi (PSG) milik Kementerian Kesehatan RI membagikan bahwa jumlah anak pendek di Indonesia cukup tinggi. Terutama Bila jumlahnya dibandingkan menggunakan dilema gizi yg lain mirip anak kurus, gemuk, atau kurang gizi.

berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) yg dilakukan di tahun 2021, jumlah stunting di Indonesia merupakan lima,33 juta balita atau 24,4%. Jumlah ini turun berasal tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, pemerintah menargetkan angka stunting pada Indonesia turun menjadi 14% pada tahun 2024 nanti.

Lantas, apakah stunting di anak memang mampu dicegah sejak dini? Tentu saja, pemerintah pun membuahkan pencegahan stunting menjadi acara prioritas demi memenuhi target yg telah ditetapkan.

Beberapa cara buat mencegah stunting dari panduan Penyelenggaraan Indonesia Sehat menggunakan Pendekatan keluarga diantaranya yaitu :

1. Mencegah stunting buat ibu hamil dan yang sedang bersalin

Memantau kesehatan di 1.000 hari pertama kehidupan bayi secara optimal dan penanganannya.
Melakukan investigasi kehamilan (Antenatal Care) secara rutin serta juga terencana.
mak melakukan proses persalinan pada fasilitas kesehatan, mirip puskesmas, bidan, maupun dokter.
anugerah makanan tinggi protein, kalori, serta mikronutrien di bayi (TKPM).
Orang tua wajib melakukan deteksi penyakit menular serta jua penyakit tak menular semenjak dini.
Menghilangkan kemungkinan anak terkena cacingan.
memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan full.
Melakukan diskusi menggunakan dokter kandungan buat pencegahan stunting dengan baik.

2. Mencegah stunting buat anak balita

Memantau pertumbuhan serta perkembangan balita secara rutin.
pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita.
Orang tua harus melakukan stimulasi dini perkembangan anak.
Memastikan anak mendapatkan pelayanan serta perawatan kesehatan yg optimal.
Berdiskusi dengan dokter anak buat menyesuaikan pencegahan stunting dengan kebiasaan anak agar hasilnya lebih aporisma.

3. Mencegah stunting buat anak usia sekolah

Memastikan asupan gizi harian anak terpenuhi sesuai dengan kebutuhannya.
Mengedukasi anak tentang pengetahuan yang bekerjasama dengan kesehatan dan gizi secara perlahan dan memakai bahasa yang praktis dimengerti.

4. Mencegah stunting buat remaja

Sebenarnya, stunting pada remaja telah tak bisa diobati. tapi, masih ada beberapa perawatan yg bisa dilakukan ketika anak berusia 14 hingga 17 tahun, antara lain mirip:

Mengajarkan anak untuk terbiasa melakukan sikap hayati higienis dan Sehat (PHBS).
Memastikan anak mempunyai pola gizi yang seimbang.
Melarang anak buat merokok serta memakai narkoba.
Mengajarkan kesehatan reproduksi di anak.

5. Mencegah stunting buat dewasa muda

menaikkan pemahaman perihal keluarga Berencana (KB).
Melakukan investigasi penyakit menular dan tidak menular agar bisa terdeteksi sejak dini.
Selalu menerapkan perilaku hayati higienis Sehat (PHBS), pola gizi yang seimbang, tidak merokok, serta tidak menggunakan narkoba.
Selain itu, menurut strategi Nasional akselerasi penurunan stunting yang ditetapkan sang pemerintah, pencegahan stunting dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya:

Memperhatikan asupan gizi serta nutrisi buat mak hamil serta menyusui, memperhatikan pola makan, serta mengkonsumsi jenis makanan yang beragam serta seimbang.
Melakukan investigasi kesehatan secara rutin buat ibu hamil, bayi, serta balita.
memberikan variasi makanan kepada anak agar si kecil terhindar berasal konflik susah makan.
Selalu menjaga sanitasi lingkungan tempat tinggal .
menerima edukasi ihwal stunting, pola asuh yg baik, serta asupan gizi dan nutrisi yang baik buat tumbuh kembang anak.
Melakukan vaksinasi lengkap sinkron dengan anjuran berasal Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) semenjak bayi lahir.

