Bagaimana Tanda & Dampak Bullying

Setelah mengetahui apa pengertian bullying, penyebab bullying serta jenis-jenisnya, pada artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana tanda & dampak dari perilaku bullying.

Tanda-tanda Anak Terkena Bullying

Sebagai orang tua atau guru wajib peka terhadap tanda-tanda bullying yang terjadi pada anak. Apabila terlambat menyadari, tidak menutup kemungkinan anak akan mengalami depresi berat. Berikut ini terdapat beberapa tanda seorang anak terkena bullying :

  • Sering tidur larut malam, bahkan tidak tidur sama sekali
  • Nilai mata pelajaran perlahan menurun
  • Tak berminat makan, pendiam, dan mudah tersinggung
  • Menarik diri berasal pergaulan serta muncul ketakutan terhadap lawan jenis
  • Tidak pernah membicarakan soal pertemanannya di sekolah atau murka saat ditanya hal tersebut
  • Sangat protektif terhadap alat-alat elektronik yang dimilikinya, seperti HP atau komputer
  • Krisis percaya diri dan gaya berpakaian berubah
  • Acapkali meminta uang untuk alasan yang mungkin kurang jelas atau mencurigakan
  • Ada luka memar di wajah, tangan, punggung, dan bagian tubuh lainnya secara tiba-tiba.

Bagaimana Tanda & Dampak Bullying

Dampak dari Perilaku Bullying

Terdapat beberapa imbas atau dampak dari perilaku bullying yang mampu berbahaya untuk kesehatan mental seseorang, yaitu :

  1. Masalah Psikologis
    Korban bully tak jarang menunjukkan adanya gejala masalah psikologis, bahkan setelah perundungan berlangsung. Kondisi yang acapkali muncul ialah depresi dan gangguan kecemasan. Selain itu, korban bully juga mampu mengalami tandagejala psikosomatis, yg membuat problem psikologis memicu gangguan di kesehatan fisik.
  2. Gangguan tidur
    Dampak bullying yang bisa terlihat jelas ialah gangguan tidur. Para korban bullying acapkali kesulitan buat tidur yg nyenyak. Sekalipun bisa tidur, enggak jarang saat tersebut justru dihiasi menggunakan mimpi buruk .
  3. Tidak bisa menyatu dengan orang-orang di sekitar
    Anak dan orang dewasa yang mengalami bullying secara tidak langsung ditempatkan pada status sosial yang lebih rendah dari rekan-rekannya. Hal ini membuat korban bully jadi tak jarang merasa kesepian, terabaikan, serta berujung pada turunnya rasa percaya diri.
  4. Gangguan prestasi
    Anak-anak korban bullying cenderung akan mengalami kesulitan pada mencapai prestasi belajar. Mereka akan kesulitan untuk berkonsentrasi di kelas, acapkali tidak masuk sekolah, dan tidak diikutsertakan pada kegiatan yang terdapat di sekolah.
  5. Dampak jangka panjang
    Dampak bullying sering masih dirasakan korban, meski belasan bahkan puluhan tahun setelah insiden tersebut berlangsung. Akibat bullying dalam jangka panjang ini jarang terlihat, akan tetapi justru inilah yang paling membuat korban merasa lebih tersiksa.

Apabila menjadi salah satu korban bullying, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, diantaranya yaitu :

  • Temui seseorang yang kamu percaya dan beri tahu pada mereka apa yang terjadi padamu.
  • Jikalau bullying terjadi di sekolah, beri tahu seorang pengajar atau penasihat sekolah dan tanyakan apa yang bisa dilakukan untuk menindaklanjuti hal itu. Bisa jadi sekolah memiliki kebijakan tentang bullying dan terdapat langkah-langkah untuk menanganinya.
  • Jangan takut untuk melaporkan tindakan bullying pada pihak berwewenang. Jikalau kamu berani, tandanya kamu menyelamatkan dirimu sendiri dan korban bullying lainnya.
  • Kalau bisa, saat mulai terdapat  tanda-tanda bullying kepadamu tunjukkan sifat berani serta percaya diri supaya pembully berpikir ulang untuk melakukan tidakan itu padamu berulang kali.

Demikian pembahasan mengenai bagaimana tanda & dampak dari perilaku bullying. Semoga kita semakin waspada dengan tanda-tanda bullying yang bisa saja ada di sekitar lingkungan.
Semoga Bermanfaat.

Mengenal Jenis-Jenis Bullying

Bullying adalah pola perilaku, bukan insiden yang terjadi sekali-kali. Biasanya, pelaku bullying berasal dari status sosial atau posisi kekuasaan yang lebih tinggi, seperti anak-anak yang lebih besar, lebih kuat, atau dianggap populer sehingga bisa menyalahgunakan posisinya. Pada artikel ini akan mengenal  jenis-jenis bullying menurut Kemenppa RI :

Mengenal Jenis-Jenis Bullying

Bullying dengan kontak fisik langsung

Bullying fisik artinya tindakan intimidasi yang dilakukan sebagai usaha mengontrol korban dengan kekuatan yang dimiliki pelaku. Jenis bullying ini seperti tindakan memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang pada ruangan, mencubit, mencakar, memeras, serta mengganggu barang milik orang lain.

Jenis bullying ini memiliki dampak buruk yang terlihat dengan jelas oleh ‘mata telanjang’. Bullying di sekolah yang berkaitan dengn fisik terjadi ketika seseorang melakukan tindak kekerasan untuk mendapatkan kendali atas targetnya. Meski begitu, korban perundungan fisik juga terkadang tidak mengalami bekas-bekas yang bisa dipandang mata.

