Tak Menunjukkan Gejala Hipertensi

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai tak menunjukkan gejala pada hipertensi.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, tak jarang kali dikenal sebagai ‘silent killer’ atau pembunuh membisu karena banyak penderitanya tak memberikan gejala yang jelas.

Lebih dikenal dengan tekanan darah tinggi merupakan kondisi medis dimana tekanan darah pada arteri tubuh meningkat secara bertahap.

Hipertensi

Penyakit ini dapat disebabkan sang berbagai faktor, termasuk faktor genetik, gaya hidup tidak sehat (mirip diet tinggi garam, kekurangan kegiatan fisik, dan kelebihan berat badan), merokok, konsumsi alkohol hiperbola, dan usia.

Meskipun hipertensi bisa mengakibatkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, serta kerusakan ginjal. Banyak orang mungkin tak menyadari bahwa mengalami kondisi ini.

Hal ini mengakibatkan tantangan pada deteksi serta pengobatan, karena tanpa adanya gejala, individu cenderung tidak memeriksakan diri ke dokter.

Dengan tahu bahwa hipertensi mampu berkembang tanpa adanya gejala, butuh individu yang lebih agresif dalam menjaga kesehatan.

Tak Menunjukkan Gejala Hipertensi

Tekanan darah diukur dengan dua angka, yaitu tekanan sistolik (tekanan saat jantung berkontraksi) serta tekanan diastolik (tekanan saat jantung beristirahat diantara kontraksi).

Sistolik adalah nomor pertama pada pembacaan tekanan darah serta mencerminkan tekanan pada dinding arteri ketika jantung berkontraksi atau memompa darah ke semua tubuh.

Diastolik ialah nomor kedua mencerminkan tekanan pada dinding arteri saat jantung beristirahat pada antara kontraksi. Tekanan darah normal umumnya diukur dalam bentuk “sistolik/diastolik”.

Tekanan darah dinyatakan dalam milimeter raksa (mmHg). Angka normal tekanan darah ialah kurang lebih 120/80 mmHg.

  • Normal: Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg.
  • Prehipertensi: Tekanan darah antara 120/80 mmHg sampai 139/89 mmHg.
  • H. taraf 1: Tekanan darah antara 140/90 mmHg sampai 159/99 mmHg.
  • Taraf 2: Tekanan darah 160/100 mmHg atau lebih tinggi.
  • Tekanan darah yang lebih dari 180/120 mmHg dianggap menjadi kondisi darurat atau krisis hipertensi.

Tak Menunjukkan Gejala Hipertensi

Dominan pasien hipertensi tidak merasakan gejala apapun. Banyak orang dewasa yang mengidap hipertensi tidak menyadari sedang mengalami hipertensi. Berikut ini beberapa gejala terkait hipertensi, yaitu :

  • Nyeri dada
    Dapat mengakibatkan nyeri dada atau ketidaknyamanan, terutama selama kegiatan fisik.
  • Peningkatan detak jantung
    Detak jantung yang cepat atau tidak teratur menjadi gejala tekanan darah tinggi.
  • Sakit kepala
    Penyakit ini yang parah bisa mengakibatkan sakit kepala yang intens, terutama di bagian belakang ketua.
  • Pusing
    Perasaan pusing atau kelenger dapat terjadi pada beberapa individu menggunakan tekanan darah tinggi.
  • Sangat lelah atau lemas
    Kondisi ini mampu ditimbulkan oleh tekanan darah tinggi yang membebani jantung.
  • Sesak napas
    Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah serta mensugesti sistem pernapasan.
  • Napas pendek
    Kondisi ini bisa ada dampak tekanan darah tinggi yang mempengaruhi jantung dan paru-paru.
  • Gangguan penglihatan
    Dapat mengakibatkan perubahan penglihatan, seperti penglihatan kabur atau bintik-bintik hitam pada depan mata.
  • Gangguan kecemasan
    Beberapa orang dengan tekanan darah tinggi melaporkan persoalan dengan konsentrasi, kecerdasan, atau gejala kecemasan.

Gejala ini tidak selalu terkait langsung dengan hipertensi, beberapa orang dengan tekanan darah tinggi mungkin tidak mengalami tanda apapun.

Krusial untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin, terutama bagi yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga, gaya hidup tidak sehat, atau usia yang sudah tua.

Gejala Diabetes pada Tubuh

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana mengenali gejala diabetes pada bagian tubuh. Dampak diabetes jauh melampaui kadar gula darah akan mempengaruhi banyak sekali bagian serta sistem tubuh.

Penyakit Diabetes

Diabetes merupakan penyakit yang digejalai dengan tingginya kadar gula darah pada tubuh. Gejala ini muncul secara tiba-tiba dan secara sedikit demi sedikit.

Salah satu gejala yang paling umum ialah rasa haus yang berlebihan dan tak jarang buang air kecil. Hal ini terjadi sebab tubuh tidak mampu menghasilkan hormon insulin yang berfungsi untuk mengatur kadar gula darah.

Gejala Diabetes pada Tubuh

Penderita diabetes tak jarang merasa lelah lemas karena tubuh tidak bisa memanfaatkan glukosa sebagai sumber tenaga yang efektif. Gejala diabetes bisa terlihat pada perubahan berat badan yang tidak lumrah.

Penderita diabetes tak jarang mengalami penurunan berat badan yang drastis sebab glukosa yang seharusnya menjadi sumber energi tidak dapat diserap oleh tubuh dan dikeluarkan menjadi urin.

