Teori Mengenai Cultural Lag

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai definisi cultural lag, bagaimana teori mengenai cultural lag, dan bagaimana dampak yang ditimbulkan dari cultural lag.

Teori Mengenai Cultural Lag

Definisi Cultural Lag

Cultural lag dalam bahasa Indonesia disebut dengan ketertinggalan budaya. Dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan: Membangun Kewarganegaraan Demokratis, ketidakcocokan budaya adalah elemen lain dari budaya yang berubah.

Ketertinggalan budaya ini terjadi karena tidak aktifnya salah satu faktor budaya. Cultural lag juga dikenal sebagai ketidakseimbangan satu faktor budaya untuk mengakomodasi faktor budaya lain yang telah berubah. Sementara itu, William F. Ogburn menjelaskan teori pergeseran budaya dari perspektif sosiologis. Teori tersebut menjelaskan bahwa budidaya dan pertumbuhan pasti akan selalu berbeda. Secara keseluruhan teori, ketertinggalan budaya menjelaskan perbedaan tingkat kemajuan budaya yang berbeda. Dimana budaya tumbuh cepat, sedang budaya yang lain berjalan lambat.

Perbedaan tingkat kemajuan adalah bagian dari mobilitas budaya. Konsep ketertinggalan memiliki beberapa arti tersendiri, seperti periode waktu munculnya penemuan baru dan penerimaan penemuan tersebut.

Ketertinggalan budaya tersebut merupakan bagian dari fenomena sosial yang sering terjadi di masyarakat. Perubahan budaya menggambarkan apa yang terjadi dalam suatu sistem sosial ketika mengalami perubahan dan pengaruhnya tidak seimbang. Seringkali, cultural lag merupakan akibat dari gesekan antara penemuan baru dengan adat istiadat masyarakat sekitar yang ada.

Menurut kamus sosiologi, cultural lag adalah periode antara masuknya perkembangan teknologi baru (budaya material) ke dalam suatu budaya atau suatu masyarakat. Cultural lag dapat didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan suatu budaya untuk mengejar inovasi teknologi. Ketertinggalan budaya juga bisa disebut ketidaksesuaian budaya.

Teori Mengenai Cultural Lag

Istilah cultural lag diciptakan oleh William F. Ogburn pada tahun 1992 dalam bukunya “Changing Society with Respect for Culture and Primitive Nature”. Cultural lag atau ketertinggalan budaya adalah tahap yang terjadi sesaat setelah budaya non-material berjuang untuk beradaptasi dengan kondisi material yang baru.

Ogburn menemukan bahwa budaya material cenderung berkembang dan maju lebih cepat daripada budaya non-material. Kebudayaan mengacu pada gagasan, kebiasaan, pemikiran, perilaku dan segala sesuatu yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya memiliki dua sisi, dengan material dan tanpa material.

Aspek material mengacu pada elemen budaya yang lebih nyata, seperti teknologi, pakaian, mobil, telepon, dan apa pun yang dapat dilihat dan disentuh daripada diamati. Aspek tidak berwujud mengacu pada bagian budaya yang tidak berwujud, seperti bahasa, ideologi, norma, nilai, gerak tubuh, budaya modern dll.

Ogburn percaya bahwa budaya material cenderung berkembang pesat, sedangkan norma-norma sosial cenderung menolak perubahan dan berkembang jauh lebih lambat.

Dampak yang Timbul dari Cultural Lag

Perubahan dalam masyarakat, terutama yang berkaitan dengan budaya, seringkali membawa dampak. Dampak dari pergeseran budaya adalah menimbulkan goncangan sosial dengan cara berpikir baru, tindakan baru atau aktivitas baru.

Hal ini dapat menyebabkan berbagai jenis konflik, terutama yang bertentangan dengan nilai-nilai tradisional. Misalnya, masyarakat dengan cara pandang yang lebih konservatif yang menginginkan budaya lamanya cenderung tetap sama dengan leluhurnya. Sementara itu, kelompok lain dengan visi yang lebih progresif menginginkan budaya mereka berubah seiring waktu.

Ketertinggalan budaya menciptakan masalah bagi masyarakat dengan cara yang berbeda. Perbedaan yang diciptakan oleh budaya lag menimbulkan masalah sosial dan konflik. Efek pergeseran budaya biasanya terjadi ketika ada ilmu atau teknologi baru.

Ketertinggalan budaya dianggap sebagai masalah etika yang penting karena kegagalan untuk mengembangkan konsensus sosial yang luas tentang penggunaan teknologi modern yang tepat dapat menyebabkan runtuhnya solidaritas sosial, dan konflik sosial muncul.