Bullying dengan kontak verbal langsung

Bullying lisan ialah jenis perundungan dengan memakai kata-kata, pernyataan, serta sebutan atau panggilan yang menghina. Pelaku bullying verbal biasanya akan terus melakukan penghinaan, merendahkan, dan melukai korban. Tindakan mengancam, mempermalukan, merendahkan, Mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put- downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, sampai berbagi berita masuk pada jenis bullying verbal.

Misalnya dicemooh secara lisan oleh orang lain, dengan dipanggil “si kolot”, “si gendut”, “si buruk “, serta sebagainya. Perundung memilih sasaran mereka sesuai caranya melihat, bertindak, atau berperilaku. Penindas verbal biasanya menargetkan anak-anak dengan kebutuhan khusus, misalnya pengidap down syndrome. Bullying verbal sangat sulit untuk diidentifikasi, karena ‘serangan’ hampir selalu terjadi saat tidak ada orang dewasa.

Bullying Non-Verbal langsung

Jenis Bullying non-verbal langsung dilakukan tanpa kata-kata. Namun, pelaku akan melakukan gerakan menghina korban secara langsung, bahkan mengancam dan disertai dengan bully fisik dan lisan. Contoh tindakan bullying non-verbal langsung, seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, hingga mengejek.

Bullying Non-verbal tidak langsung

Bullying non-verbal tidak langsung atau disebut agresi relasional. Ini adalah jenis bullying yang dilakukan secara emosional. Namun, bullying jenis ini kerap luput dari perhatian orang tua serta pengajar di sekolah. Padahal, bullying non-verbal tak langsung punya dampak yang tidak kalah berbahaya. Tindakan mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, hingga mengirimkan surat kaleng juga masuk pada jenis tindakan bullying ini.

Cyber Bullying

Pelaku juga kini menyasar korban di dunia maya dan tindakan ini dianggap dengan cyber bullying. Pelaku bakal menargetkan korban di media online dengan cara menyakiti orang lain melalui rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik, mempermalukan, hingga melecehkan. Biasanya, orang tua serta guru tak menyadari jenis bullying ini. Maraknya penggunaan media sosial serta internet perlu ditanggapi menggunakan bijak.

Contohnya, ketika akun media sosial anak dibanjiri komentar negatif yang menyakitkan atau data pribadi seperti foto serta video disebarkan tanpa seizin anak.Pelaku cyberbullying sering mengatakan hal-hal yang tak berani mereka katakan secara langsung. Teknologi menghasilkan mereka merasa anonim, terisolasi, dan terlepas asal situasi.

Sexual Bullying atau pelecehan seksual

Sexual bullying atau pelecehan seksual biasanya menimpa anak perempuan. Tetapi, korbannya bisa jadi merupakan laki-laki atau anak perempuan lainnya. Sexual bullying adalah tindakan berulang serta berbahaya yang menargetkan seseorang secara seksual.

Contoh sexual bullying ialah komentar kasar, gerakan vulgar, sentuhan tanpa persetujuan ke 2 belah pihak, hingga memanggil seorang dengan nama yang tak pantas. Dalam masalah yang lebih parah, sexual bullying mampu membuka pintu untuk melakukan kekerasan seksual. Penindasan seksual terdiri dari tindakan berulang, berbahaya, serta memalukan yang menargetkan seseorang secara seksual. Biasanya si korban menerima ejekan atau julukan yang bernada seksual atau melecehkan.

 

Demikian pembahasan mengenal jenis-jenis bullying. Dengan adanya pembagian seperti diatas, maka kita dapat semakin mengetahui jenis bullying seperti apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Memahami Bullying dan Penyebabnya

Sikap bullying mengakibatkan seorang anak Sekolah Dasar di Tasikmalaya meninggal dunia. Mirisnya, tindakan tidak terpuji ini seringkali terjadi di lingkungan pendidikan, mulai dari bangku Sekolah Dasar sampai universitas. Namun, korban bullying biasanya takut untuk menceritakan atau meminta pertolongan karena trauma serta ancaman dari pelaku. Meski sudah banyak memakan korban, masih ada saja laporan bullying. Oleh sebab itu, krusial bagi masyarakat untuk memahami apa itu bullying dan apa saja penyebabnya agar mampu melakukan tindakan yang dibutuhkan saat hal itu terjadi. Hal ini karena bullying mempunyai akibat yang serius untuk kesehatan mental korban.

Apa Itu Bullying?

Kementerian Pemberdayaan wanita dan proteksi Anak (Kemenppa) RI menyebutkan bullying atau penindasan/perundungan merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

Memahami Bullying dan Penyebabnya

Perbuatan yang dimaksud bisa berupa hal-hal yang menyakiti secara fisik, misalnya memukul, mendorong, dan lain-lain. Bisa juga menyakiti secara ekspresi, contohnya mengejek penampilan, menghina kemampuan, dan masih banyak lagi. Tidakan menjauhi dan mengucilkan seorang juga termasuk tindakan bullying.

Bullying tidak hanya terjadi pada orang-orang yang saling kenal atau seringkali bertemu secara pribadi. Di zaman yang telah maju ini, bullying bisa dilakukan lewat telepon, mengirim pesan melalui SMS atau email, dan meninggalkan komentar jelek pada media sosial. Istilah bullying melalui gadget (gawai) biasa dikenal dengan istilah cyberbullying.