Pada suatu waktu penderita diabetes mengalami peningkatan berat badan karena tubuh mengalami resistensi terhadap insulin dan mengakibatkan gula darah yang hiperbola disimpan dalam bentuk lemak.

Gejala Diabetes pada Tubuh

Terdapat berbagai cara untuk mendeteksi adanya penyakit diabetes pada tubuh, beberapa gejala diabetes dapat ditunjukkan pada beberapa bagian tubuh, diantaranya yaitu :

  • Mata
    Penyakit ini memberikan dampak yang cukup besar pada mata, sebab berpotensi mengakibatkan kondisi yang disebut retinopati diabetik. Gangguan progresif ini mengganggu pembuluh darah di retina karena mengganggu penglihatan.
    Gangguan penglihatan seperti penglihatan kabur atau berfluktuasi, susah fokus, hingga perubahan penglihatan yang tiba-tiba, bisa menandakan timbulnya retinopati diabetik.
  • Ginjal
    Diabetes menjadi penyebab primer penyakit ginjal, dikenal sebagai nefropati diabetik. Kondisi ini semakin lama menghambat fungsi ginjal dan dapat mengakibatkan gagal ginjal.
    Tanda keterlibatan ginjal termasuk pergelangan kaki bengkak, peningkatan frekuensi buang air kecil, dan tekanan darah tinggi yang terus menenerus. Pemantauan rutin fungsi ginjal dan tekanan darah sangat krusial.
  • Kulit
    Organ tubuh paling sensitif ini dapat menyampaikan petunjuk yang halus namun signifikan perihal diabetes. Penderita diabetes tak jarang mengalami kulit kering dan gatal akibat kehilangan cairan tubuh.
    Adanya bercak kulit yang gelap dan menebal, dan biasanya di lipatan tubuh dapat menandakan resistensi insulin. Penderita diabetes lebih rentan terhadap infeksi fungi, yang tumbuh subur pada lingkungan yang tinggi gula.
  • Sistem Saraf
    Neuropati yang terkait dengan diabetes bisa melampaui kaki serta tungkai, menghipnotis berbagai bagian tubuh. Mati rasa, kesemutan, sensasi terbakar pada tangan, lengan, atau area lain dapat menandakan kerusakan saraf.
    Deteksi dini serta kontrol gula darah yang tepat sangat penting untuk mencegah perkembangan komplikasi neuropatik.
  • Kaki

    Kerusakan saraf (neuropati) dan sirkulasi darah yang buruk merupakan komplikasi awam dari diabetes, terutama yang menghipnotis ekstremitas bawah.
    Berkurangnya sirkulasi darah mempertinggi risiko ulkus kaki diabetik dan infeksi, yang berpotensi memerlukan amputasi jika tidak ditangani. Perawatan kaki yang tepat dan pemeriksaan rutin sangat penting untuk mencegah komplikasi ini.

  • Kesehatan jantung dan kardiovaskular
    Diabetes dapat mempertinggi risiko dilema kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke. Penderita diabetes akan mengalami gejala seperti nyeri dada, sesak napas, dan jantung berdebar.
    Adanya faktor risiko terkait diabetes, seperti obesitas serta kolesterol tinggi, semakin memperkuat ancaman kardiovaskular. Ubah gaya hidup dan  manajemen diabetes yang sempurna.
  • Verbal dan Gusi​
    Diabetes bisa membahayakan kesehatan mulut dengan menaikkan risiko infeksi gusi, atau penyakit periodontal. Gejalanya mencakup gusi berdarah, bau mulut, dan resesi gusi.
    Menjaga kebersihan mulut yang baik dan kunjungan ke dokter gigi secara teratur sangat krusial untuk mencegah komplikasi gigi yang terkait dengan diabetes.

Gejala diabetes pada tubuh bisa terlihat melalui perubahan pola makan serta nafsu makan yang tidak stabil. Penderita diabetes acapkali merasa tidak nyaman selesai makan karena tubuh tak bisa mengolah gula dengan baik.

Hal ini bisa mengakibatkan seorang kehilangan nafsu makan atau bahkan merasa sangat lapar meskipun kadar gula darah telah cukup tinggi. Diabetes pula bisa mengakibatkan komplikasi jangka panjang yang berbahaya.

Mengenali Gejala & Penyebab Heartburn

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai pengertian, dan mengenali gejala & penyebab heartburn. Heartburn adalah gangguan kesehatan yang sering muncul di atas perut atau di bagian tengah dada. Secara umum, heartburn bisa dialami oleh pasien dari segala usia, dari mulai anak-anak hingga orang tua. Namun, penderitanya cenderung lebih banyak datang dari kalangan usia dewasa.

Di samping itu, heartburn juga sering dialami oleh penderita obesitas, diabetes, dan Gastro-oesophageal reflux disease (GERD). Dalam beberapa kasus, wanita hamil dapat mengalami heartburn jika terjadi pembesaran rahim hingga menekan lambung. Dengan kata lain, heartburn termasuk gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai oleh siapa saja.

Mengenali Gejala & Penyebab Heartburn

Pengertian Heartburn

Heartburn dapat didefinisikan sebagai sensasi perih dan panas seperti terbakar yang terjadi di dada. Meski diklaim “heartburn” tetapi kondisi ini sebenarnya tak ada kaitannya dengan jantung (heart) sama sekali.