Memperoleh Vendor yang Berkualitas

Memperoleh Vendor yang Berkualitas

Cara Memperoleh Vendor yang Berkualitas

Saat ini sudah terdapat aneka macam vendor yang dapat kita temukan dengan mudah dimana saja. Setiap vendor akan berupaya untuk memberikan barang dan jasa yang menarik untuk menarik perhatian perusahaan atau konsumen. Hal tersebut tentu akan sangat menyulitkan pihak perusahaan dalam memperoleh vendor yang berkualitas baik. Oleh karena itu, berikut ini terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan ketika mencari vendor yang berkualitas baik.

  1. Cek Variasi Produk yang Disediakan
    Semakin banyak variasi produk yang ditawarkan oleh pihak vendor, maka semakin mengagumkan juga kualitas vendor tersebut. Sehingga kita tidak perlu mencari vendor yang lain lagi. Sebab, vendor tersebut sudah menyediakan seluruh keperluan yang diharapkan oleh perusahaan.
  2. Harga sesuai standar
    Dengan memberikan harga yang sesuai dengan standar bahan produknya. Bila menemukan vendor yang menawarkan harga terlalu murah, maka pihak perusahaan wajib waspada dan hati-hati. Karena bisa saja kualitas yang dimiliki dibawah rata-rata atau dibawah standar.
  3. Kapasitas Pelayanan
    Hal selanjutnya yang wajib diperhatikan ketika menentukan vendor adalah dengan memastikan kapasitas pelayanan dalam proses menentukan harga. Semakin bagus pelayanan yang diberikan oleh pihak vendor, maka harga yang ditawarkan juga akan lebih tinggi. Berlaku juga untuk sebaliknya.
  4. Cek referensi
    Kita dapat meminta pihak vendor untuk memberikan beberapa referensi yang dibutuhkan. Bila vendor tersebut terlihat ragu serta enggan memberikan referensi tersebut, maka lebih baik memilih perusahaan vendor lain.
  5. Rekomendasi dari Pihak Lain
    Untuk bisa memperoleh vendor yang tepat, pihak perusahaan bisa meminta rekomendasi dari pihak yang pernah bekerjasama dengan vendor tertentu. Pihak perusahaan bisa menanyakan beberapa hal terkait vendor tersebut dari kolega atau pihak lain. Umumnya mereka akan menyampaikan beberapa pendapat dengan jujur terkait hal tersebut.

Perbedaan Vendor dan Supplier

Istilah tersebut kerap kali dipergunakan didalam rantai pasokan. Vendor dan supplier digunakan untuk menunjukkan pihak tertentu guna menyediakan suatu produk. Perlu dipahami bahwa ternyata keduanya mempunyai perbedaan. Berikut ini beberapa penjelasan perbedaan vendor dan supplier.

Vendor bisa menjadi Supplier dan sebaliknya

Vendor umumnya menjual suatu produk yang berasa dari distributor dari waktu ke waktu kepada pelanggan dalam jumlah kecil. Sedangkan supplier umumnya memasok jenis layanan atau barang tertentu ke Produsen dalam jumlah yang besar. Istilah tersebut memang tak jarang membingungkan, karena tidak sedikit dari pemilik usaha yg memainkan peran ganda, yaitu menjadi supplier dan juga menjadi vendor.

Namun agar tidak terlalu resah, penting untuk tau bahwa vendor adalah pihak yang menjual barang maupun jasa kepada pihak lain yang bukan konsumen tingkat akhir serta memiliki tujuan untuk menjual kembali barang tersebut. Jika seperti itu, maka vendor tersebut mampu dianggap sebagai supplier. Begitu pun sebaliknya, Bila supplier menyediakan barang ataupun jasa pada konsumen taraf akhir, maka supplier tersebut mampu disebut vendor.

Perbedaan sesuai fungsinya

Jika berdasar pada fungsi keduanya, vendor mempunyai peran menjadi penyedia barang serta jasa dan memiliki tugas utama yaitu memenuhi semua kebutuhan barang ataupun jasa untuk perusahaan tertentu. Sedangkan supplier artinya pihak yang menyediakan sumber utama dari rantai pasokan.

Mereka umumnya menyediakan barang dan jasa kepada para produsen. Namun terkait rekanan usaha, vendor akan bekerjasama langsung dengan para pengguna jasa maupun produk. Sementara supplier akan melakukan hubungan bisnis yang terhubung dari satu bisnis ke bisnis lain. Vendor sendiri mempunyai tujuan yaitu menjual atau menyediakan barang ataupun jasa kepada konsumen tingkat akhir. Sedangkan supplier memiliki tujuan untuk menyediakan barang maupun jasa kepada para produsen yang memerlukannya.