Faktor Penyebab Bullying

Terdapat beberapa faktor penyebab seseorang melakukan bullying, diantaranya yaitu :

  1. Faktor Keluarga
    Kehidupan keluarga yang tidak harmonis juga bisa menjadi penyebab muncul pelaku bullying. Orang tua yang tak jarang bertengkar serta melakukan tindakan agresif biasanya mendorong anak melakukan bullying. Orang tua seperti ini juga tidak mampu memberikan pengasuhan yang baik.
  2. Anak dengan Kontrol Diri Rendah
    Pelaku bullying bisa hadir karena kontrol diri yang rendah. Mereka mungkin sebelumnya menjadi korban kekerasan, kemudian menganggap dirinya selalu terancam serta biasanya bertindak menyerang sebelum diserang. Pelaku bullying jelas tidak mempunyai perasaan dan tanggung jawab terhadap tindakan yang sudah dilakukan. Pembully selalu ingin mengontrol, mendominasi, dan tidak menghargai orang lain. Mereka melakukan bullying menjadi bentuk balas dendam.
  3. Rasa Iri
    Rasa iri ini bisa timbul akibat korban mempunyai hal yang sebenarnya sama istimewanya dengan pelaku. Selain itu, seorang juga mungkin melakukan bully untuk menutupi jati dirinya sendiri.
  4. Kurangnya Rasa Empati

    Saat melihat korban, pelaku bullying tidak merasa ikut merasakan apa yang dirasakan korban, sebagian mungkin justru merasa suka saat melihat orang lain takut. Semakin menerima reaksi yang diinginkan, semakin pelaku bullying suka melakukan aksinya.

  5. Mencari Perhatian
    Kadang pelaku bullying tidak sadar jika apa yang dilakukannya termasuk ke dalam penindasan, karena sebenarnya apa yang dilakukannya merupakan mencari perhatian. Jenis yang satu ini paling mudah untuk diatasi. Caranya dengan memberikan perhatian yang positif sebelum pelaku mencari perhatian dengan cara yang negatif.
  6. Kesulitan Mengendalikan Emosi
    Anak yang kesulitan untuk mengatur emosi bisa berpotensi menjadi pelaku bullying. Ketika seseorang merasa marah dan putus harapan, perbuatan menyakiti dan mengintimidasi orang lain bisa saja dilakukan. Jika sulit untuk mengendalikan emosi, maka masalah kecil saja bisa membuat seseorang terprovokasi dan meluapkan emosinya secara berlebihan.
  7. Ada Supporter
    Teman sebaya yang menjadi supporter atau penonton membuat pelaku bullying makin menjadi-jadi. Secara tidak langsung, kehadiran suporter membantu pembully memperoleh dukungan kuasa, popularitas, dan status.
  8. Kebijakan Sekolah
    Kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, dan interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman serta dihargai adalah dasar pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. Bila tidak terpenuhi, pelajar bakal bertindak semena-mena.
    Mereka akan berusaha mengontrol lingkungan dengan melakukan bullying. Jadi, manajemen dan pengawasan disiplin sekolah yang lemah menyebabkan munculnya bullying di sekolah.
  9. Media Massa
    Tidak sepenuhnya media massa menyajikan konten yang mendidik dan sesuai untuk umur anak. Banyak tontonan kekerasan yang ada pada media massa membuat anak terdorong untuk mencontoh dan melakukan hal serupa di sekolah. Peran orang tua juga diperlukan untuk mengontrol konsumsi serta tontonan anak supaya tak ada bibit-bibit pembully.

Demikian pembahasan mengenai memahami bullying dan penyebabnya. Semoga setelah mengetahui informasi ini, dapat menambah wawasan pembaca.

Mengatasi Trauma Pasca Bencana

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana cara mengatasi trauma pasca bencana. Bencana, baik itu bencana alam maupun yang terjadi akibat kecerobohan manusia, pasti akan meninggalkan dampak emosional yang besar bagi para korbannya. Meski seseorang bisa saja tidak mengalami cedera fisik yang serius, reaksi emosional akibat trauma ini mampu menyebabkan efek samping serius jika tidak ditangani dengan baik.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang menjadi korban bencana, memahami respons terhadap peristiwa yang menyedihkan bisa membantu mereka mengatasi perasaan, pikiran, dan sikap secara efektif, serta membantu mereka dalam proses pemulihan.

Mengatasi Trauma Pasca Bencana

Reaksi Umum Manusia terhadap Bencana

Setelah bencana, orang acapkali merasa heran, resah, bahkan tidak bisa mencerna berita yang menyedihkan. Begitu reaksi awal ini mereda, biasanya mereka bisa mengalami beraneka macam pikiran dan sikap.

Terdapat beberapa tanggapan umum yang bisa terjadi pada seseorang usai selamat asal bencana, antara lain:

  • Perasaan yang Intens atau tak Terduga
    Korban bencana mungkin akan merasa cemas, gugup, kewalahan, atau sedih yang mendalam. Mereka juga mungkin merasa lebih mudah tersinggung atau murung dari biasanya.
  • Perubahan Pola Pikir dan sikap
    Korban bencana mungkin akan terbayang peristiwa itu dengan jelas. Ingatan ini bisa terjadi tanpa alasan yang jelas dan bisa mengakibatkan reaksi fisik seperti detak jantung yang cepat atau berkeringat. Mungkin sulit buat berkonsentrasi atau membentuk keputusan. Pola tidur dan makan juga bisa terganggu, beberapa orang mungkin makan berlebihan dan terlalu banyak tidur, sementara yang lain mengalami kurang tidur serta kehilangan nafsu makan.
  • Sensitif terhadap Lingkungan
    Bunyi sirine, suara keras, bau terbakar, atau kondisi lingkungan lainnya bisa merangsang ingatan akan mala yang mengakibatkan kecemasan yg meningkat. “Pemicu” ini dapat disertai dengan ketakutan bahwa peristiwa yang membuat stres akan terulang kembali.
  • Ketegangan di korelasi Interpersonal
    Usai bencana, perseteruan akan meningkat, seperti perselisihan yang lebih sering dengan anggota keluarga serta rekan kerja. Korban bencana mungkin juga menjadi penyendiri, terisolasi, atau meninggalkan aktivitas sosial yang biasa dilakukan
  • Tanda-tanda Fisik yang Berhubungan dengan Stres
    Sakit kepala, mual, serta nyeri dada bisa terjadi dan memerlukan perawatan medis. Kondisi medis yang sudah ada sebelumnya juga dapat memengaruhi stres terkait bencana.