Penyebab utama heartburn merupakan naiknya asam lambung ke kerongkongan yang mengakibatkan sensasi mirip terbakar. Gangguan kesehatan ini bisa mempengaruhi kegiatan sehari-hari. Bahkan di beberapa kasus bisa menjadi indikasi asal gangguan kesehatan lain mirip Gastro-oesophageal reflux disease (GERD).

Mengenali Gejala dan Penyebab Heartburn

Tanda-tanda heartburn sangat bervariasi dan bisa berbeda antara satu penderita dengan yang lainnya. Akan tetapi, terdapat satu tanda yang hampir selalu dirasakan oleh setiap penderita, yaitu sensasi panas seperti terbakar yang muncul di tenggorokan dan dada.

Gejala Heartburn

Adapun gejala-gejala umum lain yang biasanya dirasakan oleh penderita heartburn, yaitu :

  • Rasa nyeri parah di dada yang terjadi sesudah makan atau ketika malam hari
  • Rasa sakit pada dada saat berbaring, makan, atau menunduk
  • Mulut terasa pahit atau asam
  • Lebih sering terbangun ketika tidur
  • Batuk
  • Muncul rasa seperti terbakar pada tenggorokan
  • Seperti ada cairan yang akan keluar dari tenggorokan

Gejala-gejala tersebut merupakan hal yg paling sering dirasakan oleh penderita heartburn, akan tetapi bisa jadi masih terdapat gejala lain yang tak disebutkan. Jadi jika merasakan gejala-gejala seperti diatas, usahakan segera temui dokter di rumah sakit terdekat.

Normalnya, tanda-tanda dan gejala tersebut berlangsung selama dua jam, tetapi bisa jadi lebih tergantung pada penyebabnya. Misalnya, kalau heartburn muncul setelah mengkonsumsi makanan pedas, maka kondisinya hanya berlangsung hingga makanan benar-benar tercerna. Akan tetapi, terdapat kemungkinan gejala ini muncul kembali beberapa jam kemudian ketika berbaring atau menunduk.

Penyebab Heartburn

Pada tubuh kita ada sebuah otot yang terletak di bawah esofagus. Dalam keadaan normal, otot ini berfungsi menghalangi asam lambung naik ke saluran kerongkongan dengan cara membesar dan menutup ketika kita menelan makanan atau minuman.

Bila otot ini melemah, asam lambung bisa naik kembali ke esofagus dan menimbulkan sensasi panas seperti terbakar di dada. Inilah yang menyebabkan heartburn. Nah, otot di bawah esofagus dapat melemah karena beberapa alasan, diantaranya :

  1. Makanan dan minuman tertentu
    Beberapa jenis makanan dan minuman, terutama yang terlalu pedas, asam, dan berlemak, bisa berpengaruh di kekuatan otot pada bawah esofagus. Maka dari itu, supaya kekuatan otot di bawah esofagus tetap normal usahakan hindari terlalu banyak mengkonsumsi jenis makanan serta minuman tersebut.
  2. Posisi tubuh
    Posisi tubuh juga mampu melemahkan otot dibawah esofagus, seperti ketika berbaring sehabis makan. Karena ketika berbaring asam lambung akan lebih mudah mengalir kembali ke esofagus.
  3. Tekanan pada perut
    Saat perut tertekan, lambung dan otot esofagus cenderung akan melemah serta mengakibatkan asam lambung naik ke esofagus. Jadi, apabila sering berolahraga berat, atau sedang batuk dan batuknya terlalu kencang, atau memiliki berat badan berlebih, atau hamil, usahakan lebih berhati-hati.
  4. Riwayat penyakit
    Mengutip dari laman eMedicine Health, kondisi kesehatan juga bisa mempengaruhi heartburn. Terutama apabila memiliki penyakit seperti diabetes, hernia hiatal, scleroderma, sindrom CREST, dan penyakit autoimun lainnya.
  5. Jenis obat-obatan tertentu
    Terdapat beberapa jenis obat-obatan yang terbukti bisa melemahkan kinerja otot dibawah esofagus. Terutama apabila sedang menjalani pengobatan asma, tekanan darah, dan jantung, resiko munculnya heartburn akan menjadi lebih tinggi lagi.
  6. Gaya hidup
    Beberapa gaya hidup yang tidak sehat seperti minum minuman memabukan, merokok, atau mengkonsumsi kafein terlalu sering, bisa memicu naiknya asam lambung ke esofagus.

Mengenali Gangguan pada Lambung

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai mengenali beberapa gangguan pada lambung. Ketika ulu hati sakit, tidak melulu menandakan heartburn. Bisa saja hal tadi mengindikasikan adanya penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD). GERD sendiri ialah kondisi yang bisa menyebabkan nyeri di ulu hati, heartburn, dan beragam tanda-tanda lainnya pada area dada bagian bawah serta perut.

Gejala GERD

Seseorang dengan GERD akan mengalami refluks asam yang ringan, setidaknya dua kali dalam seminggu. Sementara itu, mereka juga berpotensi mengalami gangguan yang parah, setidaknya sekali dalam seminggu. Oleh sebab itu, diharapkan obat serta/atau mengganti gaya hidup untuk mengurangi intensitas asam lambung.