Jadi kesimpulannya, pencegahan stunting dapat dilakukan menggunakan memastikan calon ibu menerima asupan gizi yg baik. waktu anak telah lahir, pastikan anak mendapatkan asupan makanan yg berkualitas.

Bisakah Anak Stunting mendapatkan Pertumbuhan yang Normal?

Sayang sekali, stunting artinya gangguan pertumbuhan yang tidak bisa dikembalikan mirip semula. Ini berarti, waktu seseorang anak sudah dinyatakan stunting semenjak balita, pertumbuhannya akan terus melambat sampai beliau dewasa.

pada saat memasuki masa puber, anak tidak dapat mencapai pertumbuhan yg aporisma sebab sejak kecil telah terkena stunting. Meskipun asupan makanannya kaya akan gizi, tetapi pertumbuhannya tidak akan semaksimal anak-anak normal yang lain.

Meski begitu, anak harus permanen menerima asupan banyak sekali kuliner bergizi tinggi buat mencegah anak mengalami syarat yg semakin buruk serta gangguan pertumbuhannya semakin parah.

Kesimpulannya, Jika ingin mencegah stunting maka anak harus menerima nutrisi yang aporisma pada ketika awal-awal kehidupannya. Lebih tepatnya, selama 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Demikian pembahasan mengenai cara mencegah stunting pada anak. Semoga pembahasan pada artikel ini menyadarkan kita bila sebenarnya stunting merupakan konflik yang perlu diberi perhatian spesifik.

Tanda & Dampak Stunting pada Anak

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai tanda & dampak stunting pada anak.
Perlu anda ingat bahwa tidak semua anak balita yang tubuhnya pendek berarti mengalami stunting. Pasalnya, stunting ialah keadaan tubuh yang sangat pendek bila ditinjau dari standar pengukuran tinggi badan dari usia yang ditentukan oleh WHO.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa balita bisa dikatakan stunting jika sudah diukur tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar dari WHO, serta hasilnya berada dibawah normal.

Tanda Stunting pada Anak

Stunting bukan masalah kesehatan yang bisa ditebak atau dikira-kira. Untuk memastikannya harus dilakukan pengukuran di dokter, posyandu, atau puskesmas. Selain itu, terdapat ciri-ciri lain yang bisa menjadi indikasi serta tanda-tanda stunting, yaitu :

  • Pertumbuhan yang melambat.
  • Wajah anak terlihat lebih muda dari teman sebayanya.
  • Pertumbuhan gigi terlambat.
  • Kemampuan fokus dan memori belajar anak mempunyai performa yang buruk
  • Pada usia 8 sampai 10 tahun anak menjadi lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang-orang disekitarnya
  • Berat badan balita cenderung menurun
  • Perkembangan tubuh anak terhambat
  • Anak mudah terserang penyakit infeksi

Tanda & Dampak Stunting pada Anak

Dampak Stunting pada Anak

Stunting dapat mensugesti semua pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Dalam jangka pendek, dampak dari stunting terdiri dari perkembangan otak yang terganggu, gangguan metabolisme, kecerdasan, dan pertumbuhan fisiknya.
Sementara itu, dalam jangka panjang stunting yang tak ditangani dengan baik sejak awal dapat mengakibatkan aneka macam dampak, diantaranya yaitu :

  • Membuat kemampuan perkembangan kognitif otak menurun
  • Mudah terjangkit penyakit karena kekebalan tubuhnya lemah
  • Lebih berisiko terkena penyakit metabolik, seperti kegemukan.
  • Anak menjadi kesulitan belajar
  • Dapat menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Ketika sudah dewasa, anak bertubuh pendek akan sulit bersaing pada dunia kerja dan tingkat produktivitasnya cenderung rendah.