Cara Mengatasi Trauma Pasca Bencana

Penelitian membagikan kebanyakan orang relatif tangguh serta berasal waktu ke waktu serta bisa bangkit kembali dari insiden traumatis. Orang biasa mengalami stres segera setelah bencana, tetapi dalam beberapa bulan kebanyakan orang dapat kembali beraktivitas seperti yang mereka lakukan sebelum bencana.

Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membangun kesejahteraan emosional dan mendapatkan rasa kendali setelah bencana. Caranya diantaranya yaitu :

  • Beri waktu untuk menyesuaikan diri.
    Masa-masa sesudah bencana bisa menjadi momen yang sangat sulit dalam hidup. Biarkan diri meratapi kehilangan yang di alami serta cobalah bersabar dengan perubahan kondisi emosional.
  • Minta Dukungan.
    Krusial juga untuk meminta dukungan dari orang yang mau mendengarkan dan berempati dengan situasi yang sedang dialami. Dukungan sosial ialah komponen kunci untuk pemulihan pasca bencana. Keluarga serta teman bisa menjadi sumber penting, juga dapat menemukan dukungan dan kesaman dari mereka yang juga selamat dari bencana.
  • Komunikasikan Pengalamanmu.
    Ekspresikan apa yang dirasakan dengan cara apa pun yang kamu rasa nyaman, seperti berbicara dengan keluarga atau teman dekat, membuat buku harian, atau terlibat dalam kegiatan kreatif.
  • Bergabung dengan kelompok pendukung.
    Temukan kelompok pendukung yang dipimpin oleh para profesional yang terlatih dan berpengalaman. Kelompok dukungan acapkali tersedia untuk para korban bencana dan diskusi kelompok bisa membantumu menyadari bahwa kamu tidak sendirian.
  • Terapkan Gaya hidup Sehat untuk Mencegah Stres.
    Makan makanan dengan gizi seimbang dan perbanyak istirahat. Jika kamu terus-terusan mengalami kesulitan tidur, anda mungkin mampu menemukan beberapa bantuan melalui teknik relaksasi. Hindari alkohol dan obat-obatan karena dapat menjadi pengalihan yang berbahaya.
  • Lakukan kembali Rutinitas Harian.
    Anda mampu melakukan beberapa hal seperti tidur dan bangun dengan siklus yang teratur atau mengikuti program olahraga. Bangun beberapa rutinitas positif untuk menerima sesuatu yang sudah ditunggu selama masa sulit ini, misalnya melakukan hobi, berjalan-jalan di taman, atau membaca buku yang bagus.

Menghadapi Trauma pada Anak

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami stress berat. ketika telah mempunyai anak, menjadi orang tua sangat perlu untuk mengetahui gejala trauma yang bisa saja timbul pada anak. Pada artikel kali ini akan membahas tentang apa saja penyebab trauma anak hingga cara membantu menghadapi trauma pada anak.

Menghadapi Trauma pada Anak

Hampir kebanyakan orang pernah mengalami insiden traumatis pada hidupnya dan ini dapat dialami pada masa kanak-kanak. Trauma psikis yang dialami oleh anak bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari kehilangan orang terdekat, kecelakaan, sampai perundungan (bullying), kekerasan pada rumah tangga, sampai pelecehan seksual.

Penelitian menunjukkan bahwa trauma berat bisa membahayakan perkembangan otak dan berdampak negatif pada perkembangan sikap dan fisik. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali tanda trauma pada anak, sehingga bisa segera ditangani.

Ketika trauma yang dialami anak tak ditangani dengan benar, maka tumbuh kembangnya akan terhambat. Oleh sebab itu, orang tua perlu tahu apa saja gejala yang bisa dialami pada anak yang mengalami trauma berat.

Penyebab Trauma

Terdapat banyak faktor atau insiden yang mampu memicu terjadinya trauma psikis di anak, beberapa diantaranya yaitu :

  • Tinggal beserta orang tua atau pengasuh dengan penyakit mental yang signifikan.
  • Menjadi korban rasisme pada lingkungan sosial.
  • Kehilangan orang yang dicintai karena keadaan, misalnya kematian, perceraian, atau bencana.
  • Bencana maupun terorisme.
  • Kekerasan di rumah, sekolah, atau komunitas sosial.
  • Menyaksikan atau mengalami kekerasan pada rumah tangga.

Tanda Trauma pada Anak

Sama halnya dengan orang dewasa, saat bayi atau balita mengalami insiden yang mengancam jiwa atau traumatis, tentu timbul ketakutan luar biasa. Selain perasaan takut, hal ini juga dapat memunculkan beberapa reaksi umum serta tanda, diantaranya yaitu :

  • Menghindari orang, kawasan, serta hal-hal tertentu
  • Perubahan prestasi akademik
  • Perubahan perilaku
  • Mengalami kekhawatiran atau kecemasan
  • Sulit fokus
  • Hiperaktif
  • Tampak selalu sedih
  • Mengisolasi diri asal keluarga serta sekitarnya
  • Bereaksi berlebihan terhadap situasi yang dulunya bukanlah masalah besar
  • Mengalami gangguan makan
  • Sulit tidur.
  • Emosi yang tidak stabil

Dampak Trauma

Jika tidak ditangani dengan segera, trauma masa kecil bisa memberikan dampak jelek pada jangka panjang. Gambaran pengalaman traumatis mempunyai efek seumur hidup, salah satunya terhadap prestasi akademik anak.