Biasanya seseorang yang mengalami asam lambung naik ditandai dengan rasa asam atau getir di mulut, sensasi perih atau panas terbakar di dada serta ulu hati. Gejala tersebut akan semakin memburuk ketika penderita membungkuk, sehabis makan, atau berbaring. Terdapat berbagai macam gejala yang bisa menyerupai GERD, diantaranya yaitu :

  • Gangguan pernapasan, seeprti batuk-batuk serta sesak napas.
  • Bunyi serak
  • Mual dan muntah
  • Sakit tenggorokan
  • Keluarnya isi lambung tanpa disadari
  • Kesulitan menelan atau perasaan seperti terdapat benjolan di tenggorokan
  • Gangguan tidur
  • Bau mulut
  • Kerusakan gigi karena seringkali terkena asam lambung

GERD acapkali kali disalahartikan dengan serangan jantung. Hal ini ditimbulkan keduanya sama-sama menimbulkan sensasi perih pada dada dan nyeri di ulu hati. Namun, keduanya permanen mampu dibedakan.

Serangan jantung ditandai dengan adanya nyeri ulu hati atau nyeri dada yang sangat berat sampai menjalar ke leher, lengan, atau rahang, serta ada selesainya melakukan aktivitas fisik. Sementara itu, GERD ditandai dengan nyeri ulu hati yang disertai dengan rasa asam di mulut. Ia tidak diperparah dengan kegiatan fisik, juga tidak menyebar sampai leher atau lengan, dan akan semakin berat dirasakan ketika berbaring.

Mengenali Gangguan pada Lambung

Adapun cara mengatasi asam lambung atau GERD sebagai berikut :

  • Menurunkan berat badan
  • Tidak merokok.
  • Meninggikan kepala saat tidur
  • Tidak berbaring atau tidur setidaknya 2 hingga 3 jam selesai makan
  • Menghindari makanan atau minuman yang memicu naiknya asam lambung, makanan yang pedas serta berlemak, cokelat, mint, serta kopi.
  • Tidak mengenakan pakaian yang terlalu ketat.

Gangguan pada Lambung

Kesehatan lambung harus menjadi perhatian pasalnya jika sakit maka akan mengakibatkan tubuh kekurangan asupan nutrisi serta mengganggu kegiatan sehari-hari. Berikut ini beberapa penyakit lambung, diantaranya yaitu :

  1. Gastritis
    Gastritis atau peradangan pada dinding lambung terbagi menjadi dua jenis, yakni gastritis akut dan kronis. Pemicu gastritis beragam, contohnya penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid pada jangka panjang, konsumsi alkohol secara hiperbola, dan adanya penyakit aoutoimun.
    Sebagian orang yang menderita gastritis tidak merasakan tanda-tanda apapun. tetapi, gejala yang paling awam terjadi pada penderita gastritis ialah muntah, mual, cegukan, nyeri pada ulu hati, hingga buang air akbar menggunakan tinja berwarna hitam. Jika tidak ditangani dengan serius akan menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti kanker lambung, pendarahan lambung, dan tukak lambung.
  2. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
    Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau disebut juga sebagai penyakit asam lambung merupakan kondisi dimana makanan atau minuman yang telah bercampur dengan asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Sehingga, muncul rasa asam atau getir pada mulut dan sensasi terbakar di dada.
    Penderita GERD bisa mengalami mual sakit tenggorokan, muntah, serta insomnia. Bila tidak ditangani dalam jangka panjang akan menyebabkan iritasi serta pendarahan di kerongkongan bahkan kanker esofagus.
  3. Tukak Lambung
    Tukak lambung adalah luka yang disebabkan oleh pengikisan pada dinding lambung atau usus halus. Tetapi, pada umumnya tukak lambung ditimbulkan oleh infeksi bakteri helicobacter pylori atau konsumsi obat antiradang secara berlebihan, seperti aspirin serta ibuprofen.
    Gejala yang muncul pada penderita tukak lambung adalah mual, acapkali sendawa, perut kembung, nyeri ulu hati, bahkan muntah darah. Beberapa gejala dapat memburuk ketika penderita mengalami stres, mengonsumsi makanan pedas atau asam secara berlebihan, merokok, serta minum minuman beralkohol.
  4. Kanker Lambung

    Kanker lambung jarang mengakibatkan gejala yg khusus di stadium awal. sebagai akibatnya, acapkali kali baru terdeteks ketika memasuki stadium lanjut. Penyebab dari kanker lambung sendiri belum diketahui secara absolut. Namun, terdapat beberapa hal yang dapat memicunya, mirip obesitas, konsumsi makanan yang tidak sehat, merokok, jarang olahraga, mengonsumsi alkohol, serta sebagainya.

  5. Gastroparesis
    Salah satu tugas dari otot lambung ialah untuk mendorong makanan atau minuman ke pada usus halus. Namun, pada penderita gastroparesis, otot lambung tidak mampu bekerja dengan maksimal sehingga proses pencernaan makanan pun menjadi lambat. Gastroparesis umumnya disertai beberapa keluhan diantaranya cepat merasa kenyang saat makan, perut kembung, mual, nyeri ulu hati, sampai memuntahkan makanan yang belum tercerna sempurna. Penyebab penyakit ini belum diketahui secara sempurna, namun kuat dugaan bahwa gastroparesis ditimbulkan oleh rusaknya saraf yang mengontrol otot lambung. Penyakit ini akan lebih berisiko terjadi pada penderita masalah kesehatan eksklusif, misalnya diabetes, skleroderma, serta amyloidosis.

Demikian pembahasan mengenai mengenali beberapa gangguan pada lambung. Semoga dapat menambah informasi bagi pembaca.