Dampak Stunting pada Anak Perempuan

Pada anak perempuan, saat dewasa stunting bisa menimbulkan persoalan kesehatan serta perkembangan di keturunannya. Ini umumnya terjadi pada wanita dewasa yang tinggi badannya kurang dari 145 cm. Ibu hamil yang tinggi badannya dibawah rata-rata akan mengalami perlambatan pertumbuhan rahim, plasenta dan perlambatan peredaran darah ke janin. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang tinggi badannya dibawah rata-rata lebih beresiko terkena komplikasi medis yang serius, seperti pertumbuhan yang terhambat, perkembangan saraf dan kemampuan intelektualnya terhambat. kondisi ini terus berlangsung sampai si anak tadi memiliki keturunannya sendiri.

Penanganan Stunting pada Bayi dan Anak

Stunting memang bisa berdampak sampai anak tumbuh dewasa. Berita baiknya, kondisi ini masih mampu ditangani. Menurut Kemenkes RI, sunting sangat dipengaruhi oleh pola asuh, cakupan serta kualitas pelayanan kesehatan, lingkungan, dan juga ketahanan pangan. Maka dari itu, salah satu penanganan pertama pada anak yang didiagnosis stunting ialah dengan memberikan pola asuh yang tepat pada anak.

Pola Asuh yang Tepat

Pola asuh yang tepat meliputi pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), serta ASI bersamaan dengan MPASI hingga anak menginjak usia 2 tahun. WHO dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyarankan agar bayi yang berusia 6 sampai 23 bulan menerima makanan Pendamping ASI (MPASI) yang optimal.

Sebaiknya, MPASI yang diberikan pada anak harus mengandung paling tidak 4 jenis atau lebih dari 7 jenis makanan, seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, telur atau dari sumber protein lain, produk olahan susu, vitamin A, serta yang lainnya.
Selain itu, bunda juga harus memperhatikan batas ketentuan Minimum Meal Frequency (MMF) untuk bayi berusia 6 sampai 23 bulan yang diberi ASI dan tidak diberi ASI, serta yang telah menerima MPASI.

Untuk bayi yang diberi ASI umur 6 sampai 8 bulan, MMF-nya dua kali per hari atau lebih. kemudian, bayi yang umurnya 9 sampai 23 bulan, 3 kali per hari atau lebih. Sementara itu untuk bayi yang tidak diberi ASI berusia 6 hingga 23 bulan, MMF-nya 4 kali per hari atau lebih.

Tidak hanya itu, ketersediaan pangan dirumah juga ikut berperan dalam mengatasi stunting pada anak. Misalnya, kualitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh anak harus ditingkatkan kualitasnya.

Demikian pembahasan mengenai tanda & dampak stunting pada anak, semoga dapat menjadi informasi bagi para orang tua yang sedang sangat memperhatikan tumbuh kembang anak-anak. Semoga bermanfaat.

Mengenal Pengertian & Penyebab Stunting

Pada artikel kali ini akan mengenal lebih jauh pengertian dan penyebab stunting. Pertumbuhan anak bisa dipandang dari berat badan serta tingginya. Normalnya, ke 2 faktor ini berkembang bersama-sama seiring bertambahnya usia anak. Bila tidak, maka akan menyebabkan masalah kesehatan, salah satunya yaitu stunting.

Mengenal Pengertian & Penyebab Stunting

Belakangan ini tak jarang mendengar ibu-ibu yang mempunyai anak balita membicarakan stunting atau dari pembahasan para praktisi kesehatan pada media sosial. Hal ini lumrah, karena stunting pada anak wajib menjadi perhatian dan diwaspadai oleh orang tua.