Anak mungkin akan memilih untuk menghindari sekolah dan pekerjaan sekolah, menunjukkan ketidakpedulian, menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap figur otoritas di lingkungan akademik, hingga mengalami penurunan kemampuan akademik secara keseluruhan.

Seiring bertambahnya usia, ini juga dapat bermanifestasi secara fisik. dari pusat Pengendalian Penyakit (CDC), pengalaman traumatis dapat mempertinggi risiko fisik, seperti kanker, penyakit jantung, diabetes hingga bunuh diri.

Membantu Anak Menghadapi Trauma

Melihat buah hati mengalami trauma menyakitkan dalam hidupnya tentu menjadi tamparan keras bagi setiap orang tua. Alih-alih menyalahkan diri sendiri dan keadaan, lebih baik melakukan beberapa hal berikut untuk membantu anak dalam menghadapi traumanya.

  • Perbanyak pengetahuan tentang hal-hal seputar trauma, terutama trauma yang dialami oleh anak. Hal ini juga berlaku bagi pengasuh atau kerabat yang terlibat mengurus anak.
  • Sadari faktor apa yg memicu trauma anak.
  • Pelajari tanda stres pada anak atau tanda yang timbul ketika beliau mengalami trauma, dan bagaimana cara menghadapinya.
  • Bawa anak ke terapis kesehatan mental untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
  • Jika anak direkomendasikan untuk mengonsumsi obat, pastikan ia minum obat secara teratur.
  • Berikan ruang yang aman secara emosional pada anak agar ia dapat mengekspresikan diri saat menghadapi situasi yang memicu trauma.
  • Usahakan untuk tetap merawat diri, baik secara fisik maupun psikis. Bila memang merasa kesulitan, segera cari bantuan dari orang lain atau berkonsultasi dengan terapis.

Menghadapi trauma memang bukan hal yang mudah, terlebih pada usia anak-anak. Jika tidak ditangani dengan sempurna, trauma pada masa kecil bisa berpengaruh terhadap masa depan bahkan fisik anak. Oleh karena itu, kenali tanda-tanda maupun gejala trauma pada anak dan konsultasikan pada terapis untuk penanganan yang tepat.

Faktor yang Mempengaruhi Childfree

Tekanan sosial yang dihadapi oleh pasangan yang memutuskan untuk childfree, terutama di Indonesia mungkin akan sangat tinggi. Mengingat penjelasan tentang perspektif budaya kolektif warga Indonesia, mengenai pernikahan serta memiliki anak yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada artikel kali ini akan membahas mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang memutuskan untuk childfree.

Salah satu alasan yang relatif menarik pasangan memilih untuk childfree ialah karena berkaitan dengan isu maupun persoalan lingkungan. Mereka menilai bahwa populasi penduduk bumi semakin meningkat, tetapi populasi tersebut tidak sejalan dengan kesehatan bumi dan ketersediaan pangan. Umumnya merasa tidak yakin merawat maupun mengasuh anak. sehingga hal tersebut pun sebagai suatu kekhawatiran bagi pasangan.

Faktor yang Memutuskan Childfree

Terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi seorang perempuan atau pasangan memutuskan untuk childfree, diantaranya yaitu :

1. Latar Belakang Keluarga

Alasan pertama yang menyebabkan seseorang atau pasangan memilih untuk childfree artinya sebab ia mempunyai masa lalu sendiri tentang keluarganya. Ia tumbuh dan melihat apa yg terjadi pada keluarganya, sehingga apa yang dia lihat semasa kecil juga akan mempengaruhi pilihannya saat ia dewasa.
Begitu juga tentang kenangan yang kurang baik dan perasaan kecewa yang didapatkan selama masa anak-anak. Kedua hal tersebut bisa menjadi alasan terbesar, kenapa pasangan atau seorang wanita memilih buat childfree.

Latar belakang keluarga pun dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk childfree, yaitu saat seseorang mempunyai keluarga yang memberikan kebebasan padanya untuk memilih dan menetapkan segala hal. Sehingga, ketika ia memutuskan untuk childfree, ia tidak akan mendapatkan tekanan dan tanpa penghakiman dari pihak keluarga. Justru sebaliknya, ia akan merasa didukung.

2. Isu lingkungan

Over populasi menjadi isu yang cukup hangat saat ini. Populasi manusia semakin banyak di bumi, tapi tak sebanding dengan jumlah kerusakan lingkungan dan ketersediaan pangan yang meningkat .
Sebagian individu, baik yang sudah berpasangan atau bahkan masih sendiri pun menyadari isu tersebut, sehingga mereka merasa prihatin dengan isu tersebut serta menentukan untuk childfree. Harapannya, tentu saja mereka tidak ingin menambah populasi yang sudah ada.

3. Kondisi Finansial

Membesarkan dan merawat anak bukanlah hal yang mudah, diperlukan persiapan mental dan finansial yang matang. Ketika pasangan telah menetapkan untuk childfree, kemungkinan mereka sudah memperhitungkan kemampuan finansial.

Apabila pada perhitungan tersebut, rupanya pasangan maupun individu merasa tidak mampu, maka mereka pun menetapkan untuk childfree. Sehingga, mereka akan lebih fokus mengalokasikan dana untuk kebutuhan pribadi yang nominalnya tidak sedikit.