Karakteristik Asam Lambung Naik

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai karakteristik asam lambung naik. Asam lambung naik atau yang dikenal dengan GERD dapat ditandai dengan timbulnya beberapa tanda-tanda. Salah satu tanda yang menjadi karakteristik khusus dari kondisi ini yaitu keluarnya rasa panas serta tidak nyaman dibagian dada. Kondisi ini bisa terjadi pada siapapun, baik anak-anak maupun orang dewasa. Krusial untuk memahami tentang apa saja yang menjadi karakteristik asam lambung naik.

Karakteristik Asam Lambung Naik

Asam lambung

Asam lambung yang naik ke kerongkongan mampu menyebabkan terjadinya sensasi terbakar pada area dalam dada atau yang juga dinamakan heartburn. Kondisi ini umum diklaim dengan kata GERD. Walaupun penyakit ini tidak menyebabkan kematian, bukan berarti bisa disepelekan. Apabila tak ditangani dengan baik, kondisi ini akan mengakibatkan berbagai komplikasi pada kesehatan. Oleh sebab itu, sangat penting untuk segera melakukan penanganan untuk mengatasi penyakit GERD. Lantas, apa saja karakteristik dari asam lambung naik?

Sebaiknya, jangan menyepelekan kondisi nyeri dada yang dapat menyebabkan rasa panas atau heartburn yang timbul pasca mengonsumsi makanan juga minuman dengan kandungan kafein tinggi. Bisa jadi kondisi ini ialah faktor yang menyebabkan naiknya asam lambung. Penyakit asam lambung nyatanya kerap kali disalahartikan menjadi penyakit gangguan jantung karena gejala utama dari 2 kondisi tadi hampir sama, yakni ada rasa nyeri pada bagian dada.

Kondisi ini bisa terjadi sebab zat asam yang berasal dari lambung naik sampai ke kerongkongan. Hal tersebut akan menyebabkan dinding kerongkongan sampai mulut mengalami iritasi. Saat hal ini terjadi, maka akan terdapat sensasi panas dan terbakar pada dada atau heartburn serta rasa tidak nyaman di bagian perut. Kondisi ini akan semakin terasa ketika pengidap mengonsumsi makanan atau berbaring.

Karakteristik Asam Lambung Naik

Dikutip dari American Academy of Allergy Asthma and Immunology, selain heartburn serta rasa asam pada mulut, terdapat tanda lain yang menjadi ciri-ciri dari naiknya asam lambung, seperti rasa lebih cepat kenyang, lebih sering bersendawa, sakit tenggorokan, muntah, mual, produksi air liur berlebih, bau mulut, dan mengalami batuk kering.

Meski demikian, kondisi ini masih dianggap lumrah apabila tidak terjadi selama beberapa hari, hanya terjadi sebanyak 1–2 kali dalam kurun waktu satu bulan sesudah mengonsumsi makanan pedas dan berlemak, serta muncul gejala setelah mengonsumsi makanan pada jumlah banyak.

GERD bisa menjadi salah satu pertanda adanya gangguan kesehatan. Hal ini menyebabkan gejala terjadi di kurun waktu yang panjang  menyebabkan muntah yang bercampur dengan darah, rasa nyeri sampai ke rahang, serta disertai dengan sesak napas. Anda bisa segera lakukan pemeriksaan pada tempat tinggal sakit terdekat buat penanganan keluhan yang tengah dialami.

Melemahnya otot pada bagian kerongkongan nyatanya adalah salah satu penyebab mengapa seseorang mampu mengalami penyakit GERD. Pada pengidap asam lambung, otot tidak bisa menutup dengan rapat sehingga mengakibatkan asam lambung naik kembali dan menuju kerongkongan.

Ada berbagai kondisi yang mampu menaikkan risiko melemahnya otot di bagian kerongkongan, seperti usia lanjut, obesitas, kondisi hamil, terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas, mengonsumsi alkohol, merokok, dan mengalami stres pun bisa menyebabkan otot kerongkongan tak bekerja memakai maksimal.

Tidak sekadar gaya hidup serta pola makan saja, nyatanya asam lambung naik juga mampu disebabkan oleh adanya beberapa penyakit seperti gastroparesis, scleroderma, serta hernia hiatus.

Untuk mencegah risiko dari penyakit ini, cobalah untuk menerapkan gaya hidup sehat setiap hari, mengonsumsi makanan yang tidak memicu sakit tenggorokan, serta lengkapi asupan nutrisi dengan kontribusi suplemen tambahan.

Tanda & Dampak Stunting pada Anak

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai tanda & dampak stunting pada anak.
Perlu anda ingat bahwa tidak semua anak balita yang tubuhnya pendek berarti mengalami stunting. Pasalnya, stunting ialah keadaan tubuh yang sangat pendek bila ditinjau dari standar pengukuran tinggi badan dari usia yang ditentukan oleh WHO.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa balita bisa dikatakan stunting jika sudah diukur tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar dari WHO, serta hasilnya berada dibawah normal.