Pengertian Stunting

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 72 Tahun 2021, Stunting ialah gangguan tumbuh kembang anak yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi yang berulang. Gangguan ini ditandai  dengan tinggi badan yang berada dibawah standar yang sudah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

Menurut Kementerian Kesehatan, stunting dibagi menjadi 2 kategori, yaitu :

  1. Stunted yaitu anak balita dengan nilai z-score kurang berasal -2.00 baku Deviasi.

  2. Severely stunted atau anak yang z-score-nya kurang asal -3.00 standar Deviasi.

Dengan kata lain, stunting ialah gangguan pertumbuhan pada balita sehingga perkembangan anak tidak sesuai (lebih pendek) dari standar serta dapat menimbulkan akibat dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Faktor utama yang dapat menyebabkan stunting adalah kurangnya nutrisi. Jadi mampu disimpulkan bahwa tubuh yang pendek merupakan ciri-ciri dari anak kekurangan gizi kronis. Namun perlu diingat, tidak semua anak yang pendek bisa diklaim stunting sedangkan anak stunting sudah pasti pendek.

Salah satu indikatornya ialah standar deviasi yang disebutkan sebelumnya. Ketika tinggi badannya kurang dari -2.00 standar deviasi, maka masuk kategori anak stunting. Hal ini harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, terutama bila kondisi ini terjadi pada anak yang usianya kurang dari dua tahun.

Penyebab Stunting Pada Anak

Stunting bisa diakibatkan oleh banyak faktor yang terjadi pada masa pertumbuhan balita. Namun, penyebab utamanya dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

1. Kurangnya asupan gizi pada masa kehamilan

WHO mengatakan bahwa 20% syarat stunting terjadi saat bayi masih berada didalam kandungan, penyebab utamanya adalah kurangnya asupan gizi pada masa kehamilan, sebagai akibatnya pertumbuhan janin didalam kandungan menjadi terhambat sampai setelah kelahiran. Maka dari itu, ibu hamil harus memastikan dirinya menerima asupan gizi serta nutrisi yang baik.

2. Kebutuhan gizi anak yang tak tercukupi

Penyebab ini bisa terjadi karena asupan gizi anak saat masih berusia kurang dari dua tahun tidak tercukupi. Asupan gizi ini meliputi makanan pendamping ASI (MPASI) yang kurang berkualitas, anak tidak diberikan ASI, hingga posisi menyusui yang kurang sempurna. Tidak hanya itu, banyak teori menyatakan bahwa asupan makanan yang kurang juga bisa sebagai salah satu faktor penyebab stunting. Terutama asupan makanan yang mengandung protein, mineral zinc, dan zat besi saat anak masih balita.

Stunting biasanya dimulai ketika anak masih berusia 3 bulan. Proses perkembangan ini lalu mulai melambat saat anak menginjak usia 3 tahun. Setelah itu, tinggi badan anak terus bertambah tetapi berada pada bawah standar penilaian tinggi badan sesuai umur (TB/U).Perlu anda ketahui bahwa ada sedikit perbedaan kondisi stunting pada anak usia 2 sampai 3 tahun dengan anak yang usianya lebih dari 3 tahun. Anak-anak berusia 2 hingga 3 tahun yang tinggi badannya dibawah standar mampu mendeskripsikan proses stunting yang sedang berlangsung.

Sedangkan pada anak yang usianya lebih dari 3 tahun, kondisi ini menunjukkan bahwa anak memang telah mengalami kegagalan pertumbuhan atau stunted.

3. Faktor penyebab lainnya

Selain 2 faktor diatas, terdapat beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan stunting pada anak, diantaranya yaitu :

  • Ibu kurang memiliki pengetahuan mengenai gizi sebelum hamil, ketika hamil, dan sehabis melahirkan
  • Akses pelayanan kesehatan yang terbatas, seperti layanan kehamilan serta setelahmelahirkan.
  • Akses air bersih dan sanitasi yang tidak merata
  • Makanan bergizi masih tergolong mahal sehingga tidak bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat

Demikian pembahasan mengenal pengertian dan penyebab stunting, semoga  pembahasan diatas dapat menambah wawasan mengenai stunting, dan bermanfaat bagi yang membutuhkan informasi.