4. Mempunyai kekhawatiran, bahwa mereka tidak mampu membesarkan anak dengan baik

Biasanya pasangan atau individu cenderung memiliki kekhawatiran, bahwa mereka tak bisa membesarkan anak dengan baik. Atau pasangan atau individu tersebut belum matang serta belum siap secara mental untuk memiliki seseorang anak. Hal ini dikarenakan kondisi mental setiap orang berbeda-beda. Akan muncul kekhawatiran  apakah anak akan merasa senang , apakah kebutuhannya tercukupi, apakah ia mampu membesarkan anak dengan mental serta fisik yang sehat dan lain sebagainya.

5. Memiliki Problem Maternal Instinct

Maternal instinct artinya kondisi dimana kemampuan emosional dari seorang wanita, khususnya seorang ibu dalam memilih hal-hal yang benar dan salah saat beliau membesarkan seorang anak.

Sebagian orang mungkin memiliki anggapan, bahwa maternal instinct memiliki peran yang penting untuk dimiliki oleh seorang ibu, alasannya adalah sebab maternal instinct berhubungan dengan kemampuan seseorang ibu untuk melindungi anak-anaknya.

Beberapa perempuan merasa khawatir, bahwa mereka tak memiliki maternal instinct, dan tidak percaya diri bahwa mereka akan menjadi seorang ibu yang baik sesuai dengan harapan anak atau dirinya.

6. Kondisi fisik tertentu

Beberapa perempuan atau pasangan mungkin mempunyai kondisi fisik tertentu yang membuat dirinya tidak bisa mempunyai seorang anak, misalnya mengidap penyakit keturunan dan lain-lain.

7. Alasan personal

Faktor yang terakhir merupakan karena alasan personal dari seseorang atau pasangan, hanya saja mereka memilih untuk childfree, sebab mereka merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Bahkan, beberapa orang mempunyai pandangan bahwa akan baik secara finansial dan fisik untuk menentukan childfree.

Demikian pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perempuan atau pasangan memutuskan untuk childfree. Karena apapun kondisi yang terjadi dalam suatu hubungan, merupakan hak masing-masing individu.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

 

Di Indonesia, istilah childfree memang belum begitu dipahami oleh masyarakat luas, istilah ini mulai seringkali didengar bahkan menjadi bahasan diskusi pada aneka macam media. Pada artikel kali ini akan membahas mengenai apa itu childfree, bagaimana dampak childfree untuk kesehatan, dan apakah pasangan bisa hidup bahagia dengan dengan prinsip childfree.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

Apa itu Childfree?

Berdasarkan laman HeylawEdu, istilah childfree mengacu pada keputusan seseorang ataupun pasangan untuk tidak memiliki keturunan atau tidak mempunyai anak. Selain itu, menurut Oxford Dictionary istilah childfree artinya suatu kondisi dimana seseorang atau pasangan tak memiliki anak karena alasan utama yaitu pilihan.

Keputusan childfree ini digunakan oleh seorang perempuan untuk menentukan kebebasannya sebagai seseorang ibu maupun mengalami proses hamil sampai melahirkan. Sejatinya keputusan seorang perempuan atau pasangan untuk childfree adalah keputusan yang bersifat sangat personal. Meskipun begitu, keputusan ini masih dievaluasi tabu di Indonesia.

Dampak Childfree untuk Kesehatan

Keputusan childfree seorang perempuan dan pasangan, ternyata bisa berdampak pada sisi biologis atau kesehatan. Ada beberapa dampak kesehatan yang dapat dirasakan ketika seseorang perempuan juga pasangan menjalani pernikahan buat childfree.

Menurut sebuah penelitian, perempuan yang tidak memiliki anak memiliki risiko untuk memiliki kesehatan yang lebih jelek dikemudian hari. Tak hanya itu saja, kondisi kesehatan ini juga akan menaikkan risiko kematian dini. Keputusan tak mempunyai anak, juga dapat menaikkan risiko terkena kanker payudara.

Saat seorang wanita hamil dan menyusui, risiko dari terkena kanker payudara akan berkurang, karena terjadi perubahan hormonal ketika menjalani fase hamil serta menyusui.

Ketika seseorang wanita hamil, maka akan mengalami peningkatan progesteron serta mengalami penurunan estrogen, sebagai akibatnya hal tersebutlah yang menghasilkan wanita hamil mampu lebih terlindungi dari risiko terkena kanker.

Ketika seorang wanita hamil, maka ada hormon yang memiliki korelasi dengan pertumbuhan kanker yang akan berkurang juga. Oleh sebab itu, wanita yang tidak mengalami fase hamil bisa mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami kanker.

Beberapa penelitian lain menyebutkan, bahwa perempuan yang menentukan untuk childfree akan mempunyai masa hidup yang cenderung lebih panjang, serta gaya hidup yang lebih sehat. Karena mengurus anak merupakan tanggung jawab yang cukup berat dan melelahkan, baik itu secara pikiran juga fisik.

Sehingga, saat mengurus anak, pikiran yang lelah dari seorang ibu akan diikuti dengan penyakit lain seperti psikosomatik. Psikosomatik artinya suatu kondisi dimana tubuh seorang akan merasa sakit, tapi bukan karena luka melainkan sebab emosi atau pikirannya.

Ada baiknya, seseorang yang memilih buat menjalani pernikahan secara childfree, rutin buat mengecek syarat kesehatan supaya bisa mengetahui lebih dini atau bahkan bisa menurunkan risiko dari beberapa penyakit yg telah disebutkan sebelumnya.

Apakah Pasangan dapat hidup bahagia dengan Keputusan Childfree?

Di Indonesia, masyarakat memiliki perspektif budaya kolektif, dimana warga mengharapkan seseorang yang sudah memasuki usia dewasa untuk menikah dan memiliki anak. Oleh karena itu, ketika seseorang menetapkan untuk tak mempunyai anak, maka muncul keheranan bahkan tekanan sosial, dimana masyarakat akan terus menanyakan tentang kehadiran sang anak.