Tanda Stunting pada Anak

Stunting bukan masalah kesehatan yang bisa ditebak atau dikira-kira. Untuk memastikannya harus dilakukan pengukuran di dokter, posyandu, atau puskesmas. Selain itu, terdapat ciri-ciri lain yang bisa menjadi indikasi serta tanda-tanda stunting, yaitu :

  • Pertumbuhan yang melambat.
  • Wajah anak terlihat lebih muda dari teman sebayanya.
  • Pertumbuhan gigi terlambat.
  • Kemampuan fokus dan memori belajar anak mempunyai performa yang buruk
  • Pada usia 8 sampai 10 tahun anak menjadi lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang-orang disekitarnya
  • Berat badan balita cenderung menurun
  • Perkembangan tubuh anak terhambat
  • Anak mudah terserang penyakit infeksi

Tanda & Dampak Stunting pada Anak

Dampak Stunting pada Anak

Stunting dapat mensugesti semua pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Dalam jangka pendek, dampak dari stunting terdiri dari perkembangan otak yang terganggu, gangguan metabolisme, kecerdasan, dan pertumbuhan fisiknya.
Sementara itu, dalam jangka panjang stunting yang tak ditangani dengan baik sejak awal dapat mengakibatkan aneka macam dampak, diantaranya yaitu :

  • Membuat kemampuan perkembangan kognitif otak menurun
  • Mudah terjangkit penyakit karena kekebalan tubuhnya lemah
  • Lebih berisiko terkena penyakit metabolik, seperti kegemukan.
  • Anak menjadi kesulitan belajar
  • Dapat menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Ketika sudah dewasa, anak bertubuh pendek akan sulit bersaing pada dunia kerja dan tingkat produktivitasnya cenderung rendah.

Dampak Stunting pada Anak Perempuan

Pada anak perempuan, saat dewasa stunting bisa menimbulkan persoalan kesehatan serta perkembangan di keturunannya. Ini umumnya terjadi pada wanita dewasa yang tinggi badannya kurang dari 145 cm. Ibu hamil yang tinggi badannya dibawah rata-rata akan mengalami perlambatan pertumbuhan rahim, plasenta dan perlambatan peredaran darah ke janin. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang tinggi badannya dibawah rata-rata lebih beresiko terkena komplikasi medis yang serius, seperti pertumbuhan yang terhambat, perkembangan saraf dan kemampuan intelektualnya terhambat. kondisi ini terus berlangsung sampai si anak tadi memiliki keturunannya sendiri.

Penanganan Stunting pada Bayi dan Anak

Stunting memang bisa berdampak sampai anak tumbuh dewasa. Berita baiknya, kondisi ini masih mampu ditangani. Menurut Kemenkes RI, sunting sangat dipengaruhi oleh pola asuh, cakupan serta kualitas pelayanan kesehatan, lingkungan, dan juga ketahanan pangan. Maka dari itu, salah satu penanganan pertama pada anak yang didiagnosis stunting ialah dengan memberikan pola asuh yang tepat pada anak.

Pola Asuh yang Tepat

Pola asuh yang tepat meliputi pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), serta ASI bersamaan dengan MPASI hingga anak menginjak usia 2 tahun. WHO dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyarankan agar bayi yang berusia 6 sampai 23 bulan menerima makanan Pendamping ASI (MPASI) yang optimal.

Sebaiknya, MPASI yang diberikan pada anak harus mengandung paling tidak 4 jenis atau lebih dari 7 jenis makanan, seperti kacang-kacangan, umbi-umbian, telur atau dari sumber protein lain, produk olahan susu, vitamin A, serta yang lainnya.
Selain itu, bunda juga harus memperhatikan batas ketentuan Minimum Meal Frequency (MMF) untuk bayi berusia 6 sampai 23 bulan yang diberi ASI dan tidak diberi ASI, serta yang telah menerima MPASI.

Untuk bayi yang diberi ASI umur 6 sampai 8 bulan, MMF-nya dua kali per hari atau lebih. kemudian, bayi yang umurnya 9 sampai 23 bulan, 3 kali per hari atau lebih. Sementara itu untuk bayi yang tidak diberi ASI berusia 6 hingga 23 bulan, MMF-nya 4 kali per hari atau lebih.

Tidak hanya itu, ketersediaan pangan dirumah juga ikut berperan dalam mengatasi stunting pada anak. Misalnya, kualitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh anak harus ditingkatkan kualitasnya.

Demikian pembahasan mengenai tanda & dampak stunting pada anak, semoga dapat menjadi informasi bagi para orang tua yang sedang sangat memperhatikan tumbuh kembang anak-anak. Semoga bermanfaat.

Waspada Gejala Kelelahan Ekstrim

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai waspada gejala kelelahan ekstrim. Tidak ada yang salah dengan mewaspadai sesuatu hal, karena bisa jadi hal ini menjadi sangat penting bagi diri. Apalagi jika seseorang mengalami kelelahan eksrrim atau kelelahan yang mendadak.

Kelelahan ialah hal yang lumrah dialami oleh siapa saja karena faktor rutinitas pekerjaan ataupun saat olahraga. Tetapi apabila Anda tiba-tiba merasa lebih lelah dari biasanya saat sedang melakukan rutinitas harian seperti biasanya, kemungkinan Anda mengalami intoleransi aktivitas. Meskipun kelelahan ekstrim hanya terjadi sesekali atau ketika sedang melakukan aktivitas fisik berat, tetapi hal ini tak bisa dianggap sepele. Kelelahan ekstrim bisa menjadi indikasi dari masalah kesehatan yang lebih serius.

Apa itu intoleransi aktivitas?

Intoleransi aktivitas (exercise intolerance) merupakan suatu kondisi dimana seseorang tidak dapat menjalankan suatu aktivitas fisik yang pada umumnya dianggap dapat dilakukan oleh kelompok individu dengan jenis kelamin dan usia yang sama.