Selain itu, kehadiran anak, terutama bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dianggap sebagai ‘pelengkap’ dan penentu pasangan yang telah menikah akan merasa bahagia, menjadi faktor penambah rezeki serta lain sebagainya. Kehadiran anak, tentu akan membawa kebahagiaan tersendiri terutama bagi pasangan yang telah menikah. Meskipun begitu, bukan berarti bahwa pasangan yang memutuskan untuk childfree tidak dapat mencicipi kebahagiaan.

Saat pasangan mempunyai anak, maka tentu saja fokus dari ibu dan ayah akan terbagi. Ayah harus memikirkan bagaimana memperoleh penghasilan yang cukup, karena ada anggota keluarga baru yang kebutuhannya wajib dipenuhi. Sedangkan ibu tentu cenderung lebih fokus pada perkembangan anak. Diantara kesibukan ibu dan ayah, keduanya pun harus sama-sama fokus memantau serta ikut berperan pada perkembangan anak.

Hal ini akan mengakibatkan pasangan cenderung lupa bahkan tidak menerima perhatian secara penuh, terutama apabila dibandingkan dengan masa pernikahan sebelum mempunyai anak.

Ketika tidak mempunyai anak, pasangan akan lebih fokus pada diri sendiri dan pada pasangan. Kemungkinan, romansa pernikahan pun juga bisa terjaga. Meskipun tentu tidak menutup kemungkinan, bila anak bisa menyebabkan kisah cinta pernikahan hilang. Selain waktu, uang dan tenaga yang dikhususkan untuk anak, bisa digunakan untuk membantu mencapai tujuan hidup, bahkan mimpi-mimpi pasangan yang belum terwujud.

Misalnya mengejar karier, liburan keliling dunia, dan lain sebagainya. Tak pelak, saat pasangan memiliki anak, tentu fokus untuk mewujudkan impian akan sedikit lambat, terutama jika hidup secara pas-pasan.

 

Apa Saja Jenis-jenis Barcode

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai apa saja jenis-jenis barcode yang ada di dunia. Seperti kita ketahui, barcode merupakan sistem identifikasi unik yang terdiri dari garis-garis horizontal dan spasi yang memiliki panjang dan jarak yang berbeda-berbeda, yang dapat dibaca oleh mesin scanner atau kamera, dan digunakan untuk mengidentifikasi suatu data dengan tepat dan cepat.

Apa Saja Jenis-jenis Barcode

Barcode pertama kali diciptakan oleh Bernard Silver dan Norman Woodland pada tahun 1948. Mereka berhasil menemukan cara untuk mengubah informasi yang berupa teks menjadi garis-garis dan spasi yang dapat dibaca oleh mesin. Pada awalnya, barcode hanya digunakan untuk mengidentifikasi produk-produk di toko-toko kelontong, tetapi seiring dengan perkembangan teknologi, barcode mulai digunakan untuk mengidentifikasi produk-produk di berbagai bidang.

Jenis-Jenis Barcode

1. Barcode EAN-13
Barcode EAN-13 (European Article Number) adalah jenis barcode yang paling awam digunakan di dunia. Jenis ini dapat menampung sampai 13 karakter alfanumerik. Umumnya digunakan untuk mengidentifikasi produk-produk yang mempunyai informasi yang lengkap.

Barcode EAN-13 memakai simbol-simbol yg dapat dibaca oleh mesin scanner atau kamera yang terdiri dari garis-garis horizontal, vertikal, dan diagonal yang mempunyai panjang serta spasi yang berbeda-beda. Setiap simbol memiliki arti yang berbeda, sehingga dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi suatu data dengan tepat.

Barcode EAN-13 bisa dibuat dengan memakai software spesifik yang tersedia di internet atau dapat dibeli di toko-toko yang menjual peralatan komputer. Setelah dibuat, barcode EAN-13 dapat dicetak dan ditempelkan pada produk yang akan dijual. Saat produk tersebut diperiksa di kasir, mesin scanner akan membaca barcode EAN-13 yang ada serta menampilkan informasi yang terkait dengan produk tersebut, seperti harga, deskripsi, dan lain-lain.

2. Barcode UPC-A
Barcode UPC-A adalah jenis barcode yang serupa dengan barcode EAN-13, hanya saja barcode ini terdiri berasal 12 digit. Jenis UPC-A ini umumnya dipergunakan untuk mengidentifikasi produk-produk di Amerika serikat.

3. Barcode Code 39
Barcode Code 39 merupakan jenis barcode yg bisa menampung hingga 39 karakter alfanumerik. Jenis ini umumnya dipergunakan buat mengidentifikasi produk-produk yg mempunyai nama yang panjang.

4. Barcode QR Code

Barcode QR Code artinya jenis barcode yang bisa menampung sampai 4000 karakter alfanumerik. Jenis ini umumnya dipergunakan untuk mengidentifikasi produk-produk yang mempunyai informasi yang lebih lengkap.

5. Barcode Code 128
Barcode Code 128 merupakan jenis barcode yang dapat menampung hingga 107 karakter alfanumerik. Jenis ini umumnya dipergunakan untuk mengidentifikasi produk-produk yang memiliki informasi yang lebih rinci.

6. Barcode Datamatrix
Barcode Datamatrix ialah jenis barcode yang bisa menampung sampai 2.335 karakter alfanumerik. Jenis ini umumnya dipergunakan untuk mengidentifikasi produk-produk yg mempunyai informasi yang sangat lengkap.

7. Barcode PDF417
Barcode PDF417 merupakan jenis barcode yang bisa menampung sampai 1.890 karakter alfanumerik. Jenis ini umumnya dipergunakan untuk mengidentifikasi produk-produk yang mempunyai informasi yang sangat penting dan relatif banyak.