Intoleransi aktivitas dipicu oleh kelelahan ekstrim akibat kurangnya asupan energi yang ditimbulkan oleh gangguan penggunaan nutrisi makanan dan oksigen. Taraf intoleransi aktivitas dapat bervariasi, artinya kelelahan atau penurunan kapasitas aktivitas dapat timbul pada saat seseorang sedang melakukan pekerjaan sedang ataupun berat — bahkan saat sedang melakukan pekerjaan yg ringan sekalipun.

Waspada Gejala Kelelahan Ekstrim

Beberapa penyakit kronis dapat menyebabkan intoleransi aktivitas

Intoleransi aktivitas dapat dialami oleh seseorang yang menderita penyakit jantung atau gangguan mitokondria menjadi penghasil energi pada tingkat sel. Sindrom mager (malas gerak) total ini juga dapat dialami oleh seseorang yang memiliki sindrom metabolik seperti obesitas serta diabetes. Namun sebagian besar penyebab utama intoleransi aktivitas adalah gagal jantung kongestif.

Gagal jantung kongestif merupakan suatu kondisi dimana kontraksi otot jantung tidak dapat memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan darah serta oksigen dalam tubuh. Kondisi gagal jantung diastolik menyebabkan otot tidak mendapatkan cukup darah yang dibutuhkan saat sedang aktif melakukan pekerjaan, sebagai akibatnya yaitu timbulnya intoleransi aktivitas. Hal ini ditandai dengan penurunan performa dan kapasitas baik dalam berolahraga ataupun melakukan kegiatan sehari-hari.

Tanda dan Gejala Kelelahan Ekstrim

Berikut beberapa hal yg perlu dicurigai menjadi tanda intoleransi kegiatan, diantaranya:

1. Terlalu cepat lelah
Pada individu yang mengalami intoleransi aktivitas, rasa kelelahan ekstrim dapat muncul dalam hitungan menit sejak mulai beraktivitas yang ditandai dengan kehabisan napas dan otot terasa lemas.

2. Otot mudah kram
Kegiatan pemanasan merupakan salah satu cara menghindari kram otot dan menaikkan denyut jantung sesaat sebelum berolahraga. Tetapi apabila Anda mengalami intoleransi aktivitas, aktivitas pemanasan dan olahraga ringan sudah dapat menyebabkan rasa kram. Bahkan rasa nyeri yang ditimbulkan tidak hilang hingga beberapa hari.

3. Perubahan tekanan darah
Intoleransi aktivitas biasanya ditandai dengan perubahan dari tekanan darah normal saat sedang tidak melakukan kegiatan fisik, namun langsung meningkat drastis hingga menjadi tekanan darah tinggi saat berdiri atau berjalan selama beberapa menit.

4. Denyut jantung terlalu rendah
Hal ini didefinisikan sebagai tidak adanya peningkatan denyut jantung yang signifikan saat terjadi peningkatan intensitas kegiatan fisik. Jika denyut jantung terlalu rendah maka hal tersebut menunjukkan kapasitas jantung tidak bisa mencukupi kebutuhan metabolisme yang ditimbulkan oleh peningkatan intensitas aktivitas.

5. Tanda-tanda depresi
Kelelahan mental seperti penurunan konsentrasi dapat dialami seseorang setelah berolahraga, namun apabila seseorang tersebut mengalami intoleransi aktivitas, kelelahan mental tersebut bisa memicu tanda-tanda depresi seperti mudah marah , tidak bertenaga, sedih, cemas serta mengalami disorientasi (salah tujuan).

6. Mengalami cyanosis
Cyanosis merupakan kondisi perubahan rona kulit wajah menjadi pucat akibat gangguan sirkulasi darah atau gangguan distribusi oksigen ketika sedang berolahraga. Cyanosis merupakan kondisi serius dan memerlukan penanganan medis segera.

Siapa yang berisiko mengalami intoleransi kegiatan?

Intoleransi aktivitas bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa yang mengalami gangguan kesehatan yang berpotensi merusak aliran darah. Dengan kondisi yang mengalami masalah sindrom metabolik dan gangguan kesehatan jantung, gangguan sistem pernapasan, kardiovaskuler, dan sistem saraf otot serta gangguan akibat tekanan mental yang berdampak pada kondisi fisik serta perilaku.

Tips mengatasi kelelahan ekstrim (intoleransi aktivitas)

Berikut beberapa cara untuk meminimalisir munculnya intoleransi aktivitas terutama jika Anda berisiko mengalaminya :

  • Jangan berhenti berolahraga
    Sesi olahraga tidak perlu terlalu lama, asalkan dapat menaikkan intensitas asupan oksigen seperti melakukan angkat beban beberapa kali dalam seminggu dan dimulai perlahan.
  • Sering beristirahat saat berolahraga
    Olahraga dengan periode istirahat yang sering cenderung aman dan bisa ditoleransi bagi seseorang dengan gangguan jantung dan rasa kelelahan lebih mudah dikenali.
  • Perhatikan kondisi diri Anda
    Latih diri untuk mengenali kondisi fisik ketika mulai merasa kelelahan serta berhenti untuk beristirahat, setidaknya ketika tubuh mulai merasa tidak nyaman.

Demikian pembahasan artikel mengenai waspada gejala kelelahan ekstrim, semoga dapat menambah informasi dan sebagai mawas diri bagi diri sendiri maupun orang disekitar apabila terdapat gejala kelelahan ekstrim seperti disebutkan diatas.

Mengenali Depresi pada Anak

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai cara mengenali tanda depresi pada anak, mulai dari tanda atau gejala, tanda peringatan depresi, penyebab, dan cara mengatasinya.