8. Barcode MaxiCode

Barcode MaxiCode merupakan jenis barcode yang dapat menampung sampai 93 karakter alfanumerik. Jenis ini umumnya digunakan untuk mengidentifikasi produk-produk yang berisi informasi yang bersifat yang sangat rahasia.

Demikian pembahasan mengenai apa itu barcode, bagaimana sejarah dan siapa tokoh penemunya, dan apa saja jenis-jenis barcode yang ada di dunia. Semoga bermanfaat.

Barcode dan Bagaimana Sejarahnya

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai apa itu barcode dan bagaimana sejarahnya, serta siapa penemu barcode dan apa saja keuntungan dan kerugian dari penggunaan barcode. Untuk memudahkan seseorang dalam mengidentifikasi barang, umumnya memakai barcode. Maka dari itu, pada bagian belakang dari suatu produk umumnya ada garis-garis yang dibarengi dengan angka.

Barcode dan Bagaimana Sejarahnya

Apa itu Barcode ?

Barcode adalah sistem identifikasi unik yang terdiri dari garis-garis horizontal serta spasi yang memiliki panjang dan jarak yang berbeda-beda. Barcode bisa dibaca oleh mesin scanner atau kamera, dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu data dengan tepat dan cepat.

Pada awalnya, barcode hanya digunakan untuk mengidentifikasi produk-produk di toko-toko kelontong, tetapi seiring dengan perkembangan teknologi, barcode mulai dipergunakan untuk mengidentifikasi produk-produk di berbagai bidang.

Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Barcode

Memakai barcode mempunyai beberapa keuntungan, di antaranya yaitu :

  • Dapat mempertinggi efisiensi dan akurasi pada pelayanan di toko,
  • Memudahkan pencarian produk
  • Dapat menyimpan info yang lebih lengkap wacana produk.
  • Proses pencarian dan pelayanan produk dapat dilakukan dengan lebih cepat dan seksama, sehingga bisa menaikkan kepuasan pelanggan dan kelancaran usaha pada toko.

Namun, terdapat beberapa kerugian dari penggunaan barcode :

  • Biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli peralatan dan aplikasi yang dibutuhkan
  • Kesulitan dalam membaca barcode yang terbaca buram atau rusak.

Meski begitu, penggunaan barcode masih disebut menjadi salah satu cara yang efektif dalam mengidentifikasi produk-produk di toko. Dengan barcode, proses pencarian dan pelayanan produk dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat, sehingga dapat menaikkan kepuasan pelanggan dan kelancaran bisnis.

Tokoh Penemu Barcode

Penemu barcode adalah Bernard Silver serta Norman Woodland. Bernard Silver lahir pada 28 Juni 1922 di New York City, Amerika serikat. Beliau ialah seseorang ilmuwan dan insinyur yang terkenal karena penemuannya pada bidang teknologi informasi.

Setelah lulus dari Universitas Columbia pada tahun 1943, Bernard Silver bekerja sebagai insinyur di Badan Riset Pertahanan Nasional (National Defense Research Committee) selama Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, dia bergabung dengan Drexel Institute of Technology di Philadelphia sebagai asisten profesor matematika.

Di Drexel, Bernard Silver bertemu dengan Norman Woodland, seorang mahasiswa matematika yang sedang mencari inspirasi untuk skripsinya. Mereka mengembangkan ide untuk mengubah informasi teks menjadi garis-garis dan spasi yang bisa dibaca oleh mesin.

Bernard Silver meninggal pada tanggal 24 Mei 1963 di Philadelphia, Amerika Serikat. Beliau dikenal sebagai salah satu penemu barcode yang berjasa dalam mempertinggi efisiensi serta akurasi pada pelayanan di toko-toko kelontong.

Sejarah Barcode

Barcode pertama kali diciptakan oleh Bernard Silver dan Norman Woodland pada tahun 1948. Mereka berhasil menemukan cara untuk mengubah informasi berupa teks menjadi garis-garis dan spasi yang bisa dibaca oleh mesin. Mereka memakai cahaya ultraviolet untuk mengukur jeda antara garis-garis serta spasi pada barcode, sehingga dapat dibaca oleh mesin scanner. Penemuan ini sangat bermanfaat dalam menaikkan efisiensi dan akurasi pada pelayanan di toko-toko kelontong.

Setelah penemuan barcode, Bernard Silver serta Norman Woodland terus mengembangkan teknologi barcode untuk menaikkan kapasitas penyimpanan serta kecepatan pembacaannya. Pada tahun 1952, mereka mendirikan perusahaan yang bernama International Business Machines (IBM) untuk menjual alat-alat serta software barcode kepada toko-toko kelontong di seluruh dunia.

Pada tahun 1973, UPC-A (Universal Product Code) menjadi standar barcode pertama yang digunakan di Amerika serikat. UPC-A dapat menampung hingga 12 karakter alfanumerik, serta umumnya dipergunakan untuk mengidentifikasi produk-produk kecil seperti camilan atau minuman.

Pada tahun 1980-an, teknologi barcode mulai berkembang pesat, terdapat beberapa jenis barcode yang ditemukan, di antaranya adalah Barcode EAN-13, Barcode Code 39, Barcode QR Code, Barcode Code 128, Barcode Datamatrix, Barcode PDF417, dan Barcode MaxiCode. Masing-masing jenis barcode memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga harus dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Demikian pembahasan artikel kali ini mengenai apa itu barcode dan bagaimana sejarahnya, serta siapa penemu barcode dan apa saja keuntungan dan kerugian dari penggunaan barcode. Semoga bermanfaat.