Depresi pada anak seringkali kali tak disadari orang tua. Umumnya depresi terjadi pada orang dewasa. Faktornya dapat beragam, mulai dari tekanan pekerjaan, syarat keuangan, penyakit yang tidak kunjung sembuh serta masih banyak lagi. Namun, siapa sangka depresi dapat juga terjadi pada anak-anak.

Mengenali Depresi pada Anak

Anak yang mempunyai riwayat keluarga dengan depresi akan lebih berisiko mengalami depresi. Jika seseorang anak tampak sedih dan kesedihan itu terus berlanjut, akibatnya dapat merusak aktivitas sosial, tugas sekolah, serta kehidupan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut menderita depresi. Menurut WebMD, depresi bisa terjadi pada anak-anak serta remaja. Anak laki-laki lebih rentan mengalami depresi pada usia dibawah 10 tahun. Tetapi pada usia 16 tahun, anak perempuan mempunyai peristiwa depresi yang lebih besar .

Gejala Depresi pada Anak

Gejala depresi pada anak berbeda-beda sehingga tiap anak memiliki tanda dan gejala yang tidak sama. Pada umumnya gejala depresi tidak disadari sebab dianggap menjadi perubahan emosional serta psikologis yang normal. Oleh karena itu, tidak jarang depresi ini tidak terdiagnosis serta tidak diobati. Gejala primer depresi diantaranya pada kesedihan, rasa putus asa, dan perubahan suasana hati. Umumnya anak menunjukkan kesedihan atau suasana hati yang jelek sama halnya dengan orang dewasa yang mengalami depresi.

Mengenali Depresi pada Anak

Berikut ini beberapa gejala yang terjadi saat anak depresi antara lain :

  • Mudah marah
  • Perasaan sedih serta putus asa
  • Menarik diri
  • Kehilangan minat dan ketertarikan pada kegiatan yg disukai
  • Nafsu makan bisa meningkat atau justru menurun
  • Perubahan pola tidur (insomnia atau tidur berlebihan)
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah lelah
  • Perasaan mudah bersalah dan tidak berharga
  • Keluhan fisik, seperti sakit kepala atau sakit perut

Gejala diatas belum tentu sama dialami anak yang satu dengan yang lainnya. Pada kenyataannya, sebagian besar anak mengalami tanda-tanda yang tidak sama, pada waktu yang tidak sama, dan kondisi yang berbeda juga. Meskipun beberapa anak bisa terus beraktifitas baik pada lingkungan yang terstruktur. Umumnya anak dengan depresi berat akan banyak mengalami perubahan nyata, seperti kehilangan minat di sekolah, prestasi akademik menurun, hingga perubahan tampilan.

Indikasi Peringatan Depresi

Orang tua harus sangat waspada terhadap tanda-tanda yang mungkin menunjukkan bahwa anak mereka berisiko melakukan bunuh diri. Indikasi peringatan sikap bunuh diri pada anak-anak mencakup :

  • Perubahan makan, tidur, berkegiatan
  • Isolasi sosial, termasuk isolasi dari keluarga
  • Bicara tentang bunuh diri, keputusasaan, atau ketidakberdayaan
  • Meningkatnya tindakan dari sikap yang tidak diinginkan (seksual/perilaku)
  • Peningkatan sikap pengambilan risiko
  • Sering terjadi kecelakaan
  • Penyalahgunaan zat (narkoba dan sejenisnya)
  • Fokus pada hal-hal yang tidak wajar dan negatif
  • Bicara perihal kematian
  • Lebih sering menangis atau berkurangnya aktualisasi diri emosional
  • Kecenderungan memberikan barang pada orang lain

Penyebab Depresi Anak

Depresi yang terjadi pada anak bisa ditimbulkan beragam faktor. Salah satunya, yaitu kesehatan fisik, persoalan pada kehidupan, riwayat keluarga, lingkungan, serta faktor genetik. Depresi bukanlah gangguan yang bisa hilang secara spontan tanpa terapi yg sempurna.

Bisakah Depresi Dicegah?

Anak yang memiliki riwayat keluarga dengan depresi akan lebih berisiko mengalami depresi. Misalnya pada anak dengan orang tua yang menderita depresi, akan cenderung mengalami depresi pada usia yang lebih belia. Selain itu, anak-anak atau remaja yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan berisiko lebih besar mengalami depresi.

Cara Mengatasi Depresi Anak

Anda wajib segera menjadwalkan kunjungan ke dokter apabila anak Anda mengalami gejala dan indikasi peringatan depresi seperti diatas selama minimal dua minggu. Kunjungan ke dokter akan membantu pengobatan yang sesuai untuk depresi. Pilihan pengobatan untuk anak-anak dengan depresi  sama seperti pada orang dewasa, yakni psikoterapi (konseling) dan pengobatan. Dokter akan menyarankan psikoterapi terlebih dahulu. Jika tidak terdapat perubahan secara signifikan baru mempertimbangkan obat antidepresan sebagai terapi tambahan. Kombinasi psikoterapi serta pengobatan biasanya paling efektif pada mengobati depresi.

 

Demikian pembahasan mengenai mengenali depresi pada anak. Semoga dapat menambah wawasan pembaca dan semakin waspada apabila terdapat gejala dan indikasi peringatan depresi seperti yang disebutkan diatas. Jika telah terdapat gejala-gejala tersebut, segerakan untuk mengunjungi dokter dan psikiater, sehingga dapat ditangani lebih dini.